Kesultanan Nusantara Bagian dari Khilafah Islam

0 125

Kiblatmuslimah.com – Dakwah Islam dari awal kemunculannya di Nusantara, sedikit demi sedikit mendapatkan respon yang luar biasa dari rakyat saat itu. Terbukti dengan hadirnya Islam, kerajaan-kerajaan yang tadinya bercorak Hindu dan  Budha berubah menjadi Kesultanan Islam yang terikat erat dengan kekhilafahan Islam.

 

Hal tersebut dibenarkan juga oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 (Senin, 9/02/2015) di hadapan peserta kongres sekitar 700 orang. Sri Sultan pun mengungkapkan, “Tahun 1479, Sultan Turki menetapkan Raden Patah (Sultan Demak pertama) sebagai khalifatullah ing Tanah Jawi”. Itu artinya Raden Patah dijadikan sebagai utusan kekhalifahan Islam (Turki) di Tanah Jawa.

Penetapan ini diiringi dengan penyerahan bendera Laa Ilaaha Illallah yang berwarna ungu kehitaman, terbuat dari kain kiswah Ka’bah dan bendera bertuliskan Muhammadurrasuulullaah yang berwarna hijau. Bukti duplikatnya tersimpan di Keraton Yogyakarta sebagai pusaka, pertanda bahwa Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat sah sebagai wakil utusan Kekhalifahan Turki.

Menurut Sri Sultan, pada tahun 1903, saat diadakan Kongres Khilafah di Jakarta oleh Jamiatul Khair, Sultan Turki mengirim perwakilan Amin Bey. Hasil kongres memutuskan haram hukumnya bagi muslim untuk taat pada penguasa Belanda. Ini yang menjadi latar belakang semangat kemerdekaan menggelora di tengah rakyat Indonesia.

Keterkaitan Nusantara dengan Khilafah berawal dari Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Budha yang beribu kota di Palembang tersebut pernah dua kali mengirimkan surat kepada Khilafah Islam. Surat pertama pada masa Khalifah Mu’awiyah (661-680 M). Bagian pembukaan surat pertama dikutip oleh al-Jahiz dalam kitab al-Hayawan (buku fauna) berdasarkan 3 rantai isnad (periwayat). Kutipan surat tersebut berisi puji-pujian sebagai tanda persahabatan kepada Raja Mu’awiyah.

Surat kedua disampaikan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Surat kedua terdapat dalam karya Al-Idul Farid yang disimpan oleh Abdul Rabbih (860-940 M). Pada surat kedua ini, Raja Sriwijaya menerangkan bahwa beliau mengirimkan surat dengan diiringi hadiah sebagai tanda persahabatan. Meminta kepada Sang Khalifah untuk memberikan utusan yang mengajarkan tentang Islam dan menjelaskan hukum-hukumnya. Adanya dua surat itu menunjukkan bahwa titik awal Islam masuk ke Nusantara yaitu sekitar 100 H/717 M. Meskipun sebelumnya, raja-raja Sriwijaya sudah berinteraksi dengan para pedagang muslim.

Menurut sejarawan Septian AW, para pemimpin muslim di Nusantara mendapat sebutan kehormatan “Sultan” dari Syarif Mekkah (Gubernur Mekkah). Sedangkan menurut Azyumardi Azra, pada tahun 1638, penguasa Banten Abdul Qadir (1625-1651 M) menerima gelar “Sultan” dari Syarif Mekkah. Pada tahun 1641, Pangeran Rangsang (Sultan Agung) dari Mataram juga mendapat gelar serupa. Begitupun Kesultanan Aceh, Palembang dan Makassar yang berhubungan dengan penguasa Mekkah.

Sebagaimana yang disinggung oleh Sri Sultan, Khilafah Utsmani juga berperan penting dalam perlawanan terhadap penjajah di Nusantara. Terbukti dengan adanya perlawanan lengkap di Aceh terhadap penjajah di Nusantara pada abad ke-16. Dokumen resmi Divan-i Humayun mendokumentasikan kedatangan utusan dari Aceh ke Istanbul dan permohonan pertolongan militer Turki. Pada tahun 1567, kunjungan angkatan laut Turki ke Sumatera untuk mendukung Aceh.

Pada abad ke-19, utusan dari Aceh datang ke Istanbul tahun 1851 dan 1873 untuk memperbaharui loyalitasnya terhadap kekhalifahan Turki. Sultan Mansur Syah mengutus Sultan Abdulmecid dengan membawa surat yang menyatakan bahwa Aceh menjadi bagian negeri di bawah Turki Ustmani pada tahun 1849 dan memohon bantuan dalam menghadapi penjajah Kolonial Belanda.

Tahun 1873, Aceh kembali mengutus seseorang ke Istanbul untuk menyatakan kesetiaan kepada kekhalifahan Ustmani dan meminta dukungan. Namun amat sangat disayangkan dalam waktu bersamaan, wilayah-wilayah di bawah Khilafah Utsmani juga banyak dijajah oleh negara Kristen Barat. Sehingga pada 13 Juni, Khalifah hanya bisa mengirim bantuan keagamaan bukan politik.

Selain itu, para ulama Khilafah Islam juga berhubungan baik dengan ulama di Nusantara. Bukti konkritnya pada abad ke 19 sampai 20. Aceh terlibat perang dengan penjajah Belanda dalam Perang Sabil. Para khatib banyak menyerukan jihad serta berharap dukungan dari ulama Turki. Namun, lagi-lagi Khilafah Islam Turki Utsmani tidak dapat memberikan dukungannya secara politik, dikarenakan banyaknya wilayah di bawah Khilafah Islam telah dijajah Barat. Hingga runtuhlah Kekhilafahan Turki pada 1924. (tintasiyasi.com, 01/08/2020).

Dari gambaran di atas, kita bisa mengetahui bahwa jejak Khilafah Islam di Nusantara begitu nyata adanya. Namun sayang, itu semua seolah-olah ditutupi dalam rangka pengaburan sejarah. Semoga dengan membahas sejarah Islam ini, semakin tumbuh keyakinan di hati bahwa Islam dulu pernah berjaya dan akan kembali sesuai janji Allah SWT.

Oleh: Siti Sopianti, SE. (Aktivis Dakwah Bekasi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.