Keteguhan Iman Seorang Muslimah

0 200

Kiblatmuslimah.com – Keimanan seseorang itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah manakala melakukan ketaatan dan berkurang ketika melakukan kemaksiatan. Berusaha senantiasa menjaga ketaatan adalah suatu hal yang istimewa.

Keistimewaan seorang muslimah terletak pada kedalaman imannya kepada Allah Ta’ala. Ia sadar atas segala konsekuensi dalam hidupnya. Yakin bahwa setiap takdirnya tidak akan meleset darinya, begitu juga sebaliknya.

Seorang muslimah berkewajiban untuk berusaha sekuat mungkin menapaki jalan kebaikan. Melakukan berbagai cara untuk melakukan kebaikan di dunia sebagai bekal di akhirat kelak. Harus diingat bahwa dirinya mesti bertawakal penuh kepada Allah serta yakin senantiasa membutuhkan pertolongan dan keridhaan-Nya.

Kita bisa belajar dari kisah Siti Hajar tatkala ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dekat Baitul Haram, Mekah Mukarramah, di atas “mata air zamzam”. Tiada seorangpun di Mekah kala itu. Hanyalah Siti Hajar dan putranya Ismail yang masih disusuinya.

Kisah tersebut melukiskan suri teladan bagi muslimah tentang kedalaman iman kepada Allah Ta’ala dan ketulusan bertawakal kepada-Nya. Ketika ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan penuh ketegaran, ketenangan, rasa percaya dan kedamaian jiwa, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.”

Ia pun berkata dengan penuh keridhaan dan rasa aman, “Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami.”

Jika bukan karena ketegaran iman yang memenuhi jiwanya dan ketulusan tawakal kepada Allah, ia tidak akan mampu menghadapi kondisi yang amat mengerikan itu.

Keimanan yang murni dan mendalam ini menjadikan kepribadian muslimah lebih kuat dan matang. Sadar bahwasanya kehidupan dunia adalah cobaan dan ujian yang hasilnya akan diperlihatkan di akhirat kelak.

Sebagaimana firman Allaah Ta’ala:

“Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan sesuai dengan sesuatu yang diusahakannya. Tidak ada kezhaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat dalam menghisab.” (QS. Ghafir: 17)

Maka sudah semestinya, seorang muslimah merenungi tentang hari pembalasan yang sangat sulit. Sehingga ia akan berusaha menjadi wanita yang tunduk, patuh serta senantiasa bertaubat dan bersyukur kepada Allah. Mempersiapkan diri dengan amalan-amalan shalih sebagai bekalnya di akhirat kelak.

Wallahu A’lam

 

 

Sumber:

Al Hasyimi, Muhammad Ali. 2011. Syakhsiyatul Mar’ah Muslimah. Cetakan ketiga. Al-I’tishom: Jakarta.

 

Ummu Hafiyyah

Leave A Reply

Your email address will not be published.