Maduku Legi

0 145

Kiblatmuslimah.com – Jangan bicara poligami kalau belum pernah jadi praktisi. Karena pasti hanya intuisi tanpa arti.

 

Sini saya bilangi.

“Memadukan” istri kadang membuat geli. Kalau nggak tahan uji, ya sudah, jadi bully-an (perundungan, red) istri. Pernah dengar istilah suami yang “istikomah” atau “diketiaki”?

Jarang ditemui, pasangan awal poligami yang aman teruji. Seringnya masih seperti anak kecil yang berebut roti.

Kala istri muda beli kaos kaki, istri tua bilang, “Kaos kakiku cuma satu. Butut lagi!” (Maksudnya, istri tua ingin dibelikan kaos kaki juga sama suami).

Kala istri tua mendapat waktu lebih banyak dari suami, istri muda bilang, “Karena aku masih baru, jadi nggak begitu berarti….” (Padahal nggak diduga kedatangan tamu di tempat istri tua, penting sekali).

Kala istri tua mendapati suami pulang terlambat, ia bilang, “Selalu saja di istri muda. Apa karena aku sudah tua, nggak lagi dipeduli?” (Padahal sudah tahu, sejak sebelum dimadu, suami memang kerjanya sibuk sekali. Karena selain menjadi anggota DT Peduli, juga seorang da’i. Sewaktu-waktu bisa keluar pergi).

 

Susah lagi?

Kalau ditelusuri, sebenarnya akar masalah pada hati. Kalau hati bersih, kedepankan husnudzon. Nggak akan merasa tersakiti. Karena niat awal poligami suami adalah untuk Ilahi. Mencari kemaslahatan dan madharat hilangi.

Tapi terkadang istri-istri nggak bisa diajak kompromi. Ingin menang sendiri dan mencari pembenaran diri. Su’udzon dikedepankan dan nggak peduli. Seakan kedewasaan sirna, yang muncul ambisi. Ingin menguasai suami untuk sendiri. Nggak mau berbagi.

Jika ada pasangan poligami yang terkendali, itu terkecuali. Sebab mengilmui dan mengamalkan secara syar’i. Mereka ma’rifatullah sejati.

Jadi hidup berpoligami, harus sadar diri. Semua untuk berbagi. Jangan emosi, karena akan merugi.

Niat awal baik. Setelah berjalan, jadi nggak terpuji. Perceraian acap kali terjadi. Karena sikap itsar telah hilang dari hati.

 

Di sinilah peran suami menjadi berarti. Bisa “adil” kepada semua istri. Adil bukan harus rata, sami. Tetapi sesuai proporsi. Sikap tegas suami menjadi prioritas lagi. Iqob bagi yang melanggar syar’i. Jangan lemah terhadap aduan istri yang hanya su’udzon di sana-sini. Kecemburuan Aisyahnya Nabi, nggak untuk diteladani. Ambil yang baik-baik dari para shahabi.

 

Jika poligami aman terkendali, mencari ridha Ilahi Rabbi, yang ada disyukuri, maka barulah terasa: “maduku legi“.

 

“… Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….”

(QS. An-Nisaa’: 3)

 

#eightgirlsmom’s

24032018

Leave A Reply

Your email address will not be published.