Nasihat untuk Ayah

0 132

Kiblatmuslimah.com – Sesungguhnya Allah telah mengamanahkan kepadamu putra-putrimu. Dia telah mempercayakan kepadamu pendidikan dan pengasuhan mereka. Engkau adalah kunci penentu kebahagiaan atau kesengsaraan mereka. Allah ‘Azza wa Jalla telah menitipkannya kepadamu dalam keadaan fitrah. Sebagaimana Rasulullah Muhammad Ibnu Abdillah bersabda, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).” (HR. Bukhari).

 

Dalam rangka melaksanakan kewajiban nasihat terhadap sesama muslim, kami haturkan beberapa butir nasihat berikut:

 

1. Didiklah anak-anak untuk melaksanakan shalat lima waktu ketika usia mereka menginjak 7 tahun, sebab shalat adalah tiang agama.

 

2. Ajarkanlah kepada mereka hukum-hukum Islam dan adab-adabnya.

 

3. Khusus untuk anak-anak putri, biasakanlah kepada mereka berbusana muslimah yaitu busana yang menutupi tubuh. Termasuk wajah dengan bercadar dan kedua telapak tangan. Ini adalah pakaian yang merupakan ciri khas seorang muslimah dan perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepada setiap muslimah.

 

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab (33): 59.

Adapun syarat-syarat busana muslimah tersebut ialah:

(1) menutupi seluruh tubuh termasuk wajah (cadar) dan telapak tangan. (Menurut jumhur ulama, wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat – red),

(2) bukan berfungsi sebagai perhiasan,

(3) kainnya harus tebal (tidak tipis),

(4) harus longgar (tidak ketat) sehingga tidak menggambarkan sesuatu bagian (lekukan) dari tubuhnya,

(5) tidak diberi wewangian atau parfum,

(6) tidak menyerupai pakaian laki-laki,

(7) tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.

 

4. Wahai para ayah, perhatikanlah teman-teman bergaul mereka dan jangan sampai bersahabat kecuali dengan orang shalih. Khusus untuk anak putri, janganlah mereka sampai berteman kecuali dengan teman putri yang shalihah.

 

Sungguh tidak sedikit terlihat di tengah kita, anak dari keluarga yang baik menjadi rusak karena salah pergaulan. Waspadailah wahai para ayah, jangan sampai pacaran karena sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Ia adalah budaya barat yang telah merusak umat Islam.

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, janganlah berduaan (khalwat) dengan wanita tanpa disertai mahramnya. Sesungguhnya setan adalah pihak ketiganya.” (HR. Ahmad)

 

Beliau juga bersabda, “Jangan sampai seseorang di antara kalian berduaan dengan wanita kecuali disertai mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sesungguhnya Islam sangat memuliakan wanita. Wanita adalah kehormatan yang harus dipelihara dan makhluk lemah yang wajib dilindungi. Islam tidak menghalalkan wanita pergi berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya karena setan menjadi pihak ketiganya.

 

Wahai para ayah, jika engkau mencintai putrimu maka hendaklah memikirkan keselamatan mereka. Tidak hanya keselamatan di dunia, justru yang lebih penting di akhirat.

 

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu menggerjakan yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim (66): 6).

 

Rasulullah bersabda, “Ada dua golongan di antara wanita yang berpakaian akan tetapi seperti telanjang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

 

Wahai para ayah, jagalah putrimu. Ia adalah amanat dari Allah kepadamu. Didiklah mereka dengan adab-adab Islam. Tanamkanlah rasa malu dan ‘iffah (menjaga kesucian) karena rasa malu itu adalah perhiasan termahal bagi wanita. Hindarkanlah mereka dari pergaulan bebas yang merusak. Jauhkanlah dari media yang menebarkan pornografi dan kerendahan akhlak. Niscaya kebahagiaan dunia dan akhirat akan selalu menyertaimu dan putra-putrimu.

 

Salam taqdim, ba’da Dzuhur, Jakarta, 02 Desember 2019

Dibuat oleh saudaramu yang mendoakan kebaikan untukmu,

 

Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd.

(Guru SMA Negeri di Kabupaten Bekasi Jawa Barat) ditulis bersama suami, Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al-Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd.I.  Hafidzhahullah  (Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan).

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.