Lihainya Iblis

0 89

Kiblatmuslimah.com – Di antara kelihaian iblis menyesatkan manusia dari perjalanan menuju Allah, dia memiliki banyak strategi yang cukup beragam dan variatif. Karena iblis selalu bersabar ketika menebar ranjau dalam panggung kehidupan hamba beriman.

 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Badaa’iul Fawaaid menjelaskan bahwa iblis menjebak melalui pintu syirik yang disusul dengan jebakan bid’ah, lalu dosa besar serta kecil dan menyibukkan manusia dengan perkara mubah tapi berlebihan.

 

Ketika semua jebakan itu gagal menjerumuskan seorang insan beriman maka muncul dengan tampilan manis dan menawan. Layaknya racun yang dibumbui dengan rempah-rempah yang kuat untuk mengusir baunya dan menipu pandangan bahwa itu bukan lagi jebakan dan perangkap.

 

Perangkap itu ialah manusia akan disibukkan dengan amalan ringan. Supaya terhindarkan dari berbagai amalan besar yang hakikatnya memberatkan mizan kebaikan. Menawan mata serta banyak menipu bagi yang tak memiliki bashiroh dalam penghambaan kepada Allah.

 

Begitu banyak contoh kasus yang bisa kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Misal, sibuk mengais rizki dengan asumsi bahwa ia bagian dari ibadah. Tapi mengais rizkinya dengan membabi buta. Sehingga ketika mencarinya, malah meninggalkan kewajiban mencari ilmu.

 

Sibuk dengan dzikir tapi meninggalkan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana dalam konteks kemerdekaan, ada sebagian kecil kaum  muslimin yang lebih memilih berdzikir di masjid daripada berjihad melawan penjajah Belanda.

 

Sibuk merapikan shaf dan merapatkan kaki ketika akan melaksanakan shalat, bagian kesempurnaan shalat. Tapi melupakan merapatkan hati di antara hamba beriman dan mencintainya, padahal hukumnya wajib.

Sibuk membentur-benturkan perbedaan dan ijtihad para ulama. Tetapi melupakan menghadapi orang kafir dan musyrikin yang tak pernah memejamkan mata “menyantap” kaum muslimin.

 

Demikianlah langkah-langkah iblis untuk menyesatkan manusia. Mereka tak pernah berputus asa. Maka, teruslah bermohon kepada Allah perlindungan dari gangguan mereka.

 

Sumber: Oemar Mita. Majalah Taujih Edisi November 2017. Hal. 32.

 

Penulis: Halimah

Leave A Reply

Your email address will not be published.