Nyalakanlah Cahaya Ilmu di Rumahmu!

0 120

Kiblatmuslimah.com – Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka akan menjadikannya sebagai orang yang mau belajar ilmu syar’i. Begitu juga sebuah keluarga. Jika Allah menghendakinya baik, maka akan menyibukkan para penghuninya untuk belajar ilmu syar’i.

Ilmu adalah cahaya, penerang dalam kegelapan. Benteng dari serangan syubhat dan sesatnya pemikiran. Apalagi di akhir zaman sekarang, banyak sekali serangan syubhat dan sesatnya pemikiran yang menyerang di setiap pikiran manusia. Serangan tersebut banyak membanjiri televisi dan media sosial saat ini. Setiap hari disantap oleh semua anggota keluarga.

Apapun posisi Anda saat ini dalam keluarga, bertanggung jawab untuk menyalakan cahaya ilmu di rumah. Sebagaimana Allah Ta’alla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sedangkan Qatadah mengemukakan, “Hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah dari durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah.”

Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”

Dari uraian di atas, dapat diambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina keluarga.

  1. Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
  •    Sebagaimana hadits dari Umar, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan  sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan yang diniatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
  1. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
  •    Hal ini tersurat dengan jelas dalam At Tahrim yaitu, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Di sini dikatakan “peliharalah dirimu” terlebih dahulu baru setelah itu dikatakan “keluargamu”.
  1. Bekal ilmu adalah yang utama
  •    Sebagaimana yang dikatakan Adh-Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya …”, dari kata “mengajari” jelas sekali tersirat bahwa posisi setiap muslim yang “mengajari” haruslah berilmu, sehingga bisa menyempurnakan kekurangan orang lain yang ia ajari.
  1. Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri sendiri dan keluarga dari api neraka. Dalam tafsir Ibnu Katsir dari surat Al-Baqarah ayat 2, pada bagian “hudal lil muttaqiin”, dijelaskan definisi taqwa sebagai berikut:
  •    Menurut suatu riwayat, Umar ibnul Khatthab ra pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’ab tentang makna taqwa. Ubay ibnu Ka’ab balik bertanya, “Pernahkah engkau menempuh jalan yang beronak duri?” Umar menjawab, “Ya, pernah.” Ubay ibnu Ka’ab bertanya lagi, “Kemudian apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Aku bertahan dan berusaha sekuat tenaga untuk melampauinya.” Ubay ibnu Ka’ab berkata, “Itulah yang namanya taqwa.”

Terkadang sangat disayangkan jika ada aktivis yang bersemangat untuk berdakwah di luar, mengajarkan ilmu syar’i kepada masyarakat atau menjadi guru ngaji kepada anak-anak lainya, akan tetapi melupakan kewajiban dakwah kepada keluarganya sendiri. Dia melupakan cahaya ilmu syar’i yang bisa menerangi di tengah keluarganya, mungkin disebabkan lebih sulit mendakwahi.

Padahal, bisa jadi ketika dia mendakwahi keluarganya belum segigih ketika bermasyarakat. Mestinya, keluarga yang berhak lebih dulu merasai nikmatnya cahaya ilmu din. Bukankah kita ingin keluarga kita di dunia, juga menjadi keluarga di surga?

Semoga dengan artikel ini bisa menjadi pemantik untuk mewujudkan impian menyalakan cahaya ilmu di tengah keluarga kita. Sehingga sekeluarga bisa bergandengan tangan, bersama-sama meraih ridha Allah dan menuju ke surga-Nya. Allahul Musta’an.

 

Oleh: Fyrda Ummu Farhat.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.