Membangun Psikologi Anak dengan Kata “Jangan”

2 939

Kiblatmuslimah.comHari ini banyak sekali opini dari para psikolog yang melarang menggunakan kata “jangan” untuk mendidik anak. Opini ini disebarluaskan melalui seminar, workshop, talk show. Bahkan buku-buku parenting tidak sedikit yang melarang menggunakan kata “jangan” pada pendidikan anak. Benarkah opini yang melarang menggunakan kata “jangan” akan berdampak negatif pada anak?

Salah seorang pendidik yang bernama syaikh Muhammad Qutub rahimahullah  berkata, ‘’Pintu terbesar yang paling mudah dimasuki oleh Yahudi adalah dunia pendidikan dan psikolog’’. Lalu banyak lembaga psikolog sekuler yang dengan semangatnya mempromosikan agar tidak menggunakan kata “jangan” pada anak.

Dalam hal ini banyak orang tua dan para pendidik yang tercuci otaknya untuk mempraktikkan tidak berkata “jangan” pada anak. Ada sebuah artikel yang berjudul ‘Mendidik Anak tanpa Menggunakan Kata ‘Jangan”. Ditulis oleh Ihsan kurniawan di https://www.ikurniawan.com/mendidik-anak-tanpa-kata-jangan. Di sana tertulis, kata jangan akan memberikan dampak negatif pada anak. Anak akan menjadi kurang percaya diri dalam bergaul.

Benarkah demikian? Ya inilah keraguan yang disebarkan oleh para psikolog sekuler yang merujuk pada psikolog ateis dan Yahudi. Indah kedengarannya namun ironis dampaknya.

Mari kita bahas. Apakah di dalam al-Qur’an atau al-Hadits terdapat konteks yang melarang menggunakan kata “jangan” kepada anak? Sedangkan di dalam al-Qur’an terdapat lebih dari 500 ayat yang menyertakan kata laa yang artinya jangan atau tidak. Contohnya seperti surat Luqman ayat 13. Luqman berkata kepada anaknya, “Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar”.

Dalam ayat ini, Luqman tidak mengganti kata jangan menyekutukan Allah dengan kata yang lain, misalnya ‘’Esakan Allah’’. Mengapa? Karena pada realitanya kata jangan lebih mudah dipahami dan dicerna oleh anak. Seperti yang dicontohkan oleh Luqman.

Membuang kata jangan akan berdampak menjadikan anak merasa tindakannya selalu benar dan seluruh keinginannya harus terpenuhi. Hal ini akan meningkatkan rasa egoisme serta menurunnya moral pada anak.

Berikut ini penulis akan sedikit berbagi tips penggunaan kata jangan dalam mendidik anak:

  1. Menggunakan kata “jangan” diawal kegiatan mainnya bukan disaat anak melakukan kesalahan. Contoh,“mobil-mobilannya jangan dibongkar ya, nanti bisa rusak”. Bukan saat mobilnya sudah dibongkar baru mengantakan,“mobilnya jangan dibongkar…! kan jadinya rusak’’. Jika di awal sudah kita katakan “jangan” yang berarti larangan maka ia akan memahami bahwa akan ada dampak negatif jika dilanggar.
  2. Saat melarang anak dengan kata “jangan” sertakan alasan mengapa ia tidak boleh melakukan hal tersebut. Sehingga anak memahami sebab adanya larangan itu. Contoh,“Nak, jangan mainan api, nanti kalau mengenaimu sakit lho...”.
  3. Kata “jangan” adalah cara yang praktis untuk membuat peraturan bagi anak usia dini sebagai awal Pendidikan kedisiplinan. Contoh seorang ibu yang memiliki anak usia TK, ia mendidik anaknya dengan kata jangan. “Inget ya pesen bunda, jangan jajan di pinggir jalan. Soalnya jajanan di pinggir jalan itu banyak jajanan yang tidak Kalo mau jajan beli di kantin sekolah aja”. Ketika teman-temannya merayunya untuk jajan, maka ia akan dengan santai menjawab. “Kata bunda aku nggak boleh jajan di pinggir jalan. Soalnya jajanannya nggak sehat. Kalo mau jajan bolehnya di kantin sekolahan”.
  4. Kata “jangan” diucapkan dengan intonasi yang halus sehingga anak tidak merasa dimarahi karena hakikatnya perasaan anak masih sangat lembut.

*Liya Ermawati

2 Comments
  1. H_n. afifah says

    siip…..jazakumullah ukhti liya ermawati..

  2. Bundanufa says

    Mbak Liya, ahli pendidikan dan psikolog menyarankan utk meminimalkan penggunaan kata jangan pada anak usia dini <7 tahun, karena perkembangan bahasa mereka blm sempurna. Mereka akan cenderung menyerap kata kerja dari larangan tersebut. Jadi seolah olah, semakin dilarang malah semakin dilakukan.

    Anti mengambil contoh hadist ttg larangan, maka hendaknya kita bersikap adil juga,bahwa Rasulullah jg menggunakan kata kata positif saat mengajari Ibnu Umar makan dgn tangan kanan.

    Sebagaimana juga diceritakan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma:

    : كُنْتُ غُلاَمًا فِي حِجْرِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَال لِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ

    Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari no.5376, Muslim no.2022)

    Saat itu, Ibnu Umar masih kecil dan kalimat yg dipakai adalah kalimat positif.

    Adapun ayat yang anti sampaikan, disitu ada penggunaan kata jangan.
    Maka, dalam kaidah ilmu tafsir, kata larangan dalam Quran ditafsirkan sebagai perbuatan dosa. Terlebih ayat yg anti sampaikan adalah berkaitan dgn Kesyurikan., Maka disebutkan di situ dgn Lam Taukid (penegasan) bahwa Kesyirikan Adalah benar benar kedzaliman yg besar.

    Sebagai orangtua, atau pendidik generasi muslim, sehendaknya kita bersikap adil. Bahwa, kalimat yang m nggunakan kata larangan semisal jangan, tidak boleh bagimu Nak, atau semisalnya digunakan utk hal;hal yang memang melanggar syariat dan memang terdapat penekanan tidak bolehnya perbuatan tsb.

    Adapun nasihat kepada anak yang masih bs menggunakan kata kata positif, maka sebaiknya tetap kita usahakan menggunakan kalimat positif mengingat keterbatasan pemahaman bahasa anak-anak.

    Wallahu musta'an.

Leave A Reply

Your email address will not be published.