Narasi dalam Teater-Nya

0 119

 

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Kiblatmuslimah.com – Satu ayat menampar diri yang lupa bersyukur pada-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, entah bagaimana diriku saat ini. Sebuah kisah yang saya torehkan untuk kalian, sahabat surgaku.

Entah kapan semua ini berawal. Memang benar, aktor yang hebat adalah yang selalu berprasangka baik kepada Sang Penggenggam skenario. Namun, apalah daya aku ini.

Saat itu, aku sedang gigih kuatkan tekad untuk semangat melanjutkan studi menjadi seorang bidan. Angan telah menggambarkan ekspetasi di lembaran semu, kuliah di universitas ternama di kotaku. Dengan kepribadian yang ingin kulejitkan, agar semua orang tahu bahwa aku bisa. Namun, harus menerima kenyataan bahwa semua itu memang ekspektasi semu.

Setelah banyak orang yang mendukung, aku dibuat untuk sadar diri dan memikirkan banyak pihak. Melalui diskusi keluarga, salah satu alasan yaitu orang tua hampir pensiun dari staf jabatan di sebuah pimpinan desa. Ditakutkan jika di tengah jalan, mereka tak mampu membiayaiku di prodi bidan. Aku hanya bisa diam menanggapi keputusan tersebut. Aku menerimanya, karena yakin terdapat solusi lain di belakang. Walau nanti sesuai dengan ekspektasiku atau tidak. Harus tahu bahwa ego tak boleh di depan.

Nyatanya, aku salah berpikir. Semua itu berputar pada porosnya. Mungkin sama dengan berputarnya skenario taqdirku. Keputusan akhir keluarga dengan melanjutkan studi di tempat yang tak terkira olehku. Entah kemauan dan kemampuan dari mana sehingga berani mengambil keputusan yang jauh dari perkiraan awal tujuanku.

Keberadaanku saat ini, di sebuah bangunan yang kokoh. Di bawah naungan kebaikan. Aku yakin ini alur Sutradara untuk aktor macam diriku. Sebuah Ma’had Aly dengan prodi yang searah kemampuanku, di salah satu kota besar. Aku bersyukur, langkah dan hati ini berada di tempat yang menyadarkan diri akan makna kehidupan. Sehingga aku bisa banyak aktif di organisasi dan dipercaya oleh beberapa staf asatidz untuk memimpin kelas serta tangan kanan mereka. Aku dikenal baik dan aktif oleh penghuni Ma’had.

Namun, di saat posisiku sedang semangat menghidupkan diri di Ma’had dan menjalani setiap tugas ditempat ini, Allah Swt mengujiku. Sebuah terpaan yang tak pernah kusangka semua ini akan teralami olehku. Suatu hari perutku sakit, aku anggap remeh. Tak berselang lama kambuh lagi, hingga kucoba periksakan diri ke rumah sakit. Setelah hasil pemeriksaan keluar, diriku kaget dengan lidah terasa kelu dan kaki tak berkutik. Usia baru saja berstatus mahasiswi muda berapa bulan  dengan vonis terdapat daging tumbuh di luar rahim, seperti tumor. Tak bisa terbayangkan oleh wanita, terlebih insan macam diri ini.

Semua itu tak membuatku melemah dan menyerah. Aku pasrahkan semua ini pada Pemegang rencana. Aku tetap terlihat aktif di hadapan kawan-kawanku. Semua nampak seperti biasa, tertutup dari pihak-pihak khusus. Aku putuskan untuk mengambil cuti belajar selama 3 bulan. Hingga akhirnya semua pihak mengetahui kondisiku.

Selama itu, aku fokuskan diri untuk pengobatan dengan jalur terapi. Hingga 6 kali terapi di tempat yang berbeda pun, tak memberi tanda perubahan membaik. Sampai pada masa cuti berakhir dan kuputuskan untuk berhenti dari Ma’had, tempat bernaung dalam keberkahan yang sudah kusukai. Posisi saat itu, aku tetap bersabar dan tak menyerah, karena yakin akan ada hal terindah dari semua ini.

Satu tahun berlalu, sakit itu tak ada perubahan, dengan kondisi perut seperti ibu hamil sekitar 5 bulan. Di balik itu semua, aku tetap gigih thalibul ilmi. Aku mencoba mendaftarkan diri di sebuah daurah ushul fiqh di daerah timur Jawa. Namun, lagi-lagi bukan skenario terbaik, aku disarankan oleh pihak pimpinan daurah untuk fokus pada penyembuhan sakit. Karenanya pula, kondisiku tak memenuhi syarat pendaftaran. Aku hanya bisa bersujud pada Allah Swt, meminta kekuatan dan kesabaran dari-Nya.

Aku tetap stabilkan dan aktifkan diri, membantu menjadi seorang pengurus di sebuah pondok pesantren di kotaku. Aku tak ingin hanya diam oleh sakit dan ingin biasa saja dengan kondisi seperti. Hingga aku putuskan kembali untuk mencoba mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi swasta dengan prodi yang jauh dari perkiraan yakni sarjana hukum. Aku percaya, skenario terbaik ada di tangan-Nya.

Dokter yang menerapi menyarankan untuk memilih jalan operasi, mengambil daging yang mendiam di area rahimku. Hal ini karena kondisiku tak banyak perubahan dan ditakutkan akan semakin membesar. Sempat berada di titik tak tahu-menahu dalam kebimbangan. Tak berani memberikan keputusan berat, walau semua pihak keluarga telah menyerahkan keputusan ada di tanganku. Akhirnya kuputuskan tetap dalam jalur terapi. Sudah banyak orang direpotkan dan dikecewakan, terlebih keluargaku.

Apalah diri yang banyak dosa. Tak bisa mengelak akan skenario terbaik-Nya. Saat ini, tengah kuliah, dalam fase terapi serta tugas kepengurusan pondok yang kutapaki. Semua orang punya ranah perjuangan masing-masing. Mungkin begitulah ranahku. Perjuangan itu berat, tidak ada yang mudah, butuh kesabaran yang luas. Allah Swt tidak menjanjikan hidup ini mudah. Namun, di setiap kesusahan, ada kemudahan.

 

إنّ مع العسريسرى  !

Selama kaki ini belum menapak surga, ujian hidup tidak akan berhenti. Untuk kalian sahabat, aku selalu berusaha untuk melewati semua dengan kuat. Jadi, kalian juga pasti bisa lewati perjuangan hidup. Bertahanlah, hingga pelangi itu datang. 

 

@zienonasholihah

Leave A Reply

Your email address will not be published.