Larangan Mudik Simpang Siur, Rakyat Bingung

0 176

Kiblatmuslimah.com – Larangan mudik lebaran guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid-19) ditetapkan oleh Pemerintah, lagi-lagi menuai polemik. Berlaku bagi kendaraan yang keluar dan masuk wilayah Jabodetabek, daerah yang menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta zona merah Covid-19. Tertuang dalam Permenhub Nomor 25 Tahun 2020, berlaku sejak awal Ramadhan yakni 24 April sampai 31 Mei atau setelah Idul Fitri.

 

Namun, aturan larangan mudik ini kembali menjadi sorotan setelah Budi Karya Sumadi (Menhub) merevisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 tahun 2020 ( Merdeka.com 7/5/2020). Di tengah kebijakan pelarangan mudik oleh pemerintah, Kementerian Perhubungan kembali memberikan izin operasi untuk berbagai transportasi yang mengangkut penumpang ke luar daerah.

 

Kebijakan Pemerintah yang simpang siur itu ditanggapi oleh Sigit Sosiantomo Anggota Komisi V DPR RI. Dia menyesalkan relaksasi izin transportasi di tengah pandemi virus Corona. Keputusan tersebut dinilai menunjukkan amburadulnya penanganan pandemi oleh pemerintah (detik.com 7/5/2020). Di sisi lain, kebijakan yang tumpang tindih menyebabkan kebingungan di tengah masyarakat. Lebih kasihan lagi, petugas lapangan.

 

Tentu saja, secara medis, perubahan kebijakan larangan mudik ini menyebabkan penyebaran virus terbuka lebar ke daerah-daerah. Pemerintah seperti tidak serius menangani masalah wabah. Kebijakanya berputar pada keselamatan ekonomi, bukan penyelesaian masalah pandemi. Sungguh amat disayangkan. Kebijakan rezim kapitalis sekuler kontraproduktif dengan kepentingan masyarakat banyak, membuat wabah ini semakin meluas dan dikhawatirkan sulit terkendali. Selama negeri ini berpegang teguh pada kapitalisme sekuler, pandemi akan jauh dari kata selesai.

 

Islam sebagai agama yang paripurna menjelaskan bahwa nyawa seorang manusia lebih berharga dari bumi dan isinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

زَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (Al-Hadist)

Maka dari itu, menyelesaikan masalah wabah bukan semata karena berdampak pada ekonomi. Lebih menyangkut nyawa manusia. Keselamatan diutamakan daripada kepentingan lainnya, apalagi sektor ekonomi sebagai cermin duniawi.

 

Berawal dari filosofi berharganya nyawa manusia dalam Islam, lahir aturan-aturan syariah yang memuliakannya. Terkait dengan adanya pandemi, telah ada aturan tentang karantina yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menghadapi wabah penyakit yang mematikan, Rasulullah bersabda,”Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula lari darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid). Terbukti, ini adalah cara terampuh menyelesaikan masalah.

 

Pada saat karantina dijalankan, warga yang terdampak akan mendapatkan bantuan yang layak sehingga ringan dalam menjalaninya. Sebagaimana saat wabah melanda Syam, Khalifah Umar bin Khattab tetap mengirim logistik yang diletakkan di depan gerbang kota untuk disalurkan ke penduduk. Sedangkan warga yang terjangkit akan mendapatkan fasilitas kesehatan dalam rangka penyembuhan. Seluruh biaya yang diperlukan dalam penanganan ditanggung Baitul Mal. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Islam yang akan menyelamatkan umat manusia dari segala macam marabahaya.

 

Oleh: Shafa Afifah (Founder Kajian Muslimah WAG MQ Lovers Bekasi)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.