Mengidolakan Ikhwan,  Bolehkah?

0 224

Kiblatmuslimah.com – Siapa sih yang tidak suka ikhwan ganteng, hafidz, shalih, dan berprestasi? Apalagi ditambah single dan punya suara merdu, pasti jadi dambaan setiap wanita. Tampaknya tren mengidolakan hafidz ganteng dan semacamnya masih jadi ranjau-ranjau muslimah hijrah hari ini. Inilah realita saat ini. Sampai-sampai muncul kalimat “Hari Patah Hati-Dunia Akhirat” ketika sang idola menikah.

 

Ada kejadian nyata dalam sebuah acara yang mendatangkan seorang idola hafidz ganteng dari Negeri Paman Sam. Bayangkan, yang datang untuk melihat idola yang hafidz nan ganteng tersebut lebih banyak akhwat daripada ikhwan, mungkin sekitar 3 : 1. Bahkan untuk menyambut sang pemuda tersebut, para akhwat diminta oleh MC untuk berteriak sekencang-kencangnya. Ternyata mereka mau melakukannya, entah secara sadar atau tidak.

Padahal, itu bisa membuat mereka kehilangan kehormatannya sebagai seorang akhwat. Apalagi acara intinya adalah Belajar Alquran bersama Sang Hafidz. Parahnya, para akhwat banyak yang berusaha mendekatkan diri ke idola tersebut sambil berebut ingin memegang tangannya. Herannya, banyak di antara mereka yang berkerudung panjang hingga bercadar. Semoga kita dijauhkan dari perilaku tersebut.

 

Yang perlu dipertanyakan, di mana letak izzah dan iffah kita sebagai seorang muslimah dengan kondisi yang masih banyak seperti itu?

 

Mungkin saat ini kita bisa menjaga izzah dan iffah di dunia nyata, tetapi berbanding terbalik di dunia maya. Sebenarnya, dunia maya sangat semu. Semua yang ada di dunia maya dapat dipalsukan sehingga kita tidak mengetahui apakah benar-benar seperti itu atau hanya sensasi belaka. Ditambah pesatnya perkembangan media sosial yang menjadikan seseorang ingin berlomba-lomba mencari popularitas.

 

Izzah merupakan sebuah harga diri atau kehormatan yang mulia dan agung. Izzah harus ada untuk menghiasi setiap relung jiwa seorang muslim, terutama muslimah. Izzah akan dimiliki oleh seorang muslimah apabila mendekatkan diri kepada Allah.

Sedangkan iffah adalah menahan. Adapun secara istilah artinya menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan kata lain, iffah adalah cara seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaiannya.

 

Dari rasa malu tersebut, kita bisa menjaga izzah di kehidupan nyata maupun maya. Sejatinya, semua perempuan mempunyai rasa malu. Tergantung dirinya, akan menggerakkan rasa malunya kepada hal-hal yang bermanfaat ataukah dikesampingkan persaaan tersebut hingga terjerumus lubang kemaksiatan.

 

Lubang kemaksiatan salah satunya yakni rusaknya hati. Berawal dari hal-hal yang sederhana yaitu pandangan mata. Jika tidak terkontrol akan membuat peluang pintu zina. Padahal Allah berfirman pada QS. Al-Isra: 32 yang artinya,

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

 

Untuk itu, kita sebagai muslimah yang sudah berhijrah. Apapun itu alasannya, tidak boleh mengidolakan seorang ikhwan yang belum jelas hasil akhirnya. Jika ingin mengidolakan seorang agar bisa jadi contoh, cari yang hasil akhirnya meninggal dalam keadaan memegang teguh agama dan beramal shalih seperti generasi terbaik Islam. Itulah yang patut diidolakan. Seseorang yang berhijrah, motivasi terbesarnya harus “cukup” karena Allah bukan manusia.

 

Peresume : Pramudyazeen

Sumber: Nida Aqidatus. 2018. Jadilah Shalihah Hingga ke Jannah. Solo: Gazzamedia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.