Meniti Jejak Perjuangan Dakwah Nabi

0 215

Kiblatmuslimah.com – Risalah Islam tak lepas dari sosok Sang Rasul, yang dengan perantaraannya, ajaran din ini sampai pada kita. Perjuangan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyebarkan risalah bukanlah hal yang mudah. Berbagai rintangan dan tantangan yang berat harus beliau alami. Waktu dan proses yang ditempuh pun membutuhkan masa yang panjang.

 

Perjuangan Rasulullah Muhammad ﷺ melalui berbagai tahapan perjuangan. Ada dua fase yang dilalui beliau dalam mendakwahkan risalah nubuwah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitab Sirah Nabawiyah:

  1. Fase Mekkah
  2. Fase Madinah

 

Fase Mekkah

Fase Mekkah berlangsung selama 13 tahun. Fase ini dibagi menjadi tiga tahapan:

1) Tahapan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi-sembunyi) yang berlangsung selama tiga tahun.

2) Tahapan dakwah jahriyyah (dakwah secara terang-terangan) kepada penduduk Mekkah, dari permulaan tahun ke-4 kenabian hingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam hijrah ke Madinah.

3) Tahapan dakwah di luar Mekkah serta penyebarannya, dimulai dari tahun ke-10 kenabian hingga hijrah ke Madinah.

 

Fase Mekkah adalah fase ta’sis (membangun fondasi awal). Rentang masa selama 13 tahun adalah tahapan membangun fondasi keislaman. Fondasi akidah maupun akhlak.

 

Prioritas utama pada fase ini adalah pembinaan personal. Seiring berjalannya waktu, eskalasi penindasan dan kezaliman kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin terus meningkat. Hingga hampir tak ada ruang untuk ber-Islam di Mekkah. Kaum muslimin pun semakin terdesak dan terhimpit. Sejumlah petinggi Quraisy juga melakukan konspirasi untuk menghabisi Nabi Muhammad ﷺ. Sehingga, tahapan selanjutnya adalah fase Madinah, fase yang diawali dengan hijrah dari Mekkah ke Madinah.

 

Fase Madinah

Fase Madinah berlangsung selama 10 tahun penuh. Dimulai sejak hijrah Nabi ke Madinah hingga akhir hayat beliau. Sepuluh tahun ini merupakan fase taklif ibadah secara maksimal, akad muamalah untuk kekuasaan dan penerapan sistem syariat Islam.

 

Fase ini oleh Syaikh Al-Mubarakfuri dibagi menjadi tiga tahapan:

  1. Tahapan yang diliputi oleh suasana yang tidak stabil dan penuh goncangan, Berakhir dengan terjadinya Perjanjian Hudaibiyyah pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H.
  2. Tahapan gencatan senjata bersama pimpinan kaum penyembah berhala dan berakhir dengan terjadinya Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah) pada bulan Ramadhan tahun 8 H.
  3. Tahapan setelah Fathu Makkah, yaitu berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalam Islam. Berdatangannya para kabilah dan bangsa ke Madinah. Tahapan ini terus berlangsung hingga Rasulullah wafat, yakni pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 11 H.

 

Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan makna hijrah bukan sekadar upaya melepaskan diri dari cobaan dan hujatan semata. Namun, makna hijrah juga dimaksudkan sebagai batu lompatan untuk mendirikan sebuah masyarakat baru di negeri yang aman.

 

Karena itu, sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Sirah Nabawiyah, setiap Muslim di Madinah harus mampu dan wajib ikut andil dalam usaha mendirikan negara baru tersebut. Mereka harus mengerahkan segala kemampuannya menjaga dan menegakkannya. Rasulullah ﷺ  sebagai figur pemimpin, komandan, dan pemberi petunjuk dalam menegakkan masyarakat ini di Madinah.

 

Di Madinah, Rasulullah ﷺ melakukan penataan ke dalam dan perluasan sayap dakwah Islam ke luar. Beliau mendirikan masjid, memimpin shalat Jumat, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, melakukan diplomasi, negosiasi, dan ekspedisi dakwah.

Ekspedisi dakwah dengan komunitas lokal seperti kaum Yahudi dengan membuat Perjanjian Madinah. Begitu pula dengan komunitas internasional, para kepala negara di sekelilingnya.

Turun pula perintah azan, menyeru orang untuk shalat berjamaah, dan perintah berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak lama kemudian turunlah perintah berjihad (QS. 22: 39-41; 2: 190-193 dan 2: 216-218). (Syamsuddin Arif, Memahami Konsep Jihad, Republika)

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyelesaikan tugasnya dalam menyampaikan risalah nubuwah dengan sempurna. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).

 

Sekarang, saatnya bagi kita meniti jejak jalan perjuangan beliau. Melanjutkan perjuangan untuk meninggikan kalimat Allah dan tersebarnya kebenaran Islam.

Viyanti Kastubi

@vikastubi

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.