Menyoal Nikah Dini

0 100

Kiblatmuslimah.com – Kaum feminis selalu menjadikan wanita objek untuk menghantam syariat Islam. Mereka ingin wanita menanggalkan pernak-pernik keindahan aturan Islam yang menjaga dan memuliakannya. Sampai pada tataran wanita bisa hidup bebas, lepas, tanpa terikat dengan syariat Islam. Padahal, inilah yang membuat wanita jatuh ke sumur dosa dan menjadi mayoritas penghuni neraka.

Baru-baru ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, menyatakan sedang menyelesaikan revisi UU perkawinan. Salah satu yang menjadi fokus perhatiannya adalah revisi usia minimum perkawinan adalah 21 tahun. Nina Nurmala Komisioner Komnas Perempuan ikut menyepakatinya (Republika.co.id 23/7).

Merebaknya kasus zina dini, sampai hamil di luar nikah, telah mewabah di kalangan remaja zaman now. Nikah dini dianggap neraka dunia, jika ortu (orang tua, red) ngotot menikahkan anaknya yang hamil di luar nikah (gatra.com 15/7). Lantas apakah zina dini itu surga dunia bagi anak? Seolah anak-anak dianggap tersiksa menikah di usia dini, tapi tidak dianggap berdosa ketika zina dini hingga hamil di luar nikah.

Selanjutnya, apakah membatasi usia nikah dini (minimal 21 tahun), mampu menekan angka perzinaan dan kejahatan seksual? Jauh panggang dari api.

Pertama, hal ini akan membuat kejahatan seksual semakin brutal tak terkendali. Pasalnya, remaja akan putar otak agar zina mereka aman dari kehamilan. Bahkan, aborsi akan dilakukan jika mereka sampai hamil di luar nikah.

Kedua, pangkal kejahatan seksual bukan pada umur. Tapi pada lemahnya aqidah dan abainya peran negara dalam menjaga generasi muda.

Kaum feminis telah gagal mendefinisikan arti dewasa. Kegagalan kaum feminis ini, telah mendorong institusi negara memberikan batasan umur untuk nikah dini. Padahal modal untuk nikah bukan umur. Tapi kematangan jiwa yang bersumber dari kuatnya aqidah dan ketaatan pada syariat.

Dalam Islam, baligh (dewasa) adalah ketika seorang perempuan telah haidhah (menstruasi) dan laki-laki telah mimpi basah. Remaja yang sudah baligh mendapatkan taklif hukum (beban hukum). Otomatis, mereka wajib melaksanakan syariat Islam secara total dan ada konsekuensi pahala dosa atas segala perbuatannya.

Sedangkan sekarang, anak usia 15 tahun bisa apa? Jangankan membina rumah tangga, mengurus dirinya sendiri saja mereka belum tentu mampu. Sementara pemahaman mereka terhadap syariat masih kurang. Sehingga pengaruh buruk mudah mereka terima, lantas memenuhi naluri seksual dengan zina sampai melakukan kejahatan seksual.

Syariat Islam Melahirkan Generasi Emas Pengisi Peradaban Gemilang

Islam memiliki seperangkat sistem yang bisa mengatur dan mengarahkan agar naluri seksual dipenuhi. Dalam syariat Islam, jika telah baligh dan naluri seksual bangkit, menikah adalah solusinya. Kalau pun dia belum mampu menikah, Islam mengalihkan untuk memperbanyak puasa dan ibadah sunah lainnya.

Dalam Islam, negara wajib menjamin terjaganya akal dan jiwa. Pertama, negara harus menjamin remaja yang siap menikah, dengan memberikan pekerjaan sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Serta tetap mengizinkan mereka menikmati jenjang pendidikan. Justru dengan nikah dini, mereka tidak akan berpikir untuk berzina atau pun melakukan kejahatan seksual lainnya.

Kedua, negara wajib memberikan pelayanan kesehatan yang ramah bagi pasutri (pasangan suami istri) muda. Semua kehamilan, di usia muda maupun tua adalah berisiko. Jangan menakut-nakuti untuk hamil di usia muda. Sungguh nenek moyang kita dahulu nikah muda dan mempunyai belasan anak. Padahal zaman dulu, fasilitas kesehatan tidak secanggih sekarang.

Oleh sebab itu, stop narasi bahwa hamil muda membahayakan anak-anak. Allah SWT jika telah menakdirkan seorang remaja putri haidh, berarti secara biologis dia sudah siap untuk hamil. Seiring dewasanya kondisi biologis remaja, negara wajib mendidik mereka agar dewasa pula pola pikirnya.

Ketiga, negara harus menerapkan sistem pendidikan Islam yang berbasis kristalisasi aqidah Islam. Aqidah Islam adalah benteng terakhir seorang Muslim dalam menghadapi segala godaan setan, termasuk bisikan berzina. Tidak seperti sekarang, malah muncul wacana akan menghapus pelajaran agama. Selain itu, jika ada siswa yang taat dan bangga dengan simbol Islam, malah diberi cap radikal.

Keempat, negara seharusnya menghukum pelaku zina sesuai dengan syariat Islam. Inilah yang akan menjaga akal dan jiwa manusia, karena dalam lanskap Kapitalisme, zina tidak dianggap suatu dosa besar yang harus dicegah dan dihukum. Bahkan jika zina suka sama suka, malah dinikahkan. Tidak ada hukuman yang adil kecuali syariat Islam terhadap pelaku zina.

Jika syariat Islam mampu diterapkan secara sempurna, niscaya generasi emas yang terjaga akal dan jiwanya akan lahir mengisi peradaban Islam yang gemilang. Tentu saja, negeri ini akan memiliki kualitas SDM yang unggul dan siap memimpin dunia. Allahu Akbar …!

Oleh: Ika Mawarningtyas, Pemerhati Remaja

Leave A Reply

Your email address will not be published.