Kepanikan Fir’aun

0 152

100Kiblatmuslimah.com – Saat mengetahui Musa akan pulang ke Mesir -setelah sepuluh tahun berada di Madyan sebagai tempat pengasingan- Fir’aun dan pembesarnya mulai panik dan gusar. Kehadiran Musa dinilai akan membawa dampak sosial dan politik yang sangat besar hingga berpotensi menggoyahkan singgasananya.

 

Mereka mulai menunjukkan sikap panik dengan menyampaikan provokasi hingga pelecehan kepada Musa, pengikutnya dan rakyatnya sendiri. Berkoar-koar di depan publik dengan mengatakan bahwa Musa adalah manusia biasa dan pengikutnya hanyalah segelintir orang saja.

 

(إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ)

 

“(Fir’aun berkata): ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israel pengikut Musa) benar-benar golongan kecil’.”

(QS. Asy-Syu’ara: 54)

 

Fakta di lapangan membuktikan ternyata pengikut Musa sangat banyak, Fir’aun semakin panik. Mereka pun menimbulkan antipati publik dengan mengatakan kalau Musa dan pengikutnya adalah kaum yang fasik.

 

(فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ)

 

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya, ‘Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.”

(QS. AZ-Zukhruf: 64)

 

Ternyata simpati publik kepada Musa semakin besar dan tidak terbendung. Fir’aun mulai mengancam keselamatan Musa serta mengintimidasi rakyatnya. Musa akan dibunuh dengan alasan punya niat dan maksud jahat kembali ke Mesir yaitu hendak mengganti agama serta merusak tatanan sosial dan budaya Bani Israil yang telah mapan dan kokoh.

 

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

 

“Dan Fir’aun berkata (kepada pembesar- pembesarnya), ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi’.”

(QS. Ghafir: 26)

 

Dari al-Qur’an kita tahu, akhirnya Nabi Musa berhasil menumbangkan kecongkakan dan tirani Fir’aun. Lihatlah, sejarah selalu berulang. Itu di antara kehebatan al-Qur’an yang senantiasa relevan dan aktual. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang kafir bahwa al-Qur’an isinya hanyalah dongeng masa lalu (QS. Al-Furqan: 5-6). Mahabenar Allah dengan segala Firman-Nya, Masya Allah, Tabarakallah.

 

 

Kajian Islam bersama Ulama Muda Kharismatik Banten:

  1. Enting Ali Abdul Karim, Lc, S.Pd.I, Al Hafizh (Pimpinan Ponpes Al Islam, Cipocok Jaya, Serang-Banten, Ketua Umum LUIB/Laskar Umat Islam Banten)

Leave A Reply

Your email address will not be published.