Mengajarkan Adab Majelis kepada Anak

0 15

Kiblatmuslimah.com – Pernahkah kita merasa risih dan jengah dengan perilaku anak-anak di sebuah majelis? Dari yang berlarian sambil berteriak-teriak, menangis minta jajan, berebut mainan, dan sebagainya. Kondisi ini sering membuat mood (suasana hati, red) kita langsung hilang, baik sebagai pendengar atau pembicara. Bagaimana pun, majelis ilmu tidak sama dengan walimahan, apalagi sekedar ganti tempat bermain bagi anak-anak.

Apa yang kita pikirkan ketika mendapat ketidaknyamanan ini? Di mana sih ibunya? Kenapa dibiarkan saja?

Menghadiri majelis ilmu bagi para ibu, memang bukan hal mudah. Apalagi jika mereka harus membawa anak-anak yang kadang jumlahnya tidak sedikit. Maka sudah selayaknya mereka bersiap lahir dan batin untuk membawa anak-anak ikut dalam majelis ilmu. Karena tanpa kesiapan yang memadai, sering kali anak-anak membawa efek bagi majelis.

Paling penting dipahami bahwa keutamaan seorang muslim terletak pada kebaikan akhlaknya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda

إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق

“Hanyasanya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad).

Maka akhlak menjadi barometer kebaikan seorang muslim. Seorang muslim akan selalu mengupayakan berakhlak baik. Bagian dari akhlak yang baik adalah beradab di mana pun dan apa pun kondisinya. Termasuk adab bermajelis, ada yang harus ditaati. Di antaranya adalah tidak mengganggu peserta yang lain. Apalagi dengan berisiknya anak-anak dan ketidakpedulian para orang tua, memberi kesan tidak menghargai pembicara.

Sebenarnya ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh para ibu, terutama jika hendak membawa anak-anak menghadiri majelis ilmu. Di antaranya adalah:

1. Menjelaskan kepada anak tentang majelis ilmu yang akan dihadiri.

Ada hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak. Tentu dengan penjelasan dan batasan-batasan yang wajar bagi anak-anak. Orang tua bisa membuat kesepakatan dengan anak. Seperti, boleh ikut tapi tidak ramai atau menangis.

2. Mempersiapkan keperluan anak selama bermajelis.

Rentang fokus anak-anak pendek, tidak selama orang tua. Jadi memang, tidak mungkin menyuruh mereka duduk manis selama majelis. Untuk membuat nyaman, ada beberapa yang bisa disiapkan. Seperti snack (makanan kecil, red) dan minuman supaya mereka tidak rewel. Anak yang kenyang biasanya lebih tenang.

Bisa juga dibawakan mainan agar anak-anak tidak merasa bosan. Tentu mainan yang tidak mengganggu, berbunyi, terlalu besar, atau berbahaya. Buku gambar atau mewarnai bisa menjadi alternatif pilihan.

Membawa baju ganti jika majelis yang dihadiri memakan waktu lama dan tempatnya agak jauh dari rumah. Karena kemungkinan terjadi kecelakaan-kecelakaan kecil yang mengharuskan melepas pakaian anak. Seperti minuman yang tumpah, popok bocor, atau bahkan anak-anak main air.

3. Menegur dan mengingatkan anak jika melakukan hal yang tidak sepantasnya.

Anak-anak mungkin terlalu senang sehingga lupa dengan kesepakatan awal sebelum bermajelis. Orang tua seharusnya tidak membiarkan dia melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Di samping anak akan meremehkan tanggung jawab; membiarkan mereka mengganggu majelis, menimbulkan kesan bahwa kita adalah orang egois. Yang penting anak senang, tapi tidak mengindahkan perasaan orang lain. Anak-anak memang mudah melakukan kesalahan karena keterbatasan akal mereka, tapi membiarkan juga bukan keputusan yang bijak. Anak akan menganggap hal itu benar dan kemudian mengulanginya.

4. Memberikan penghargaan dan pujian jika anak beradab majelis.

Anak bisa dijanjikan akan diajak lagi untuk ikut orang tua bermajelis. Memang terkesan repot menyiapkan segala hal kebutuhan si kecil. Bukankah kita mampu bersabar untuk menyiapkan segala keperluan mereka ketika hendak piknik? Sedangkan majelis ilmu lebih utama, sekaligus berkaitan dengan banyak orang.

Mengajarkan adab bermajelis paling ideal dengan mempraktikkan langsung kepada anak. Agar anak terbiasa memiliki adab yang baik. Beradab yang baik di dalam majelis juga merupakan indikator kebaikan akhlak seseorang. Mari kita sempurnakan pendidikan akhlak anak-anak, termasuk dalam majelis.

Wallahu a’lam bish shawwab

Oleh: ust. Sayyidah

Leave A Reply

Your email address will not be published.