Masjid Jami’ Cordoba, Saksi Peradaban Islam di Spanyol

0 148

Kiblatmuslimah.com – Andalusia, negeri yang indah di benua Eropa. Pernah berada di bawah kekuasaan muslim dalam kurun waktu ±800 tahun. Ia menjadi wilayah simbol kegemilangan dan kekuatan kaum muslimin.

Wilayah Andalusia meliputi Spanyol dan sebagian kecil Portugal. Pada masanya, bangsa-bangsa Eropa menjadikan Andalusia sebagai rujukan dalam berbagai bidang. Ilmuan-ilmuan barat menjadikan Andalusia acuan dalam membangun peradabannya.

Salah satu saksi peradaban Islam di Andalusia adalah Masjid Jami’ Cordoba. Dalam bahasa Spanyol, masjid ini dikenal dengan sebutan “Mezquita”. Masjid ini dibangun oleh khalifah Abdurrahaman Ad-Dakhil pada tahun 170 H (786 M), kemudian dilanjutkan oleh putranya. Setiap khalifah memberikan tambahan bangunan baru dan menyempurnakan masjid tersebut. Hingga Masjid ini menjadi sangat luas dan semakin indah.

Penulis Ar-Raudh Al-Mi’thar menggambarkan tentang keindahan Masjid Jami’ Cordoba. Ia mengatakan “Masjid Jami’ Cordoba adalah salah satu masjid yang besar areanya, paling cermat arsitekturnya, keindahan bangunan dan ketelitian ornamennya. Ia adalah bangunan yang disempurnakan dalam setiap periode kekhilafahan hingga sempurna. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Panjangnya 180 ba’ (ukuran tempo dahulu). Setengah bagiannya diberikan atap. Sisanya, pelataran tanpa atap. Terdapat 14 kubah beratap dan dilengkapi pagar-pagar yang dipasangi atap antara satu tiang dengan tiang lainnya. Jumlah tiang kubahnya adalah 1000, baik yang kecil maupun yang besar.

Di dalam masjid terdapat 113 titik untuk nyala penerangan. Titik yang paling besar mampu memuat 1000 lampu. Titik yang paling kecil memuat 12 lampu. Seluruh bahan kayu berasal dari kayu Shanbur Tharthusyi.

Bagian atapnya terdapat ukuran yang memiliki motif berbeda antara satu dengan yang lain, begitu pula dengan warnanya. Kiblatnya mengandung kecermatan desain yang menakjubkan akal. Di dalamnya terdapat mozaik yang dicelupkan dengan emas, kiriman penguasa Konstantinopel kepada khalifah Abdurrahman An-Nashir.

Pada kedua sisi mihrabnya terdapat empat tiang. Dua berwarna hijau dan dua lagi berwarna zurzur. Di bagian kepala dari mihrab terdapat potongan marmer yang diukir dengan ukiran berwarna emas, lazuardi dan warna lain yang sangat indah. Marmer tersebut melingkar di atas mihrab dilapisi kayu yang berukiran unik.

Di sisi kanan mihrab terdapat sebuah mimbar, saat itu tidak ada yang menyamainya di dunia. Kayunya adalah kayu Abenos, Baqs dan Mijmar. Di sisi utara mihrab ada sebuah bangungan yang memilik beberapa bejana emas dan perak serta hasak. Semuanya untuk menyalakan pelita di setiap malam 27 Ramadhan.

Di dalam ruangan penyimpanan terdapat mushaf yang harus diangkat oleh dua orang karena beratnya. Di dalamnya terdapat empat lembar mushaf Ustman bin Affan yang ditulis dengan tangannya sendiri dan terdapat tetesan darah beliau. Mushaf tersebut dikeluarkan setiap pagi pada setiap harinya.

Mushaf tersebut mempunyai penutup yang sangat indah dengan ukiran yang unik. Mempunyai sebuah kursi (tempat penyimpanan). Kemudian sang imam akan membaca setengah hizib, lalu diangkat kembali ke tempatnya.

Pada sisi kanan mihrab dan mimbar terdapat sebuah pintu yang mengantarkan menuju istana. Antara dua tembok masjid yang ditutupi dengan sebuah atap pelindung yang bersambungan. Pada jalur tersebut terdapat delapan pintu. Empat di antaranya tertutup dari arah istana. Empat pintu lainnya tertutup dari arah masjid.

Masjid Jami’ memiliki 20 pintu yang disepuh dengan besi tembaga. Pada setiap pintu, terdapat gelang yang dibuat dengan sangat detil. Daun pintu mempunyai perhiasan yang sangat indah dan bentuk ukiran yang mengagumkan.

Menara Masjid Jami’ memiliki rancangan yang unik dan mengagumkan. Terletak di sebelah utara dengan ketinggian 100 hasta risyasyi. Terdapat dua tangga untuk naik ke atas menara. Tangga di sebelah barat dan timur. Kedua tangga bertemu di bagian atas menara. Bagian depan menara ditutupi dengan batu marmer yang mengkilap. Ia dipasang dari tanah hingga ke bagian atas menara dengan ukiran yang memiliki berbagai motif dan tulisan.

Pada keempat penjuru yang melingkari menara, terdapat dua baris lingkaran yang mengelilingi marmer dan dua rumah dengan empat pintu tertutup. Setiap malamnya, akan ada dua orang muadzin yang bermalam di sana. Masjid Jami’ diurus oleh 60 orang.

Ibnu Al-Walid dalam bukunya Kharidah Al-‘Aja’ib wa Fardhah Al-Ghara’ib menambahkan tentang gambaran keindahan Masjid Jami’ Cordoba.

“Pekarangannya dipenuhi oleh pohon jeruk dan delima. Tujuannya agar orang-orang yang lapar dan datang ke kota itu dari seluruh penjuru bisa merasakan buah tersebut. Namun, setelah jatuhnya Andalusia, Masjid Jami’ Cordoba dirubah menjadi sebuah katedral. Namanya tetap Mezquita, namun menaranya dirubah menjadi menara yang digantungi lonceng gereja. Tembok-temboknya yang kokoh masih menyimpan ukiran-ukiran Al-Qur’an. Sekarang ia adalah salah satu wisata sejarah yang paling populer di seluruh dunia”.

 

Daffa An-Nuur

Dr. Raghib As-Sirjani. 2011. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.