Kisah-kisah Imani dalam Perang Badar (Bagian 1)

0 105

Kiblatmuslimah.com – Ikatan yang amat erat dan mulia, yang menghancurkan kelaliman dan hanya dimiliki oleh kaum muslimin. Itulah ikatan  karena kesatuan iman terhadap Robb-Nya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam QS. Al-Hajj: 19

هذان خصمان اختصموا في ربهم

Artinya, “Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar. Mereka saling bertengkar karena Robb mereka.”

Di dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, disebutkan beberapa kisah-kisah imani dalam Perang Badar. Kisah yang membuat kita haru, betapa para shahabat benar-benar generasi terbaik umat ini. Pengorbanan serta aplikasi keimanan mereka tidak hanya bualan bibir saja. Namun mereka benar-benar menjual diri, jiwa dan harta mereka untuk Allah Ta’ala. Berperang melawan kerabat, karib, bahkan orang tuanya sendiri tak menjadikan mereka gentar untuk setia di barisan kaum muslimin. Itulah salah satu gambaran betapa besar cinta mereka terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sifat yang dipuji Allah Ta’ala atas kaum mukmin adalah mereka keras terhadap orang-orang kafir dan lemah lembut terhadap orang-orang mukmin.

Berikut beberapa kisahnya.

Kisah pertama, Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda kepada para shahabatnya, “Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa ada beberapa tokoh dari Bani Hasyim dan selain mereka yang dipaksa ikut. Mereka tidak punya kepentingan untuk berperang melawan kita. Barangsiapa menjumpai salah seorang di antara Bani Hasyim, maka janganlah ia membunuhnya. Barangsiapa menjumpai Abu al-Bukhturi bin Hisyam maka janganlah dia membunuhnya. Dan barangsiapa menjumpai al-Abbas bin Abdul Muthalib maka janganlah dia membunuhnya, sebab ia hanya dipaksa ikut.”

Maka berkatalah Abu Hudzaifah bin Utbah, ”Apakah kami harus membunuh orang-orang tua kami, anak-anak, saudara-saudara dan keluarga kami, sementara kami membiarkan al-Abbas hidup? Demi Allah, jika aku bertemu dengannya niscaya aka aku bungkam dia dengan pedangku.”

Hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam, sehingga beliau berkata kepada Umar bin Al-Khathab, ”Wahai Abu Hafsh, apakah wajah paman Rasulullah harus disabet dengan pedang?”

Maka berkatalah Umar, “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya dengan pedang. Demi Allah, dia sungguh sudah menjadi munafik.”

Sejak itu, Abu Hudzaifah selalu berkata, “Aku masih saja tidak merasa tenang dengan ucapan yang telah aku lontarkan ketika itu dan aku masih saja khawatir kecuali bila hal itu dapat ditebus dengan mati syahid di jalan Allah.” Dan ternyata, dia memang benar gugur syahid pada perang Yamamah, bi idznillah.

Kisah kedua, Abu al-Bukhturi juga merupakan salah seorang yang dilarang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam untuk dibunuh. Hal ini karena dia merupakan orang Quraisy yang paling menahan diri dari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam saat beliau berada di Mekah. Dia tidak pernah menyakiti beliau ataupun melakukan sesuatu yang dibenci beliau. Di samping itu dia juga termasuk orang yang menggagalkan shahifah (embargo) terhadap keluarga besar Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib.

Meskipun demikian, Abu al-Bukhturi tetap dibunuh juga. Pasalnya, al-Mujdzir bin Ziyad al-Balawi bertemu dengannya di dalam pertempuran. Ketika itu dia sedang bersama seorang temannya dan berperang. Maka berkatalah al-Mujdzir kepadanya, “Wahai Abu al-Bukhturi, sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam telah melarang kami membunuhmu.”

Lalu dia menjawab, “Bagaimana dengan temanku ini?

Al-Mujdzir berkata, “Demi Allah, tidak demikian. Kami tidak akan membiarkan temanmu itu hidup.”

Maka diapun berkata lagi, “Demi Allah, kalau begitu aku memilih mati bersamanya.”

Kemudian keduanya bertempur hingga al-Mujdzir terpaksa membunuhnya.

Bersambung…

[Halimah]

Leave A Reply

Your email address will not be published.