Obat yang Sering Dilupakan

0 205

Kiblatmuslimah.com – Astaghfirullahal ‘adzim. Ampuni kami, ya Rabb. Hampir setahun, pandemi  masih berada di bumi ini. Dalam hati pasti berharap-harap, “Ya Allah, kapan musibah ini berakhir?” Sebuah harapan yang setiap hari selalu dipertanyakan di benak. Mungkin sekarang saatnya muhasabah, merenungi tindak tanduk terhadap tubuh yang Allah titipkan beserta perlakuan pada bumi.

 

Setahun virus ini berkeliaran, membuatnya semakin dekat. Tak jarang tetangga, teman bahkan saudara pernah terinfeksi virus yang lahirnya di Wuhan, Cina. Panik, sedih serta waswas pasti menyelimuti benak, “Kenapa hal ini bisa terjadi?” Mungkin protokol kesehatan tidak dipatuhi, terlalu longgar dengan tetangga atau keluarga sendiri. Jawablah dalam hati.

 

Semua telah terjadi. Setelah pencegahan gagal maka upaya selanjutnya adalah mengobati. Namun sayang, obat khusus virus Covid-19 ini belum ditemukan. Obat yang tersedia di rumah sakit adalah pereda gejala. Obat yang sesungguhnya adalah tubuh sendiri. Tubuh kuat, imunitas yang selalu fit adalah tameng manjur dalam melawan berbagai virus dan bakteri termasuk Covid-19.

 

Amunisi apa untuk menciptakan tubuh sehat dan imunitas yang kuat? Gizi. Yah, makanan yang sehat dan bergizi adalah penopang tubuh yang bugar. Kemudian pikiran. Pikiran yang tenang, rileks dan bahagia adalah penyempurna jiwa yang kuat. Serta berdoa. Doa adalah senjata tak terlihat yang sejatinya jangan pernah terlewatkan setiap hari.

 

Sebenarnya pasien Covid murni, mayoritas penderitanya dapat sembuh bila tidak disertai penyakit penyertanya atau biasa disebut komorbid. Penderita Covid selain butuh gizi, memerlukan bahagia. Bahagia adalah formula yang sangat penting untuk menciptakan kesembuhan seseorang. Tak jarang para penderita Covid yang merasa turun mentalnya, merasa terasing dan dijauhi. Padahal, penderita dan lingkungan harus menciptakan kondisi yang saling mendukung. Penderita harus menerima dan tahu diri bahwa ia memang harus diisolasi agar tidak menularkan ke sekitarnya. Lingkungannya membantu keluarga penderita untuk memenuhi kebutuhan selama isolasi.

 

Isolasi, kondisi sendiri. Mentalnya perlu dibangun agar bangkit dari keterpurukan. Ciptakan perasaan bahagia pada penderita dengan mengirimkan motivasi dan pesan bahwa ia mampu dan tak sendiri. Dengan bahagia, ia dapat lebih tenang menjalani rasa sakitnya. Bila waktunya di dunia telah usai maka pergi dengan suka cita tanpa ada rasa berkecil hati.

 

Jika ingin sembuh, hal yang bisa dilakukan adalah pastikan gizi tercukupi, bahagia dan jangan lupa selalu berdoa. Wallahu a’lam.

 

-fauz-

Leave A Reply

Your email address will not be published.