Kemuliaan Pendidik dalam Islam

0 83

Kiblatmuslimah.com – Dr. Moch. Natsir (Pejuang NKRI) berkata, “Kunci perbaikan Pendidikan terletak pada perbaikan kualitas guru. Sedangkan kualitas guru ditentukan oleh “Jiwa” sang guru itu sendiri”.

 

Nyanyian Umar Bakri, mengungkap sosok seorang guru/pendidik yang tabah dan tekun mendidik serta mengasuh muridnya, dengan penghasilan sekedar penyambung hidup. Orang ramai pun menyatakan bahwa guru adalah pahlawan, pejuang yang tulus ikhlas tanpa tanda jasa.

 

Di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, guru tergolong orang yang menjaga iffah (memelihara diri dari minta-minta). Lalu disangka kaya oleh orang-orang kurang perhatian (jahil), lantaran tidak sempat leluasa berniaga karena kesibukannya pada jalan Allah subhanahu wa ta’ala, yakni mengajar dan mendidik anak yang menjadi tanggung jawabnya. {QS. Al-Baqarah (2): 273}.

 

Di antara keutamaan menjadi guru/pendidik, adalah:

 

1) Memiliki sifat iffah (memelihara diri dari minta-minta), yang dihargai dan dihormati kedudukannya oleh Allah. Allah perintahkan kepada aghniya (orang kaya) dari murid/masyarakat/pejabat untuk memberikan perhatian khusus kepada mereka. {QS. Al-Baqarah (2): 273}.

 

2) Allah subhanahu wa ta’ala memberi balasan untuk guru/pendidik yang mendidik dan mengajarkan kebaikan atau pelajaran yang bermanfaat, sama seperti orang-orang yang melakukannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

Barang siapa yang menunjukkan/mengajarkan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu“. (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab Faidul Qadir, Juz. 6, Hal. 127, Penulis: Al-Imam Al-Manawy Rahimahullah).

 

3) Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat, penghuni langit dan bumi bershalawat (mendoakan) para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penghuni langit dan penghuni bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan dalam lautan, bershalawat (mendoakan) para pendidik manusia kepada kebaikan“. (Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 380).

 

4) Para guru dan pendidik senantiasa akan mendapatkan pahala dari Allah sebagai imbalan dari hasil pendidikan dan pembinaannya, meskipun dia sudah mati/wafat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“ Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap dia peroleh pahalanya, walaupun dia sudah wafat, adalah: Ilmu yang diajarkan dan disebarluaskannya; anak yang shalih yang ditinggalkannya; atau mushaf/pegangan misal buku-buku/ al-Quran/kitab-kitab yang ditinggalkannya; atau masjid yang dibangunnya; atau rumah untuk ibnus sabil yakni anak yatim piatu/panti jompo yang dibangunnya; atau saluran air yang dibuatnya; atau shadaqah yang dikeluarkannya dari harta kekayaannya pada waktu hidupnya (shadaqah jaariyah), itu semua dia akan mendapatkan pahalanya setelah dia wafat “. (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqy dari Aba Hir dalam Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 381).

 

Sejalan hadist tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dengan firman-Nya sebagai berikut,

 

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa saja mereka telah kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata“. {QS. Yaasiin (36): 12}.

 

Hubungan Profesi Guru dengan Dakwah Perintah dakwah dan tabligh (pengajaran) merupakan perintah yang tidak hanya ditujukan kepada para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Melainkan juga ditujukan kepada segenap umatnya, lebih-lebih para guru dan pendidik.

 

Perintah dakwah dan tabligh, banyak kita jumpai dalam Al-Quran, antara lain:

 

1) “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’izhah hasanah, dan bermujadah-lah dengan mereka dengan cara yang lebih baik ….“ {QS. An-Nahl (16): 125}.

 

2) “… dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.“ {QS. Al-Hajj (22): 67).

 

3) “… dan serulah mereka kepada (jalan) Rabbmu dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik.“

 

4) “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itu orang-orang yang beruntung.“ {QS. Ali-Imran (3): 104}.

 

5) “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.“ {QS. Ali-Imran (3): 110}.

 

Guru dan pendidik adalah da’i dan muballigh, yang mendakwahkan dan menyampaikan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Pada hakikatnya segenap ilmu yang baik dan berguna bagi manusia, merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hal itu untuk menunjang tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah fil ardh.

 

Guru/pendidik yang berhasil mendidik dan mengarahkan anak didiknya ke jalan yang diridhai Allah, sehingga menjadi seorang shalih dan bahkan mampu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmunya, dijanjikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan banyak balasan yang tak terhingga sebagai berikut:

 

Barang siapa yang membimbing/mendidik orang kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya, niscaya dia mendapatkan pahala sejumlah pahala orang-orang yang mengikuti, tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu; dan barang siapa yang mengajak/membimbing kepada kesesatan, niscaya ia mendapat dosa sejumlah dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka itu.“ (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah dalam Kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Penulis: Al-Imam Muslim, Hal: 492).

 

Sebagai guru, pendidik dan sekaligus sebagai da’i, hendaklah memiliki akhlak dan sifat-sifat sebagai berikut:

  1. a) Senantiasa mengharap ridha Allah, berbuat dan beramal dengan tulus ikhlas.
  2. b) Berdaya ingat kuat, bijak, cerdas, berpandangan luas dan jauh ke depan, mampu menganalisis cepat dan tepat serta mampu menerapkan dengan baik.
  3. c) Penyantun, penuh kasih sayang, lemah lembut dan ramah.
  4. d) Bersahabat, tidak kasar dan bengis/kejam.
  5. e) Berani dan sportif, tidak pengecut dan membabi buta.
  6. f) Shiddiq, benar dalam ucapan, sikap dan perbuatan, tepat dalam janji.
  7. g) Tawadhu’, tidak angkuh dan ‘ujub (membangakan diri).
  8. h) Pemaaf, menahan amarah dan berlaku ihsan.
  9. i) Memelihara sumpah setia.
  10. j) Sabar, tabah dan ulet.
  11. k) Iffahdan kiram(menjaga kehormatan diri).
  12. l) Wara’dan qana’ah(menjaga perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh dan merasa cukup dengan yang diperoleh).
  13. m) Adil meskipun terhadap diri dan keluarga.
  14. n) Tidak mengungkit dan tidak sombong.
  15. o) Memelihara kemulian diri.
  16. p) Berlapang dada dan tidak ceroboh (‘ajalah).
  17. q) Bertekad bulat, berkeyakinan kuat dan tawakal.
  18. r) Berpihak kepada yang benar dan memperjuangkannya.
  19. s) Sederhana, tidak berlebihan.
  20. t) Selalu optimis, tidak putus asa.

 

(Dikutip dari Agenda Dakwah/Agenda Mukmin, Terbitan: Qisty Saufa Abadi, Hal: 30-31 dengan perbaikan).

 

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab. Wa shallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil’ Alamiin. Maha Benar Allah subhanahu wa ta’ala dan Mahaagung. Wabillahit taufiq was sadaad maraji’.

 

Referensi:

 

1) Al-Quran dan Terjemah.

 

2) Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. 2005.

Paduan Menjadi Guru Teladan. Bogor: Pustaka Laka.

3) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. 2001. Bekal Juru Dakwah. Solo: Al-Qowam.

 

4) Abu Fatiyah Al-Adnani. 2002.

Buku Agenda Dakwah/Agenda Mukmin. Solo: Qisty Saufa Abadi.

5) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. 2005. Menyikapi Perbedaan Ulama. Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif.

6) Drs. Muhammad Thalib. 2001.

Praktek Rasululloh Mendidik Anak Bidang Akhlak, Intelegensi, Pergaulan, Emosi. Bandung: Irsyad Baitus Salam (IBS).

7) Budi Hartono. Inspiring for Success. Solo: Pustaka Iltizam.

 

8) Syaikh Abdul Fattah. Karena Ilmu Mereka Rela Membujang. Solo: Zam-zam Mata Air Ilmu.

 

 

Ditulis tepat memperingati Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun PGRI yang ke-74 tahun 2019, Profesional Religius dan Berinovasi.

 

Jakarta, 25 November 2019

Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd (Guru di SMAN di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat). Ditulis bersama suami, Abu Fayadh Muhammad Faisal, S.Pd, M.Pd, I (Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan, Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.