Mengetahui Masa Tubuh

0 106

Kiblatmuslimah.com – Menjaga berat badan sehat merupakan cara agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Namun, dengan hanya melihat timbangan mungkin tidak akan cukup. Di sini, Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) mulai berperan.

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu cara untuk mengetahui berat badan ideal dan memprediksi seberapa besar risiko gangguan kesehatan. Metode ini digunakan untuk menentukan berat badan yang sehat berdasarkan berat dan tinggi badan.

Angka IMT atau BMI digunakan untuk menunjukkan kategori berat badan seseorang, sudah proporsional atau belum. Melalui IMT, seseorang akan tahu berat badannya termasuk kategori normal atau ideal, kelebihan, atau justru kekurangan. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan status gizi anak dan menilai menderita obesitas atau tidak.

Orang yang memiliki kelebihan berat badan rentan terkena penyakit, mulai dari serangan jantung, diabetes, hingga stroke. Begitu juga sebaliknya, sejumlah masalah turut mengikuti orang yang membiarkan badannya terlalu kurus.

Penelitian terbaru dipublikasikan oleh Neurology pada Januari 2019, menjelaskan bahwa kelebihan lemak tubuh terutama di bagian tengah dapat menyebabkan penyusutan otak.

Sementara itu, tubuh yang terlalu kurus juga berpotensi mengganggu kesuburan. Bila berat badan laki-laki sangat rendah, kemampuan memproduksi sperma berkurang signifikan. Jumlah sperma yang rendah (oligospermia) berarti air mani mengandung sperma yang lebih sedikit dari biasanya — jumlahnya dapat mencapai kurang dari 20 juta sperma per mililiter semen. Bila jumlah sperma rendah, kemungkinan membuahi sel telur dan potensi kehamilan menjadi menurun. Pemahaman seperti ini harus diketahui oleh pasangan suami istri.

British Medical Journals juga menjelaskan bahwa mempunyai tubuh yang terlalu kurus akan menyebabkan sejumlah masalah pada metabolisme tubuh. Tubuh yang terlalu kurus dapat mengakibatkan penurunan tingkat kekebalan.

Penggolongan Berat Badan berdasarkan IMT

Perhitungan IMT dibagi menjadi empat kategori:

  1. Seseorang mengalami obesitas jika IMT-nya sama dengan atau di atas 30.
  2. Saat IMT seseorang menyentuh angka 25-29,9 maka dia dikategorikan mengalami kelebihan berat badan.
  3. IMT normal atau berat badan ideal berada di kisaran 18,5-24,9.
  4. Jika seseorang memiliki IMT di bawah angka 18,5 maka orang tersebut memiliki berat badan di bawah normal.

Sedangkan untuk populasi Asia, termasuk Indonesia, pengelompokan IMT adalah sebagai berikut:

  1. Seseorang mengalami obesitas jika IMT-nya berada di atas 25.
  2. Saat IMT seseorang menyentuh angka 23-24,9 maka dia dikategorikan mengalami kelebihan berat badan.
  3. IMT normal berada di kisaran 18,5-22,9.
  4. Jika seseorang memiliki IMT di bawah angka 18,5 maka orang tersebut memiliki berat badan di bawah normal.

Menurut Departemen Kesehatan, postur tubuh seseorang dapat dinilai dari pengukuran antropometri yang bertujuan untuk menilai komponen tubuh sesuai dengan standar normal. Pengukuran antropometri yang paling sering digunakan adalah rasio antara berat badan (kg) dan tinggi badan (m) kuadrat, yang disebut Indeks Massa Tubuh (IMT).

Cara mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan (kg) dibagi dua kali tinggi badan (m). Misalnya seorang perempuan dengan tinggi badan 161 cm dan berat badan 58 kg, maka cara menghitung IMT adalah 58 kg dibagi 2 x 1,61 m. Hasilnya adalah 22,37.

IMT yang normal untuk perempuan adalah antara 17-23, sedang untuk laki-laki di antara 18–25. Seorang perempuan dikatakan kurus bila IMT-nya kurang dari 17 dan gemuk bila IMT-nya di atas 23. Bila IMT di atas 30, maka orang tersebut menderita obesitas yang berpotensi membuat tubuh rentan dengan berbagai problem kesehatan.

Semakin besar IMT seseorang, semakin besar pula bentuk tubuhnya. Sebaliknya, semakin rendah IMT, maka orang tersebut cenderung memiliki badan yang kurus.

Sayangnya, angka-angka di atas kurang akurat jika diterapkan kepada penderita gangguan makan, seperti anoreksia nervosa. Angka indeks massa tubuh juga tidak mewakili bagi mereka yang mengalami obesitas tingkat ekstrem.

Indeks massa tubuh tak bisa jadi tolok ukur berat badan ideal?

IMT adalah metode hitungan mudah yang dapat memberikan informasi dasar terhadap masalah berat badan secara keseluruhan. Angka ini bisa berperan sebagai tanda peringatan bahaya dan melindungi seseorang dari kematian akibat penyakit kronis terkait obesitas.

Dilansir dari Live Science, IMT bukanlah metode pengukuran ideal dan akurat, serta tidak bisa menjelaskan penyebab dari masalah berat badan seseorang. “Ketika mendefinisikan berat badan sehat, satu jenis pengukuran definitif tidak bisa diberlakukan untuk semua,” tandas Dr. Rexford Ahima, profesor kedokteran dari University of Pennsylvania sekaligus co-peneliti dari jurnal terbitan Science tahun 2013.

IMT juga tidak memperhitungkan jumlah dan distribusi lemak tubuh yang penting untuk mengukur risiko seseorang terhadap berbagai penyakit kronis. Pasalnya, orang kurus mungkin saja tetap punya perut buncit atau diabetes. Pada beberapa kasus, postur badan tinggi besar, seperti binaragawan (yang bisa terlihat seperti kelebihan berat badan berkat massa ototnya), tidak selalu berarti buruk; banyak orang yang memiliki berat badan di atas “normal” dinyatakan sehat. Selain itu, angka IMT yang rendah mungkin diakibatkan oleh penyakit tertentu atau faktor usia lanjut.

Pentingnya Menjaga Berat Badan

Terlepas dari segala kekurangannya, perhitungan IMT perlu diketahui terutama sebagai pengingat untuk menjaga berat badan. Jika memiliki berat badan kurang, bisa menggunakan suplemen vitamin penggemuk badan dan memperbaiki pola makan guna menggemukkan badan. Sebaliknya, jika tubuh  kegemukan, maka bisa mencoba diet sehat dan lebih sering olahraga.

Dengan memiliki berat badan yang normal, hal-hal berikut bisa didapatkan, yaitu:

  1. Dapat melakukan aktivitas lebih banyak karena stamina lebih tinggi.
  2. Meminimalkan seseorang dari risiko terkena nyeri sendi dan otot.
  3. Memiliki pola dan kualitas tidur yang lebih baik.
  4. Kinerja jantung akan lebih ringan.
  5. Peredaran darah dan metabolisme juga akan lebih baik.
  6. Mengurangi risiko terkena penyakit jantung dan kanker tertentu.
  7. Mengurangi kolesterol, trigliserida, glukosa darah, dan menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.

 

Menurunkan berat badan dan menjaganya agar tetap ideal bisa dilakukan dengan beberapa cara tradisional. Selalu pastikan menjaga pola makan yang sehat dan olahraga yang teratur dalam rutinitas sehari-hari. Apabila mengalami masalah berat dan kesulitan mengatur berat badan, maka berkonsultasi dengan dokter sangat disarankan, agar mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Disimpulkan dari berbagai sumber oleh Amaliyah

Referensi:

Romeiro, F. & Augusti, L. NCBI (2015). Nutritional Assessment in Cirrhotic Patients with Hepatic Encephalopathy. World Journal of Hepatology, 7(30), pp. 2940–2954.

World Health Organization Western Pacific Region WHO (2000). The Asia Pacific Perspective: Redefining Obesity and Its Treatment.

Victoria State Government BetterHealth Channel Australia (2014). Body Mass Index (BMI).

American Heart Association AHA (2014). Body Mass Index In Adults (BMI Calculator for Adults).

Kam, K. & Derrer, D. WebMD (2014). What Your BMI Doesn’t Tell You.

https://www.alodokter.com/pemahaman-seputar-indeks-massa-tubuh

https://tirto.id/cara-menghitung-indeks-massa-tubuh-untuk-panduan-diet-sehat-dev4

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.