Luasnya Makna Sunnah

0 189

Kiblatmuslimah.com — Mungkin kita pernah mendengar, ada yang mengatakan, ”Ah, itu kan cuman sunnah. Nggak wajib,” atau, “Sunnah itu ya kalau dikerjakan dapat pahala. Kalau tidak dikerjakan, ya nggak dosa, tho?”

Tentu saja, makna Sunnah tidak sesempit pemahaman tersebut. Pemahaman seperti ini bisa menggiring seseorang untuk malas beramal.

Lebih parah lagi, jika ada pernyataan: “Shalat lima waktu tidak disebutkan di Al-Qur’an, adanya di hadits. Jadi, shalat itu sunnah, tidak wajib!”

Pemahaman sempit tersebut bisa sangat menyesatkan, karena menyelisihi ajaran agama Islam. Wajibnya shalat adalah perkara ma’lum minad diin bidh dharurah, maksudnya adalah perkara yang jelas dan terang-benderang, yang diketahui hukumnya oleh kaum muslimin.

Supaya tidak salah kaprah dan salah paham, penting untuk mempelajari apa itu As-Sunnah sebagai bekal ilmu berikutnya setelah mengilmui Al-Qur’an. Terlebih lagi, As-Sunnah ini adalah satu dari dua hal yang diwasiatkan oleh Rasulullah Saw untuk berpegang teguh atasnya.

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَة نَبِيهِ »

“Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim)

 

Definisi As-Sunnah

Secara bahasa, sunnah artinya kebiasaan, contoh terdahulu, jalan atau metode. Secara syar’i, makna As-Sunnah sangatlah beragam tergantung konteks dan terminologinya.

Setidaknya, ada empat sudut pandang mengenai definisi As-Sunnah (Roni Nuryusmansyah, Makna As-Sunnah, muslim.or.id):

1.      Sudut Pandang Ahli Fikih

Menurut fuqaha’ (ahli fikih), sunnah adalah suatu amal yang dianjurkan oleh syariat tetapi tidak mencapai derajat wajib atau harus. Makna ini memiliki beberapa kata yang serupa yaitu mustahab (dianjurkan) ataupun mandub. Salah satu tingkatan hukum-hukum syariat yang lima: wajib, haram, makruh, mubah, dan sunnah. Definisi populer dengan versi lain, sunnah adalah segala perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan maka tidak berdosa.

  1. Sudut Pandang Ahli Hadits

Para muhaddits (ulama pakar hadis) mendefinisikan sunnah sebagai segala hal yang disandarkan kepada Nabi, baik itu berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan), maupun sifat perangai atau sifat fisik. Baik sebelum diutus menjadi nabi ataupun setelahnya.

Sunnah dalam definisi ini tidak hanya menghimpun amal ibadah yang hukumnya sunnah, akan tetapi juga hal-hal yang dihukumi wajib oleh ulama ahli fikih. Oleh sebab itu, jika mendengar suatu pernyataan, “Ini adalah sunnah atau disunnahkan,” tidak berarti hukumnya sunnah. Bisa jadi wajib, karena yang dimaksud sunnah tersebut adalah menurut ulama ahli hadis.

Dari definisi sunnah yang telah dijelaskan, terdapat beberapa bentuk sunnah yang dapat dikategorikan sebagai berikut:

  • Sunnah qauliyyah atau sunnah yang berupa perkataan adalah hadis yang memuat ucapan Rasulullahﷺ.
  • Sunnah fi’liyyahatau sunnah yang berupa perbuatan yaitu seorang sahabat menukilkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ berbuat seperti ini dan seperti itu, meninggalkan ini dan itu. Di antara sunnah fi’liyyah lainnya adalah apa yang bersumber dari Rasulullah berupa perbuatannya yang menjelaskan tentang salat, zakat, puasa, haji, dan selainnya.
  • Sunnah taqririyyah adalah ketika seseorang sahabat misalnya menceritakan atau mengerjakan suatu perbuatan di depan Rasulullah ﷺ, atau pada masa beliau saat wahyu masih turun, lantas Rasulullah ﷺ atau wahyu menetapkannya, tanpa diingkari maupun diubah. Inilah taqrir menurut syariat untuk suatu perbuatan.

 

Terkait dengan pribadi Rasulullah ﷺ, pembahasannya dibagi menjadi dua:

  • Sifat khuluqiyyah, yaitu sesuatu yang disampaikan para sahabat berkaitan dengan bagaimana akhlak, perilaku, dan perangai Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ’anha bahwa akhlaq Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an.
  • Sifat khalqiyyah, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh para sahabat berkenaan dengan sifat fisik Rasulullah ﷺ. Seperti yang disebutkan dalam beberapa hadis bahwa Rasulullah itu berbadan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Diceritakan pula bahwa wajah beliau putih, bak rembulan.

3.      Sudut Pandang Ahli Ushul Fikih

Menurut ulama usul fikih, pengertian sunnah berupa sumber hukum pensyariatan Islam setelah Al-Qur’an. Bisa diartikan sebagai segala hal yang disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir atau ketetapan. Hal itu dikarenakan ulama ushul hanya melihat sunnah dari sisi pendalilan. Dalil itu hanyalah mencakup perkataan, perbuatan, dan ketetapan.

  1. Sudut Pandang Ulama Aqidah

Menurut ulama akidah, sunnah adalah antonim atau lawan kata dari bid’ah. Jadi, setiap amal perbuatan dalam hal ibadah yang ada contoh dan tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, bukan perkara yang diada-adakan dalam agama, maka ini masuk dalam kategori sunnah.

Dalam arti lain, sunnah bukan hanya sesuatu yang dinukil dari Nabi ﷺ. Namun, sunnah juga merupakan segala hal yang dijelaskan oleh Al-Qur’an, sunnah-sunnah, kaidah syar’iyyah, atau yang semisalnya. Makna sunnah ini otomatis menggambarkan agama Islam secara keseluruhan.

 

Memiliki Makna Lebih Luas

Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi menjelaskan makna sunnah menurut kebanyakan salaf adalah makna yang lebih luas. Sunnah adalah segala sesuatu yang sesuai dengan Al-Quran, sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau, baik berkaitan dengan Akidah maupun Ibadah, serta kebalikan dari bid’ah.

Dengan demikian, seseorang dikatakan di atas sunnah apabila amalannya sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah ﷺ. Seseorang dikatakan di atas bid’ah apabila amalannya menyelisihi Al-Quran dan sunnah atau menyelisihi salah satu dari keduanya.

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.