Maimunah Binti Al Harits

0 224

Kiblatmuslimah.com – Menilik kisah para shahabiyah adalah hal yang tidak akan pernah ada habisnya. Karena keindahan akhlak dan perihnya perjuangan mereka dalam meninggikan kalimat Allah ditengah kejamnya fitnah pada zamannya, dapat dijadikan tolak ukur perjuangan dan uswah

Menjadi seorang istri dari orang-orang pilihan Allah siapa yang tidak menginginkannya. Seperti apa yang dirasakan oleh salah satu dari shahabiyah yang mungkin sudah tidak asing dengan namanya, ialah Maimunah binti Al Harits.

Begitu juga dengan saudara perempuannya yang sangat gemar menyantuni orang yang lemah, berperangai baik dengan tetangganya, mudah mengorbankan hartanya, memberikan pakaian kepada orang yang kekurangan dan memberikan makan orang yang lapar, ialah Ummul Fadhl binti Al Harits istri dari ‘Abbas paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliua juga memiliki garis nasab yang baik disebabkan adanya pertemuan dua nasab karena pernikahan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan memiliki ikatan besan dari orang-orang terbaik pula.  Adiknya yang bernama Lubabah dinikahi oleh Al-‘Abbas, Hamzah menikahi adiknya yang bernama Salma dan Asma’ yang dinikahi oleh Abu Bakar Ash Shidiq sehabis masa iddahnya setelah syahidnya Ja’far

Dalam pengakuan dari sejarah, beliau adalah wanita pertama yang memeluk Islam serta mendapat kesaksian dari Rasulullah sebagai orang yang beriman. Sebelum masuk Islam beliau menikah dengan Mas’ud bin Amr Ats Tsaqafi yang kemudian menceraikannya. Lalu menikah lagi dengan Abu Rahm bin Abdul ‘Uzza, tapi kemudian beliau meninggal. Suatu hari Maimunah radhiyallahu ‘anhaa berfirasat Allah akan memeberikan seorang suami yang akan merengkuh kedua tangannya untuk berjalan menuju surga dunia dan akhirat.

Siapakah orang yang beliau firasati itu? Tentunya dia yang sudah pasti memiliki akhlak karimah. Tidak pernah telintas pada hati Maimunah radhiyallahu ‘anhaa. membayangkan dia akan menjadi seorang Ummul Mukminin sekaligus istri dari manusia yang Allah berikan amanah sebagai utusan Nya. Tapi, begitulah takdir, hanya Dia lah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tidak ciptaan Nya ketahui, sungguh indah janji Allah bagi mereka yang mau bersabar dan berpikir.

Ketika para sahabat datang ke Mekkah untuk melakukan ibadah dan umroh pengganti (‘Umrotul qadha’), terjadilah pernikahan yang penuh berkah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menikahi wanita yang penuh berkah Maimunah binti Al Harits setelah menyelesaikan ibadah umroh dan dalam perjalanan pulang menuju Madinah.

Pada awal masuknya bulan Dzulqo’idah (tahun 7 hijriyah, penj), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakan umroh pengganti. Beliau menegaskan semua orang yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah mereka harus pergi berumroh, kecuali yang sudah gugur sebelumnya, dan selain mereka banyak juga yang ikut umroh bahkan jumlah mereka mencapai 2000 orang, selain wanita dan anak-anak.

Sebab ibadah ini yang memerlukan waktu yang lama untuk meninggalkan sementara masa pemerintahannya di Madinah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, memerintahkan ‘Uwaif Abu Ruhm AL Ghifari untuk menggantikan posisinya. Dalam perjalanan ini beliau membawa 60 ekor unta yang dikawal oleh Najiyah  bin Jundab Al Islami.

Ketidaksukaan kaum kafirun tidak akan pernah berhenti sampai mereka berhasil membuat orang-orang yang telah hijrah menjadi kembali ke aliran nenek moyang mereka yang sesat. Disaat kedatangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongannya yang telah sampai ke Mekkah dengan perasaan haru dan bahagia sembari mengucapkan kalimat talbiyah.

Di lain pihak para musyrik Mekkah berkumpul di sekitar gunung Qu’aiqon untuk melihat arak-arakan rombongan kaum muslimin seraya berkata “Kali ini kalian kedatangan yang kelelahan karena terjangkit demam di kota Yastrib yang tersohor itu”. Namun, para jama’ah umroh itu tetap fokus dan khusyu’ dengan ibadahnya dan juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berlari-lari kecil dalam tiga putaran pertama (Thawaf) dan berjalan dintara rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Mekkah selama tiga hari. Pada pagi hari keempat, beberapa tokoh musyrik datang kepada Ali radhiyallahu ‘anhu seraya berkata , “Katakan kepada tuanmu, tinggalkanlah Makkah karena waktumu sudah habis.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar dari Makkah dan tinggal beberapa saat di daerah Saraf.

Dalam kesepatan umroh inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Maimunah binti Al  Harits Al ‘Amariyyah. Kisahnya diawali ketika   masuk Mekkah, beliau mengutus Ja’far bin Abu Thalib untuk menemui Maimunah radhiyallahu ‘anhaa. Maimunah radhiyallahu ‘anhaa sendiri menyerahkan urusannya kepada Abbas, karena ia merupakan suami dari adik kandungnya yang bernama Ummu Fadhl.

Maka Abbas menikahkannya dengan Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam dan menugaskan Abu Rofi untuk membawa Maimunah radhiyallahu ‘anhaa kepadanya. Yang perlu diketahui, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah yang mana saat keduanya dalam kondisi halam (tidak berihram).

Setelah melangsungkan pernikahanya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, betapa harinya dipenuhi dengan keberkahan serta rahmat, ditakdirkan menjadi seorang Ummul Mukminin merupakan rahmat dan kemuliaan yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba Nya yang terpilih.

Menjadi seorang istri dari seorang Nabi Allah, merupakan kesempatan gemilang bagi Maimunah radhiyallahu ‘anhaa untuk menyelami ilmu dari sang suami tercinta. Niatnya yang kuat ditambah dirinya yang  sangat haus akan ilmu membuatnya mudah  mempelajari serta memahami apa-apa yang suaminya ajarkan padanya.

Memerhatikan setiap apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dari hal ibadah yang beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) kerjakan, dan mempelajari sifat, akhlak serta ilmu beliau sehingga keimanannya makin meningkat hari demi hari.

Maimunah radhiyallahu ‘anhaa juga semangat dalam menjalankan ibadahnya-ibadahnya dan dalam menaati hukumhukum Allah karena dia yakin bahwa kehidupan yang bersih hanya dapat dibangun berdasarkan interaksi yang baik dengan aturan-aturan Allah ‘Azza wa Jalla.

Beliau juga termasuk periwayat hadits, beberapa orang yang meriwayatkan darinya antara lain, Ibnu Abbas, dan seorang putra saudara perempuannya yang lain, Abdullah bin Syaddad bin Al Haad, ‘Ubaidullahbin Ash Sabbaq, Abdurrahman bin As Sa’ib, Al Hilali dan Yazid bin Al Asham,serta seorang pembantu Ibnu Abbas yang bernama Sulaiman bin Yasar dan saudaranya Atha’ bin Yasar. Dan masih ada beberapa orang lain yang meriwayatkan hadits darinya.

Dunia bukanlah tempat tinggal selamanya, namun hanya tempat bersinggah dan mengumpulkan segala amal shalih bagi hamba-hambanya yang mengetahui hakikat kehidupan. Tidak lama menjalani hidup dibawah bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) meninggal dunia, karena sakit yang beliau derita. Keadaan Madinah yang gelap sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga yang Maimunah radhiyallahu ‘anhaa rasakan pada hatinya yang hampir membuat hatinya remuk, namun ia tetap tegar dan menyerahkan semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebenarnya beliau cukup berbahagia, karena Rasulullah meninggal dalam keadaan ridha pada kesembilan istri- istrinya.

Sepeninggal suaminya, tidak membuat Maimunah radhiyallahu ‘anhaa goyah melainkan ia tetap dengan komitmennya untuk selalu rajin mengerjakan ibadah baik wajib ataupun sunnah, seperti sholat dan membaca Al Qur’an. Namun disisi lain Maimunah radhiyallahu ‘anhaa  dihampiri perasaan rindu untuk bertemu dengan Rabbnya, karena barang siapa yang merindukan pertemuan dengan Allah maka Allah akan rindu dengan pertemuan kepada hamaba Nya.

Tibalah saat dimana seorang hamba dipanggil untuk menghadap Nya lepasnya sebuah ruh dengan jasad dari kehidupan dunia yang fana dan menuju kehidupan yang abadi. Maimunah radhiyallahu ‘anhaa meninggal pada tahun 51 Hijriah. Allah telah memberikan kehidupan bagi Maimunah radhiyallahu ‘anhaa sampai masa akhir Khulafatur Rasyidin.

Yazid bin Al Asham berkata “Ketika ke Makkah dia merasakan sakit yang dideritanya makin parah, ‘Bawalah aku keluar Makkah, karena Rasulullah berkata, sesungguhnya aku tidak akan meninggal di dalam Makkah’. Akhirnya dia dibawa ke Saraf, dibawah sebuah pohon yang menjadi saksi malam pertamanya denga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dibangunkan tenda untuknya. Ditempat itulah Maimunah radhiyallahu ‘anhaa menghembuskan nafas terakhirnya dan berpisahnya seorang hamba mulia dengan dunia yang fana.”

Mencontoh kehidupan para shahabiyah dalam memperjuangkan pilar agama ini sungguh bukan hal mustahil. Telah sejarah arsip, berbagai keutamaan dan akhlak karimah yang telah menghiasi dari setiap diri mereka. Sungguh tak kan pernah habis masa kau salami setiap detail apa-apa yang mereka habiskan dalam  kehidupan nan eksotisnya. Serta berkiblat dengan kegigihan mereka dalam menggali ilmu dan tak pernah mengenal kata lelah. Baarakallahu fiikunna

(Oliver Al Qori)

Mahmud Al-Mishri. 2006. 35 Shahabiyah (35 Sahabat Wanita Rasulullah). Jakarta Timur. Al-Itishom Cahaya Umat

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.