Kiat Ibu Cerdas Menghadapi Anak yang Sering Bertikai

0 119

Kiblatmuslimah.com – Seorang ibu sebagai madrasatul ula harus memiliki wawasan dan ilmu yang luas, bekal dalam mendidik putra-putrinya. Maka penting bagi ibu mengetahui nilai-nilai yang harus ditanamkan dalam diri seorang anak. Hal yang pertama dan utama harus ibu tanamkan kepada anak-anak adalah pendidikan iman (aqidah yang lurus). Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ustd. Budi Azhari, pertama kali yang kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah iman. Apabila iman telah tertanam di dalam hati, anak akan berpikir sekian puluh kali bila ingin berbuat dosa. Contohnya anak laki-laki kalau tidak bisa shalat di masjid, akan merasa gundah karena tidak menunaikan kewajibannya. Demikian pula dengan anak perempuan, merasa tidak nyaman tanpa menutup aurat meski belum beranjak baligh, dan sebagainya.

Nah, iman ini perlu kita rawat, kita tanamkan sejak kecil. Penanamannya bagaimana? Tentu saja yang lebih mengena dengan keteladanan. Bagaimana seorang ayah menyuruh rajin ke masjid, apabila ayah ke masjid saja tidak pernah? Bagaimana orang tua menyuruh jangan suka bertengkar, kalau pada kenyataannya setiap hari bapak/ibu sering bertengkar di hadapan anak atau acapkali terlibat pertengkaran dengan tetangga, saudara, dan lainnya? Jadi ketika kita menghadapi perseteruan di antara anak-anak kita, mari koreksi kembali sejauh mana bahasa iman telah berhasil kita tanamkan.

Selanjutnya seorang ibu juga harus mengetahui faktor-faktor yang menjadi sebab perseteruan pada anak. Ternyata, yang menimbulkan konflik anak itu adalah hal-hal yang ringan. Bukan masalah-masalah berat yang biasa terjadi di kalangan orang dewasa. Jadi perselisihan antaranak merupakan hal biasa. Anak-anak berkelahi di rumah karena berebut mainan, beradu mulut, berebut kamar mandi, dan lai-lain adalah hal biasa. Bahkan di antara mereka ada yang menikmatinya. Akan tetapi bukan berarti konflik antar anak dibiarkan begitu saja.

Konflik merupakan tugas yang cukup berat dalam menghadapi anak. Kita harus memecahkan konflik secara efektif dengan alasan yang logis tanpa menimbulkan masalah baru. “Mengatasi masalah tanpa masalah”. Sebenarnya pertengkaran dapat menjadi ajang latihan anak dalam menangani konflik. Bagi orang tua, mengatasi pertengkaran anak adalah latihan untuk mengasah kemampuan dalam mendidik mereka. Sebagaimana pada orang dewasa, konflik mungkin terjadi. Kita sering disarankan untuk tabayun. Demikian juga ketika terjadi konflik pada anak, orang tua harus tabayun terlebih dahulu. Agar tidak ada yang merasa tersakiti.

Sekarang, mari kita nilai diri kita sendiri. Biasanya, bagaimana sikap kita, para orang tua ketika menghadapi perseteruan anak? Apakah ketika anak bertengkar orang tua lantas terpancing emosinya lalu ikut-ikutan marah? Memang, emosi, marah, itu yang biasa dialami ibu-ibu ketika menghadapi permasalahan. Sebenarnya keadaan demikian adalah salah. Tapi karena itu yang biasa terjadi, akhirnya dilazimi. Sebagai orang tua yang harus mengatasi konflik, kita perlu menghadapinya dengan tenang, berpikir logis serta membicarakan masalah secara terbuka. Pembicaraan harus lebih ditekankan pada pemecah masalah dan jangan saling menjatuhkan.

Kedua pihak harus mau menerangkan maksud masing-masing yang belum terpenuhi, harus saling mendengarkan keterangan yang diberikan, saling memahami serta mencari keputusan yang tepat. Apabila terjadi pertengkaran, kita harus bertindak sebagai wasit atau penengah, memberikan penyelesaian secara dewasa dan bijaksana. Aneh juga kan, kalau sebagai penengah atau seorang wasit, ibu malah ikutan emosi? Ibaratnya, pertandingan sepak bola akan bubar kalau wasit malah ikut bermain bola.

Kalau sampai persoalan kemana-mana, orang tua perlu introspeksi diri. Mungkin manajemen waktunya yang kurang, sudah terlalu lelah, juga… kurang piknik, kurang ngobrol dengan suami. Jadi, hal utama yang harus dipegang orang tua ketika menghadapi pertengkaran adalah tenang.

Baru setelah itu, mari kita ikuti beberapa pedoman ketika terjadi konflik:

  1. Cari tahu penyebabnya

Anak-anak berkelahi pasti ada alasannya. Tanyakan kepada mereka sebab berkelahi. Berikan kesempatan kepada masing-masing anak untuk berbicara, supaya mereka merasa diperlakukan adil oleh orang tuanya.

Mereka yang terlibat harus mengungkapkan pandangan dan mengemukakan maksud yang belum terpenuhi dengan tenang dan halus tanpa emosi.

  1. Ingat perasaan mereka

Sering terjadi orang tua cenderung menyalahkan anak yang lebih besar. Hal ini tidak baik. Apalagi bila orang tua ekstrim memberikan hukuman kepada anak itu dengan cara pura-pura memukulnya, agar si adik merasa dibela dan dilindungi orang tua. Hal ini pantang dilakukan, walaupun untuk membuat si adik berhenti menangis.

Ingatlah perasaan si kakak, karena ia sudah lebih dapat berpikir logis dan memerlukan keadilan. Perlakuan tidak adil akan membuat anak-anak berkelahi lagi di kemudian hari. Yang harus Anda lakukan adalah membuat perdamaian dan tidak menyalahkan salah satu di antara mereka.

  1. Berbicara dengan mereka

Bila anak-anak sudah tenang, mungkin Anda perlu memperhatikan apakah mereka masih menyimpan pertengkaran atau perasaan kesal di hati mereka masing-masing? Untuk anak yang lebih kecil, mungkin mereka belum mengerti dan sudah melupakan pertengkarannya. Namun untuk anak yang lebih besar, Anda perlu lebih sensitif untuk menyelami perasaannya.

  1. Membuat keputusan bersama

Orang tua membantu anak untuk mencari jalan keluar yang terbaik setelah menyimpulkan hal-hal yang diperselisihkan dan menjadi penyebab utama. Selanjutnya kita dorong keduanya untuk mengikuti keputusan yang telah dibuat.

Namun pada dasarnya tidak setiap perselisihan anak, orang tua ikut campur di dalamnya. Ada saatnya kita membiarkan mereka menyelesaikan konflik yang dihadapi. Dengan demikian mereka terbiasa berlatih menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Sebenarnya, pertengkaran bukan berarti tidak ada hikmahnya. In syaa Allah dengan adanya konflik, anak belajar menerima semua keputusan, mudah berlapang dada, serta mengasah keterampilan sosialnya. Semoga kita bisa menjadi ibu yang senantiasa menghiasi diri dengan sifat sabar dan bijaksana ketika menghadapi anak yang sering bertikai.

Rangkuman kuliah online  dengan Ustadzah Laila TM

Leave A Reply

Your email address will not be published.