Merawat Kekaguman

0 223

Kiblatmuslimah.com – Ustadz Budi Ashari pernah menasihati, “Jika semua hal yang sedang dirasa dan dialami diceritakan bahkan di media sosial, itu namanya bocah.”

 

Bercerita tentang diri sendiri di media sosial itu boleh saja, asal sekadarnya. Seperti teori permen, yang tersembunyi justru lebih diminati, lebih berharga, lebih istimewa. Namun, akan menjadi hal yang berbeda saat apa yang diceritakan mengandung peringatan ataupun nasihat untuk sesama. Bukankah orang cerdas selalu membicarakan ide di saat yang lain membicarakan ego?

 

Menyembunyikan diri sebenarnya hanyalah sarana tuk merawat kekaguman. Di saat tak ada orang lain yang tahu, cerita itu hanya kau kisahkan pada kekasih halalmu nanti. Ide dan misi-misimu selalu kau bisikkan di telinga partner perjuangan.

 

Bangunlah sebuah rahasia! Rahasia prestasi ketaatan yang secara diam-diam menyemaikan benih kekaguman pada sosoknya. Sebuah rahasia yang membuatmu tetap bertahan bersamanya di saat keburukan sedikit demi sedikit menampakkan wujud aslinya.

 

Merawat kekaguman dengan merahasiakan rasa bahagia bahkan derita. Menahan rindu dengan kecuekan sehingga ia tak merasa berat meninggalkanmu sendirian. Menahan derita agar perjalanan dakwahnya tak tertahan karena kita.

 

Mencari satu saja kelebihannya yang mampu membuatmu selalu kagum padanya. Melapangkan dada akan kelemahan dirinya sehingga membuahkan sabar yang pahalanya tak mampu ditakar. Selama kesalahan mampu ditolerir (ditoleransi, red) akal dan syariat, maka berpisah bukanlah syarat.

 

Rawatlah, jagalah, simpanlah kelebihannya dengan selalu melukiskannya dalam hati, sehingga kekaguman tetap kan terpatri. Semata hanya mempertahankan visi misi agar senantiasa berjalan, bukan disetir oleh nafsu egoisme diri yang menuntut tuk dipuaskan. Jagalah hatimu, rahasiamu dan sebagian pengalamanmu yang hanya bisa kau ceritakan berdua saja, membuat dirinya merasa spesial, istimewa.

 

Ibarat garam Himalaya yang hanya menimbulkan kekaguman bagi pemiliknya atau penikmatnya saja, bukan pemandangnya. Hal yang seperti ini mencarinya menjadi cukup sulit, hingga nilai tukarnya tak sedikit. Maka rawatlah kekaguman atas dasar Islam, iman dan ihsan. Yakni merawatnya bukan karena manusia, tapi Allah semata.

 

Oleh: A. Madjid

Leave A Reply

Your email address will not be published.