Kisah Kunjungan ke Cawas

0 94

KIBLATMUSLIMAH.COM- Cawas adalah salah satu tempat di kabupaten Klaten. Keberadaannya sedang menjadi sorotan karena kasus kematian Siyono-Allahu yarham- oleh Densus 88. Sedikit tentang Siyono, beliau merupakan imam Masjid Muniroh yang ditangkap Densus 88 setelah mengimami sholat Maghrib. Kemudian pulang dalam keadaan meninggal.

Alhamdulillah saya bisa silaturahmi ke Cawas, Oleh karena itu beberapa teman meminta saya untuk menulis kisah perjalanan tersebut. Karena saya bukan penulis, jujur saja saya kurang percaya diri. Tetapi berdasarkan kata hati, akhirnya saya beranikan untuk menulis sekarang. Baiklah saya mulai bercerita.

Kisah ini terjadi pada Rabu, 16 Maret 2016. Pagi itu kurang lebih jam 07.00, saya hubungi kawan untuk menanyakan kesertaan saya bersama rombongan. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk ikut bersilaturrahmi ke Cawas.

Saya kendarai motor menuju ke rumah kawan, Alhamdulillah selamat di tempat berkumpul sekitar pukul 09.00. Setelah semua siap, mobil pun melaju. Menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kami pun sampai tujuan kurang lebih pukul 11.00.

Rombongan pun menuju rumah yang berada di samping masjid. Setelah mengucap salam, pintu dibuka oleh seorang ibu yang usianya berkisar 34 tahun. Ibu tersebut menggendong putranya. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, kami saling memperkenalkan diri. Ternyata ibu tersebut adalah istri Siyono yang biasa dipanggil mbak Fida. Sedangkan kami memperkenalkan diri sebagai saudari dari Solo yang ingin bersilaturahim karena ukhuwah. Ukhuwah Islam yang menghajatkan persaudaraan bagaikan satu tubuh.

Saya teringat hadist dari Nukman bin Basyir RA. Beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, sayang dan cinta adalah seperti sebuah tubuh. Jika salah satu anggotanya merasa sakit maka yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Hadist Shahih, riwayat Muslim No.4685).

Saya lanjutkan lagi. Sekilas memandang mbak Fida, saya membatin kalau beliau akan menangis sesenggukan. Karena saya membayangkan keadaannya yang berat sebagai seorang istri dan ibu. Apalagi saat bersalaman, beliau memeluk sangat erat. Tapi ternyata tidak. Dugaan saya salah. Kesimpulan saya, mbak Fida adalah seorang ibu yang tangguh. Ini membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana seorang ibu desa bisa begitu tangguh dalam menghadapi hal ini? Suami tercinta di tangkap Densus 88 secara tiba-tiba dan pulang sudah tidak bernyawa. Ditambah lagi rumah yang sekaligus tempat TK Amanah Ummah digeledah Densus 88 bersenjata lengkap pada saat KBM berlangsung.

Percakapan hangat kami mulai dengan menanyakan kabar beliau dengan anak-anak. Kami agak ragu untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang menimpa suaminya. Hal ini karena tujuan kami untuk memberi semangat dan berempati dengan mbak Fida. Tapi kucoba memberanikan diri untuk menanyakan kronologisnya, beliau pun menceritakan saat Pak Siyono ditangkap dan kemudian rumahnya digeledah. Seperti yang banyak kita tahu dari media.

Bagaimana dengan anak-anak TK? Mbak Fida saat itu belum tahu keadaan anak-anak TK pasca pengeladahan tersebut. Hal ini karena KBM diliburkan sampai tanggal 22 Maret 2016. Beliaupun merasakan jika anak-anak TK mungkin akan trauma akibat tindakan bapak-bapak Densus yang “gagah”. Murid-murid sedang belajar kemudian datang pasukan berpakaian hitam, lengkap dengan senjatanya. Jika orang tua saja bisa gemetar, apalagi anak-anak.

Mbak Fida akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan TK. Sejak berdiri tahun 2004, TK mempunyai tujuan mendidik anak-anak dengan Al Qur’an dan merupakan cita-cita dari Mbak Fida mendirikan TK di desa tersebut. Awalnya TK mengontrak di sebuah rumah, namun harus pindah karena akan dijual. Alhamdulillah orang tua pak Siyono Allahu yarham membolehkan memakai sebagian rumahnya untuk tempat belajar TK Amanah Ummah Cawas.

Mbak Fida juga menceritakan saat beliau ke Jakarta. Kemudian membawa suami beliau pulang dalam keadaan tak bernyawa. Alhamdulillah selama perjalanan anak terkecil yang beliau ajak tidak rewel sama sekali. Kondisi anak tergantung hati dan keadaan ibunya. Jika ibu tangguh dan tegar maka anak-anaknya pun demikian.

Saat kami sedang berbincang, datanglah satu per satu putra-putri beliau. Masya Allah, anak-anak yang kuat dan sabar, doa dari kami semoga menjadi anak yang sholih dan sholihah. Hanya putra terkecil yang mengingau ketika malam menanyakan abi-nya karena yang paling dekat secara emosi. Demikian mbak Fida menceritakan kondisi anak-anak saat itu.

Adzan Dhuhur berkumandang. Kamipun berpamitan untuk segera sholat. Sebelum kami beranjak beliau berpesan agar tetap istiqomah, saling mendoakan, ingat tujuan hidup hanya beribadah kepada Allah Ta’ala, siapkan bekal kita di akhirat dan hidup hanya semata-mata untuk mencari ridho Allah ta’ala bukan manusia.

Masya Allah perjalanan Cawas yang begitu mengesankan bagi saya. Wanita desa yang begitu tangguh, tegar dan sabar. Hanya beberapa isakan saja yang saya dengar di sela-sela beliau bercerita.
Rikyuni 2016
Editor : Bintu Toha


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.