Menjaga Aib Guru

0 143

100Kiblatmuslimah.com – Guru atau ulama adalah orang yang mulia, pewaris para nabi. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Ulama adalah pewaris perbendaharaan ilmu. Mereka adalah cahaya terang yang menerangi umat ini. Orang yang menunjukkan kebenaran, sehingga umat bisa membedakan yang benar dan salah. Melalui perantaraan mereka, ilmu bisa terjaga kemurniannya. Bahkan kematian salah seorang dari mereka menyebabkan terbukanya fitnah terbesar di kalangan kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Namun, Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama. Jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas menjelaskan bahwa kematian ulama adalah fitnah terbesar di tengah kaum muslimin terjadi pada saat ini. Secara beruntun Allah telah memanggil ulama-ulama Allahu Yarham. Semoga Allah selalu merahmati dan menempatkan mereka pada kedudukan terbaik di sisi-Nya, Amiin.

Ulama adalah manusia, pasti mempunyai aib, kekurangan dan pernah berbuat salah. Sebagai murid, wajib menutupi segala kekurangan, aib dan kesalahan mereka. Bukan sebaliknya, mumpung mengetahui kekurangan dan aib mereka; seakan-akan mempunyai kesempatan untuk menjatuhkan dan memojokan. Na’udzubilahi min dzalik, semoga terhindar dari perbuatan tercela ini.

Salah satu syarat agar bisa mendapatkan keberkahan ilmu yaitu dengan memuliakan dan menghormati guru, bukan justru membuka aib. Jika suatu saat mendapatkan aib guru, yang pertama dilakukan adalah berprasangka baik dan memberikan udzur kepadanya. Bahkan dianjurkan untuk pura-pura tidak tahu atas aib tersebut.

Selain itu dianjurkan untuk berdoa,

اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي

Artinya: “Ya Allah, tutupilah aib guru dan jangan Engkau hilangkan berkah ilmunya dariku”.

Perhatikan fenomena hari ini. Orang tua memenjarakan guru, anak memfitnah guru. Dicubit bilangnya ditempeleng, diajari bilangnya dicaci-maki, dinasihati lapornya dihina, ditegur ujarnya dipermalukan. Bagaimana keberkahan ilmu bisa datang jika orang tua dan murid bersekongkol untuk menjatuhkan guru?

Ulama dihina, dipojokkan, ditangkap bahkan dipenjarakan. Ya Allah, jadi renungan buat kita bahwa ini merupakan akhir zaman. Terhinanya ulama dan guru merupakan salah satu tanda datangnya hari kiamat.

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Abdullah bin ‘Amr yang maknanya, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang-orang jahat.”

Mari kita berdoa semoga dapat menjaga lisan dan perbuatan dari menyakiti ulama dan guru anak-anak. Dari mereka didapatkan ilmu, anak-anak menjadi mandiri dan sukses dunia serta akhirat. Semoga Allah merahmati dan mengangkat derajat mereka. Amiin, Ya Rabbal ‘alamiin.

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.