Merajut Iman dalam Perang Badar

0 102

Kiblatmuslimah.com – Ikatan yang amat erat dan mulia. Ikatan yang menghancurkan kelaliman. Ikatan yang hanya dimiliki oleh kaum muslimin. Itulah ikatan iman. Ikatan karena kesatuan iman terhadap Robb-Nya.

Allaah Ta’ala berfirman di dalam QS. Al-Hajj: 19

هذان خصمان اختصموا في ربهم

Artinya: “Inilah dua golongan (mukmin dan kafir)  yang bertengkar, mereka saling bertengkar karena Robb mereka.”

Di dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, disebutkan beberapa kisah-kisah imani dalam Perang Badar. Kisah yang membuat kita haru, betapa para sahabat benar-benar generasi terbaik umat ini. Pengorbanan serta aplikasi keimanan mereka tidak hanya bualan bibir saja. Namun mereka benar-benar menjual diri, jiwa dan harta mereka untuk Allah Ta’ala. Berperang melawan kerabat, sahabat bahkan orang tuanya sendiri tak menjadikan mereka gentar untuk setia di barisan kaum muslimin. Itulah salah satu gambaran betapa besar cinta mereka terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sifat yang dipuji Allah Ta’ala atas kaum mukmin adalah mereka keras terhadap orang-orang kafir, dan lemah lembut terhadap orang-orang mukmin.

Berikut beberapa kisahnya:

  1. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa ada beberapa tokoh dari Bani Hasyim dan selain mereka yang dipaksa ikut. Mereka tidak punya kepentingan untuk berperang melawan kita. Barangsiapa menjumpai salah seorang di antara Bani Hasyim, maka janganlah ia membunuhnya. Barangsiapa menjumpai Abu al-Bukhturi bin Hisyam maka janganlah dia membunuhnya. Dan barangsiapa menjumpai al-Abbas bin Abdul Muththalib maka janganlah dia membunuhnya. Sebab ia hanya diapaksa ikut.”

            Maka berkatalah Abu Hudzaifah bin Utbah, ”Apakah kami harus membunuh orang-orang tua kami, anak-anak, saudara-saudara dan keluarga kami, sementara kami membiarkan al-Abbas hidup? Demi Allah, jika aku bertemu dengannya niscaya akan aku bungkam dia dengan pedangku.”

            Hal itu sampai ke telinga Rosulullaah Shallallaahu ‘alayhi wa Sallam. Sehingga beliau berkata kepada Umar bin Al-Khaththab, ”Wahai Abu Hafsh, apakah wajah paman Rasulullah harus disabet dengan pedang?” Maka berkatalah Umar, “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya dengan pedang. Demi Allah, dia sungguh sudah menjadi munafik.”

            Sejak itu, Abu Hudzaifah selalu berkata, “Aku masih saja tidak merasa tenang dengan ucapan yang telah aku lontarkan ketika itu dan aku masih saja khawatir. Kecuali bila hal itu dapat ditebus dengan mati syahid di jalan Allaah.” Dan ternyata, dia memang gugur syahid pada perang Yamamah.

  1. Abu al-Bukhturi juga merupakan salah seorang yang dilarang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk dibunuh. Hal ini karena dia merupakan orang Quraisy yang paling menahan diri dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam saat beliau berada di Mekkah. Dia tidak pernah menyakiti ataupun melakukan sesuatu yang dibenci beliau. Di samping itu, dia juga termasuk orang yang menggagalkan Shahifah embargo terhadap keluarga besar Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Sekalipun demikian, Abu al-Bukhturi tetap dibunuh juga. Pasalnya, al-Mujdzir bin Ziyad al-Balawi bertemu dengannya di dalam pertempuran. Ketika itu dia sedang bersama seorang temannya dan sama-sama berperang. Maka berkatalah al-Mujdzir kepadanya, “Wahai Abu al-Bukhturi, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melarang kami membunuhmu.”

Lalu dia menjawab, “Bagaimana dengan temanku ini?

Al-Mujdzir berkata, “Demi Allah , tidak demikian. Kami tidak akan membiarkan temanmu itu hidup.

Maka diapun berkata lagi, “Demi Allah, kalau begitu aku memilih mati bersamanya.”

Kemudian keduanya bertempur hingga al-Mujdzir terpaksa membunuhnya.

  1. Pada pertempuran itu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu membunuh pamannya (saudara ibunya) al-Ash bin Hisyam bin al-Mughiroh.

  1. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menyeru anaknya Abdurahman yang ketika itu masih bersama orang-orang musyrik, seraya berkata, ”Mana hartaku, wahai orang busuk?”

            Lalu Abdurrahman berkata,“Tidak ada yang tersisa kecuali senjata, kuda dan pedang yang akan membunuh kesesatan orang tua.”

  1. Setelah pertempuran usai, Mush’ab bin Umair al-‘Abdari berpapasan dengan saudaranya, Abu Aziz bin Umair, yang ikut serta berperang melawan kaum muslimin. Ketika berpapasan dengannya, dia dalam keadaan tangannya terlihat dan ditarik salah seorang dari Anshar. Maka berkatalah Mush’ab kepada orang Anshar ini, ”Ikatlah tanganmu pula dengannya! Sebab ibunya wanita kaya, mungkin dia akan menebusnya darimu.”

            Abu Aziz berkata kepada saudaranya, Mush’ab, “Apakah begini perlakuanmu terhadap saudaramu?” Mush’ab menjawab, ”Dialah (yakni orang Anshar) saudaraku, bukan kamu.”

Demikian beberapa kisah yang bisa kita jadikan teladan dan diambil ibrahnya. Dari kisah-kisah di atas, bisa dilihat bagaimana para shahabat amat memahami konsekuensi Iman yang sebenar-benarnya. Hati, perkataan serta amal mereka menunjukkan semua itu.

Ref: Syaikh Shafiyirrahman Al-Mubarakfuri. 2001. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: CV. Mulia Sarana Press. Hal: 325.

(Halimah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.