Pakailah Parfum di Wajah

0 732

Inilah kebiasaan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dalam memakai parfum. Beliau mengenakannya di kepala sehingga tampak berkilau rambutnya dan membasahi jenggot dengan parfum pula. Kita memperoleh gambaran tentang cara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memakai parfum ini dari hadis tentang memakai wewangian sebelum berihram.

Marilah sejenak kita dengarkan penuturan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبُ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيْصَ الدَّهْنِ فِيْ رَأْسِهِ وَ لِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ رواه مسلم

“Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kalau ingin berihram memakai wangi- wangian yang paling wangi yang beliau dapatkan kemudian aku melihat kilatan minyak di kepalanya dan jenggotnya setelah itu.” (HR.Muslim).

Dan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pula:

كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى وَبِيْصَ اْلمِسْكِ فِيْ مَفْرَقِ رَسُوْلِ اللهِ وَ هُوَ مُحْرِمٌ

“Seakan-akan aku melihat kilatan misik (minyak wangi Kasturi) di bagian kepala Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau dalam keadaan ihram.“ (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kedua hadis shahih tersebut kita dapatkan beberapa pelajaran berharga. Pertama, memakai wewangian sebelum berihram itu boleh dan lebih dari itu merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau memakai wewangian terbaik yang beliau miliki. Dengan demikian ketika memakai wewangian telah dilarang, yakni sesudah mengambil miqat hingga tahallul, maka bebauan yang tidak sedap lebih dapat kita hindari karena badan kita telah harum. Kedua, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memakai wewangian dengan mengoleskannya di kepala hingga rambut beliau tampak berkilat karena basah oleh parfum. Demikian pula jenggot. Ini memberi gambaran bahwa beliau memakainya pada rambut dan wajah hingga jenggotnya pun basah. Ketiga, jika sekiranya tidak memungkinkan membasahi kepala kita dengan parfum, setidaknya kita dapat mengoleskannya pada jenggot sebagaimana kita lihat pada hadis kedua. Keempat, sedapat mungkin untuk hal tersebut kita memakai yang terbaik dari parfum yang kita miliki. Dan di antara berbagai macam parfum, Kasturi (yang sungguh-sungguh asli murni) merupakan parfum terbaik, sebagaimana kita dapati dalam hadis shahih Muslim bahwa “الْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيبِ. Kasturi adalah sebaik-baik wewangian.”

Mengapa saya perlu menyebutkan “Kasturi yang sungguh-sungguh asli”? Karena ternyata sangat banyak parfum yang disebut Kasturi, padahal bukan Kasturi yang asli atau campurannya sangat baik sehingga aroma, warna maupun teksturnya sangat jauh berbeda dibandingkan Misik Abyadh yang sesungguhnya, yakni yang asli dan murni. Dengan demikian, manfaatnya pun berbeda. Bahkan boleh jadi parfum yang hanya dinamai Kasturi padahal sangat sedikit unsur Kasturinya atau malah sama sekali tidak ada karena yang sedikit itu pun bersifat sintetis, tidak ada kegunaan apa pun selain sebagai wewangian. Sekedar gambaran, parfum Kasturi yang merupakan campuran antara pewangi sintetis dan bahan-bahan nabati hanya dapat dipakai untuk bagian luar (external use only). Apalagi jika sepenuhnya sintetis. Hal ini sangat berbeda dengan Misik Abyadh yang asli dan murni (shafi).

Lalu, apakah memakai wewangian di rambut, wajah hingga jenggot hanya berlaku saat akan memakai pakaian ihram sebelum miqat? Tidak. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memakai parfum dengan cara itu dalam berbagai situasi. Artinya, itu merupakan kebiasaan beliau.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كنت أطيب النبي صلى الله عليه وسلم بأطيب ما يجد, حتى أجد وبيص الطيب في رأسه ولحيته

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Aku dulu biasa memarfumi Nabi dengan minyak terbaik yang ada, hingga aku melihat sisa-sisa parfum itu di (rambut) kepala dan jenggot beliau.” (HR. Bukhari).

Apakah ini berarti memakai parfum di bagian kepala bagi seorang laki-laki berlaku untuk semua jenis parfum? Iya, sejauh parfum tersebut memiliki sifat yang sama sebagaimana parfum yang dipakai oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yakni aman dan bermanfaat bagi rambut serta kulit wajah. Bukan sekedar harum. Ini secara fisik. Adapun manfaat lainnya merupakan tambahan. Yang demikian ini tidak berlaku untuk parfum sintetis yang menggunakan bahan-bahan kimia. Tepatnya saya tidak berani menjamin.

Khusus Misik Abyadh (Misik Putih atau Kasturi), mengingat manfaatnya yang sangat baik bagi rambut, maka ada yang menamai juga sebagai المسك الشعر.(Hair Musk atau Misik Rambut). Begitu pula karena besarnya faedah bagi pengantin baru untuk bermalam pertama, maka Misik Thaharah yang merupakan bagian lebih ringan dari Misik Abyadh disebut juga sebagai المسك العروس (Bridal Musk atau Misik Pengantin). Bukan berarti tidak bermanfaat bagi pengantin yang baru 20 atau 25 tahun menikah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Leave A Reply

Your email address will not be published.