Kisah Ibu Penjual Susu dan Putrinya

0 131

Kiblatmuslimah.com – Kisah putri seorang wanita penjual susu ini ada di masa Khalifah Umar bin Khatthab. Umar menerbitkan undang-undang yang melarang mencampur susu dengan air. Namun, bisakah undang-undang mengawasi para pelanggar, menangkap para penghianat dan penipu?

Undang-undang terlalu lemah untuk melakukan itu, karena mata manusia punya batasan-batasan yang tidak bisa dilampaui. Berbeda dengan pengawasan Allah yang tidak dilemahkan oleh apapun juga. Keimanan kepada Allah dan merasakan pengawasanNya jua yang menjalankan fungsinya dalam hal ini. Seperti halnya kisah berikut.

Seorang ibu bermaksud mencampur susu dengan air demi mendapatkan keuntungan lebih. Si putri yang beriman mengingatkan ibunya bahwa Amirul Mukminin melarang tindakan tersebut. Ibunya berkata, “Memangnya Amirul Mukminin melihat kita?” Si putri memberikan tanggapan dari hati yang beriman kepada Allah, dan tahu bahwa Allah melihatnya. Ia menjawab, “jika Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi Rabb Amirul Mukminin melihat kita.”

Begitu mendengar kata-kata si gadis shalihah yang merasakan pengawasan Allah ini, Umar langsung menemui anak-anaknya dan berkata, “Salah satu di antara kalian pergilah menemui gadis itu dan nikahilah dia! Sebab, aku berharap kepada Allah semoga mengeluarkan seseorang dari keturunannya yang dengannya Allah mempersatukan kaum muslimin.”

Dugaan Umar tidak meleset. Gadis tersebut dinikahi Ashim anaknya. Gadis tersebut kemudian memberinya seorang anak perempuan bernama Laila, lalu ia dipanggil dengan kuniah Ummi Ashim. Laila selanjutnya dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, Laila memberinya anak Khalifah Ar-Rasyid, Umar bin Abdul Aziz yang membimbing kaum muslimin menuju segala kebaikan. Itulah buah manis merasakan pengawasan Allah.

Seperti itulah muslimah yang seharusnya, ketika keimanan telah menyentuh relung hatinya, ia menjadi sebab kebaikan yang diraih umatnya. Sebab dari rahim wanita shalihah akan lahir pula generasi rabbani yang akan memberikan kontribusi bagi dinul Islam. Seorang wanita shalihah juga tahu bahwa tujuan hidupnya hanya untuk memantaskan diri di hadapan Allah. Semoga kita bisa meneladani kisah seorang putri penjual susu dengan keimanannya yang begitu kuat dan selalu merasa dalam pengawasan Allah.

REF: Syaikh Mahmud Al-Mishri. 2014. Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Cetakan I. Jakarta: Ummul Quro. Hal: 265-266.

Peni Nh

Leave A Reply

Your email address will not be published.