Lalai dalam Shalat

0 127

Kiblatmuslimah.com – Allah berfirman, “Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Ayat ini menerangkan bahwa penciptaan jin dan manusia bukan sesuatu kebetulan. Allah menciptakannya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Hidup mempunyai tujuan dan prioritas penting, bukan sebatas memenuhi perut atau sandang. Itu alasan Allah menciptakan kita.

Terkadang manusia hanya sibuk mengejar harta, lupa akan tujuan hidupnya. Rela menghabiskan  waktu dan tenaga untuk mengejar dan mengumpulkan harta semata. Kerja  dan kerja saja. Lupa merasakan bahagia karena sibuk mengumpulkan harta. Dia sibuk bekerja selama 24 jam sehingga lupa akan kebutuhan sendiri, jasmani apalagi rohani. Buat makan saja tidak sempat apalagi shalat dan meluangkan waktu untuk mencari ilmu Din. Na’udzubillah.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma’un ayat 5.

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُون                                           َ

“Orang-orang yang lalai dari shalatnya.”

Ayat di atas menerangkan tentang orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Orang yang shalat saja bisa disebut lalai, apalagi yang tidak beribadah. Lalu, siapakah orang yang lalai dalam shalatnya? Telah melakukan shalat, tetapi hanya membawa celaka karena tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Tidak timbul dari kesadaran bahwa sebagai hamba Allah, sudah sewajarnya menundukkan  diri dan mengerjakan shalat sebagaimana yang diperintahkan.

Sāhūn; asal arti katanya ialah lupa. Dilupakan dari tujuan shalat. Meskipun mengerjakan, tetapi  tidak sadar akan maksud dan hikmahnya.

Pernah Nabi s.a.w. melihat seorang sahabat yang terlambat datang ke masjid sehingga tertinggal shalat berjamaah, lalu mengerjakan sendiri. Setelah selesai, Nabi s.a.w. menyuruh mengulang shalatnya kembali karena tadi “belum shalat”. Maksudnya belum mengerjakan dengan sesungguhnya.

Di dalam tafsir disebutkan orang yang lalai dalam shalat yakni:

  1. Suka mengulur-ulur shalat, menunda-nunda dari waktu terbaiknya.
  2. Mengerjakan tanpa memperhatikan rukun dan syarat sahnya. Tidak menyempurnakan berdiri, rukuk dan sujudnya. Ketika berdiri, rukuk dan sujudnya belum sempurna.
  3. Mengerjakan tanpa kekhusyukan, mengucapkan takbir tetapi masih sibuk dengan urusan dunia.

Mari kita lihat teladan Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka menjadikan shalatnya sebagai rohah, sarana untuk beristirahat dari kesibukan dunia, melupakan masalah dan beratnya ujian hidup, berkomunikasi bermunajat kepada Allah. Mereka shalat sangat khusyuk, seakan-akan rohnya sudah naik ke atas langsung berkomunikasi dengan Rabbnya.

Bahkan, salah satu sahabat Nabi, Urwah bin Zubair diamputasi kakinya ketika shalat. Sungguh beliau mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia di dalamnya. Melakukan dengan baik, melengkapi syarat dan rukun secara sempurna serta berlama-lama. Beliau menolak bius atau khamr untuk menghilangkan rasa sakit, memilih shalat untuk meringankannya. Masya Allah. Itulah sahabat Rasulullah, generasi terbaik di masanya. Semoga kita bisa meneladani beliau.

Semoga artikel ini bisa menjadi perhatian. Apakah shalat kita sudah benar? Jika belum, mari bersama-sama memperbaiki agar termasuk orang yang khusyuk, tidak lalai dalam shalat. Selalu berdoa kepada Allah agar menjaga kekhusyukan, menjadikan shalat sebagai sarana untuk mendekat. Semoga bermanfaat. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.

 

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.