Kemenag Berulah, Para Ibu Gerah

0 58

Kiblatmuslimah.com – Muslimin terus menjadi bulan-bulanan para pembenci Islam. Mereka saling menyingsingkan lengan. Berpikir keras tentang cara menghentikan kebangkitan umat Islam yang makin deras. Berbagai cara dilakukan agar Islam yang semakin kental menjadi opini umum di tengah masyarakat, ditakuti dan ditinggalkan dengan berbagai label intoleran serta radikal.

Setelah sertifikasi ulama, muncul wacana izin majelis taklim tempat mangkalnya para emak ngaji dan menuntut ilmu. Apa yang ada dalam pikirannya? Kenapa sampai harus setakut ini?

Alasan Pak Menteri, sertifikasi majelis taklim supaya lebih tertib. Tertib dalam artian kaca mata pemerintah. Mana majelis taklim pro penguasa? Yang senang melakukan muhasabah kepada penguasa, siap-siap akan masuk daftar blacklist  (daftar hitam, red). Tentu sertifikasi majelis taklim membuat para emak resah.

Emak-emak resah bukan karena takut dicap radikal. Namun, majelis taklim adalah tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal. Majelis taklim adalah tempat para ayah dan suami yang penuh keridhaan melepaskan istri dan putrinya belajar mencintai Nabi dan syariatnya. Hanya mengharap surga Allah sebagai imbalan.

Harusnya Pak Menteri bahagia ketika banyak emak berkumpul dan duduk di majelis ilmu. Tempat itu  adalah rahim yang melahirkan para emak ideologis. Nantinya, ibu-ibu akan mengajarkan kembali kepada anak-anaknya tentang cara bergaul dengan lawan jenis, membersihkan najis sampai menciptakan generasi militan. Bukan generasi pengemis apalagi budak asing yang hanya duduk manis menikmati keuntungan berkomplot dengan rezim bengis.

Ketika majelis taklim harus disertifikasi, sanggupkah Pak Menteri berargumentasi di hadapan Sang Illahi Robbi? Karena telah lalai dalam mendidik emak-emak menjadi ibu dan pendidik generasi.

Pak Menteri harusnya belajar kepada Rasulullah. Majelis-majelis dihidupkan dari rumah ke rumah saat Rasul pertama kali mendakwahkan Islam di Mekkah. Majelis dibangkitkan untuk mengangkat manusia dari jahiliyah. Apa jadinya jika majelis dimatikan? Bagaimana emak-emak menjawab tantangan zaman?

Sudahlah Pak Menteri, akhiri semua ini! Emak-emak sudah gerah. Kami hanya rindu turunnya berkah yang berlimpah-limpah dari langit dan bumi.

Penulis: Mia Annisa (Narasumber Kajian Muslimah WAG MQ Lovers Bekasi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.