Menelisik Tragedi 18 Agustus 1945 (Bagian 2)

0 159

Baca sebelumnya Menelisik Tragedi 18 Agustus 1945 (Bagian 1)


Kiblatmuslimah.com –
Hatta tak pernah membuka mulut siapa pemberi dan penyampai pesan hingga wafatnya. Ia mengaku lupa nama opsir Jepang tersebut. Ada beberapa spekulasi yang menyebutkan bahwa pemberi pesan adalah dr. Sam Ratulangi, tokoh Kristen dari Sulawesi Utara.

 

Hal ini, berdasarkan pernyataan Soekarno yang mengatakan bahwa malam hari usai proklamasi kemerdekaan RI, ia mendapat telepon dari sekelompok mahasiswa Prapatan 10. Mereka mengatakan bahwa siang hari pukul 12.00 WIB (tanggal 17 Agustus 1945), tiga orang anggota PPKI asal Indonesia Timur, Dr Sam Ratulangi, Latuharhary, dan I Gust Ketut Pudja bertemu dengan dua teman aktivis. Kepada mahasiswa, mereka keberatan dengan isi Piagam Jakarta. Kalimat dalam Piagam Jakarta, bagi mereka sangat menusuk perasaan golongan Kristen.

 

Pada saat itu, Latuharhary sengaja mengajak Dr Sam Ratulangi, I Ketut Gusti Pudjo dan dua aktivis asal Kalimantan Timur agar seolah-olah suara mereka mewakili masyarakat Indonesia bagian Timur. Mereka juga melempar isu ini ke kelompok mahasiswa yang memang mempunyai kekuatan menekan, dan berharap isu ini juga tanggung jawab mahasiswa.

 

Kelompok mahasiswa lalu menghubungi Hatta, yang kemudian mengundang para mahasiswa untuk datang menemuinya pukul 17.00 WIB. Hadir dalam pertemuan ini aktivis Prapatan 10, Piet Mamahit dan Imam Slamet. Setelah berdialog, Hatta kemudian menyetujui usul perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Setelah dari Hatta, malam itu juga mahasiswa menelepon Soekarno untuk menyatakan keberatan dari tokoh Kristen Indonesia Timur.

 

Penelitian Ridwan Saidi dikuatkan dengan sebuah buku yang diterbitkan di Cornell University AS, yang mengatakan bahwa dalang di balik sosok misterius opsir Jepang itu adalah Dr. Sam Ratulangi. Disebutkan dalam buku itu “an astute Christian politican from Manado, North Sulawesi”,  seseorang politisi Kristen yang licik dari Manado, Sulawesi Utara.

 

Jadi, menurut teori Ridwan Saidi, Hatta menyembunyikan fakta bahwa yang ia temui dan disangka opsir Jepang adalah mahasiswa Imam Slamet yang fisik dan pakaian mirip orang Jepang. Sementara tokoh Indonesia Timur yang membawa pesan adalah Dr. Sam Ratulangi.

 

Peresume : PramudyaZeen

Editor: UmmA

Refrensi

Mas’ud. Majalah An-Najah. Tragedi 18 Agustus 1945. Edisi 71. Ramadhan 1432H/Agustus 2011. Hal 4-6

Leave A Reply

Your email address will not be published.