Menjadi Mujahidah di Zaman Penuh Fitnah

0 284

Kiblatmuslimah.com – Musuh-musuh agama ini tahu dengan baik dan cermat bahwa muslimah merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat muslim. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat tenaga, sepanjang siang dan malam untuk melumpuhkan pergerakannya dan menggiringnya ke dalam lembah fitnah sedalam-dalamnya.

Mereka amat gelisah melihat fenomena muslimah yang kembali berkontribusi kepada umat ini dengan melahirkan para ulama Rabbani dan mujahid pemberani. Geliat muslimah yang sadar fitrah ini membuat mereka pusing bukan kepalang, hingga tak segan mencurahkan perhatian yang sangat besar untuk “memandulkan” muslimah. Tujuan mereka tak lain ialah agar para muslimah “mandul”, –tak lagi mampu mendidik generasinya–, sehingga yang tersisa dari generasi itu ialah generasi yang terombang-ambing dalam kesesatan, bergerak menjauh dari cahaya kebenaran Islam.

Untuk mencapai tujuan yang hina ini, musuh-musuh umat rela menempuh segala cara, membuat beragam makar yang bermaksud merusak para wanita. Mereka mengembuskan propaganda bahwa muslimah ialah wanita yang terzhalimi, tak diberdayakan, bagai paru-paru yang tak berfungsi, sebab laki-laki telah mendominasi seluruh sendi kehidupan. Mereka menyeru kaum hawa agar melepaskan diri dari “belenggu patriarki”, –sebuah istilah yang mereka buat-buat sendiri–.

Malangnya, propaganda busuk itu berhasil merasuki kalangan muslim/ah. Banyak yang terimbas dan larut dalam rumor batil tersebut. Mereka seakan lupa bahwa sepanjang sejarah, wanita tak pernah mendapat kedudukan yang terhormat, kecuali dalam Islam.

 

Komitmen Muslimah Sejati

Muslimah artinya wanita yang berislam. Berislam artinya menerima Islam dan segala konsekuensinya. Konsekuensi yang membawa kemaslahatan dunia dan akhirat. Islam hadir justru untuk mengangkat wanita dari kerak lembah kehinaan, –sebagaimana nasib wanita yang hidup dalam peradaban sebelum Islam–, menuju tempat yang terhormat dan mulia.

Bayangkan, peradaban mana yang memandang wanita sebagai belahan jiwa laki-laki dan menjadikan berbakti kepada ibu tiga kali lebih utama daripada ayah? Peradaban mana yang memuliakan wanita dalam seluruh fase kehidupannya; sejak mereka masih kanak-kanak hingga telah menjadi istri dan ibu? Bahkan, penghormatan Islam terhadap wanita terlihat jelas ketika al-Qur’an al-Karim memuat sebuah surah khusus yang membahas tentang wanita dan menamakannya dengan “wanita” itu sendiri, an-Nisaa’.

Begitupun bila kita melirik sejarah kebesaran generasi Islam terdahulu. Generasi hasil didikanRasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam adalah generasi yang paling unggul dalam segala hal; berakhlak mulia, berprestasi dunia dan akhirat. Kesibukan mereka, sebagaimana yang dituturkan tentara Islam bernama Rib’i bin ‘Amir kepada seorang panglima tentara Salib berkebangsaan Persia, tidaklah bertujuan kecuali untuk; (1) mengeluarkan manusia dari belenggu perbudakan makhluk menuju kebebasan jiwa menyembah Allaah semata, (2) mengangkat manusia dari kesewenang-wenangan menuju keadilan, dan (3) mengentaskan manusia dari kesempitan hidup menuju kelapangannya.

Figur-figur yang tampil dari generasi unggul tersebut tidak hanya berasal dari kaum lelaki. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada masa awal terbitnya cahaya Islam, tak sedikit figur wanita yang teguh memegang agamanya dan rela mengorbankan harta dan jiwa demi akidahnya. Kaum muslimah pada masa itu turut berperan dalam segala aspek kehidupan. Mereka mempersembahkan potensi terbaik yang mereka miliki untuk Islam. Bahkan, mereka rela menanggung penderitaan berupa celaan, siksaan, hingga kematian demi mempertahankan agama.

Tak dipungkiri lagi, betapa pentingnya peran perempuan bagi sebuah peradaban. Bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban tak pernah lepas dari sepak terjang kaum wanita. Seorang wanita kelak akan melahirkan dan mendidik generasi. Lewat tangannya, mereka mengukir generasi Qurani. Dari sekian tugas dan peran penting wanita dalam peradaban manusia, tentu kita memahami bahwa wanita bukan makhluk ‘kelas dua’ yang dipandang sebelah mata. Wanita bukanlah budak peradaban sebagaimana anggapan orang jahiliyah terdahulu. Nyatanya, perilaku budaya masyarakat (yang disebut) modern seperti saat ini, justru masih merendahkan kaum perempuan, dengan menjadikan mereka komoditas di panggung hiburan. Beragam tayangan di layar kaca tak pernah absen mempromosikan tubuh-tubuh perempuan. Tak heran bila kemudian muncul istilah kejahiliyahan modern. Na’udzubillaahi min dzaalik.

 

Inilah “Ladang Jihad” Muslimah

Ialah Sayyidah Quraisy ath-Thahirah, Khadijah binti Khuwailid radhiyallaahu ‘anha. Perempuan yang mampu menenangkan kegundahan hati Rasulullah SAW dengan ucapan lembut dan penuh optimisme, “Jangan takut wahai suamiku …. Demi Allah, Dia takkan membinasakan engkau!” Sejak itulah sejarah dakwah pertama kali ditulis, lewat celupan tangan seorang muslimah. Bahkan dari rumahnya, fajar peradaban Islam itu terbit dan masih kita rasakan kebaikannya hingga hari ini.

Memang benar bahwa peran penting perempuan sebagai benteng agama dan negara adalah sebuah keniscayaan. Kesemuanya itu merupakan hasil dari optimalisasi tiga peran perempuan muslimah, yaitu sebagai (1) Mar’ah shalihah (perempuan shalihah), (2) Zaujah muthi’ah (istri yang taat), dan (3) Ummul madrasah (ibu pendidik). Inilah tiga peran besar yang harus menjadi prioritas aktivitas seorang muslimah.

Peran muslimah dibagi menjadi dua, yaitu domestik dan publik. Peran domestik menjadi prioritas. Peran publik yang kami contohkan dengan tiga bidang; pendidikan, sosial, dan kesehatan. Ketiga bidang ini biasanya yang paling banyak membutuhkan sentuhan tangan dan kelembutan jiwa perempuan.

Kembali sedikit menyinggung surah an-Nisaa’, sebuah hal yang menarik dari surah ini. Meski surah ini dijuluki surah “kaum perempuan”, tetapi ternyata kebanyakan hukum-hukum yang berkaitan dengan perang justru tercantum di dalamnya. Seolah hal ini menjadi isyarat bahwa perempuan merupakan sumber utama para mujahid dilahirkan dan dididik.

Wanita yang tengah bergulat dengan keluarganya; dalam hal mengurus, melayani, dan mendidik, ibarat tengah berjuang di medan pertempuran. Merekalah bagian dari mujahid itu.

Dikemukakannya hukum-hukum perang dalam surah ini merupakan risalah bagi kaum wanita yang seolah berbicara kepadanya, “Wahai kaum wanita, Allah Maha Mengetahui bahwa engkau tengah berjuang dalam kesabaran di tengah keluargamu. Rumahlah medan pertempuranmu. Engkaulah mujahidnya. Bersabarlah untuk sementara waktu. Bukankah setiap pertempuran itu hanya berlangsung sementara?”

Ya, surah ini, bila kita tadabburi, seakan sedang berbicara demikian kepada kita.

 

Menjadi Muslimah di Zaman Penuh Fitnah

Sebagaimana ayat yang kami kutipkan di atas, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allaah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Islam.” [QS. Ali Imran: 102]

Allaah menghendaki orang-orang beriman istiqamah, teguh dalam kebenaran, hingga diwafatkan dalam kondisi tetap berislam. Menjadi seorang muslimah berarti mengazamkan (bertekad) dalam hati bahwa selamanya kita ingin tetap menjadi seorang muslimah. Siap menanggung segala konsekuensi sebagai seorang muslimah, hingga Allah dengan ridha-Nya mewafatkan kita dalam keadaan demikian.

Istiqamah saja sudah berat, apalagi di zaman penuh fitnah. Kendala yang menghalangi amatlah banyak, sebab setan dalam segala rupanya, takkan pernah ridha melihat hamba-hamba Allaah meraih prestasi tertinggi ini.

Namun, jangan berkecil hati. Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk faktor-faktor yang dapat membantu untuk tetap teguh dalam kebenaran, Allaah telah menyelipkan isyaratnya. Di antara faktor tersebut ialah;

  1. Selalu berlindung kepada Allaah sebab keteguhan berasal dari-Nya. Dialah yang berkuasa menjadikan kita tetap teguh di atas jalan-Nya yang lurus. (QS. Ali Imran: 8, 9, 26)
  2. Selalu berupaya memperbaiki ibadah
  3. Berdakwah di jalan Allaah, lewat berbagai cara dan wasilah, sesuai kemampuan

Ada kecenderungan seseorang menjadi semakin bersemangat dan mantap dengan keyakinannya (dalam hal ini maknanya adalah Islam), bila ia sering membicarakannya, menjadikan keyakinannnya itu pemikiran dan perbincangan keseharian. Oleh sebab itu, dakwah (menyampaikan kebenaran) di jalan Allaah termasuk faktor yang mengokohkan keteguhan. (QS. Ali Imran: 104)

 

  1. Memiliki cita-cita yang tinggi dan tujuan hidup yang jelas

Harus kita pahami bahwa tidaklah alam semesta ini diciptakan dengan sia-sia, melainkan untuk mengantar mengenal Allaah, beribadah kepada-Nya, dan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab di atas bumi-Nya. (QS. Ali Imran: 191)

  1. Menjalin dan menjaga tali ukhuwah (persaudaraan) terhadap sesama muslim

Tak dapat dipungkiri bahwa lingkungan pertemanan termasuk faktor yang berpengaruh kuat terhadap keistiqamahan kita. (QS. Ali Imran: 103)

Wallaahu a’lam. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. [laninalathifa]

Leave A Reply

Your email address will not be published.