Kecelakaan Sejarah?

0 142

Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai

Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba ketika pisau nyaris memapas buah hatinya

Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah saat ia diperintah memukulkan tongkat

Di Badar, Rasulullah berdoa, bahunya terguncang isak

“Andai pasukan ini kalah, Kau tak lagi disembah”

 

Kiblatmuslimah.com – Adalah benar bahwa hidup tidak selamanya sesuai prediksi. Segala rencana dan ekspektasi tidak selamanya menjadi realita (barangkali). Namun Allah memang menguji, melihat seberapa kuat ketahanan seorang hamba dalam eksistensi(nya).

Hari ini, seorang kawan mengirim foto. Mengajak tertawa atas luka yang pernah kubuat sendiri. Membuatku merenung -lagi dan lagi- bahwa betapa kekanak-kanakannya diri ini. Mengedepankan ego diri atas kesedihan yang berkepanjangan. Menyesali segala keputusan mengiyakan permintaan mama dan papa untuk melanjutkan studi di tempat pilihan mereka. Berpikir bahwa kecelakaan sejarah dengan masuknya aku di sini.

Kembali aku mengingat memori yang lalu, hari ketika ujian masuk “Kampus Biru” diadakan. Di saat semua orang mati-matian belajar siang dan malam, melahap habis semua bentuk soal try out (latihan, ed) ujian masuk, berdoa tanpa lelah di waktu-waktu mustajab dan usaha usaha keras lainnya; Sedangkan aku, satu buku pun tak kubuka. Setahun semenjak lulus sekolah menengah tak pernah kusentuh buku berbahasa Arab.

Aku datang ke tempat ujian dengan keterpaksaan yang dipaksa-paksa. Aku datang dengan embel-embel “birrul walidain”. Saat wawancara, setelah mengetahui jawaban jujurku atas alasan ingin masuk kampus, sang penguji sempat memberiku nasihat bahwa ridha orang tua adalah ridha-Nya.

Saat pengumuman tiba, -dengan usaha dan doaku yang sepertinya tidak ada- sudah jelas bahwa namaku tidak akan tercatat di sana. Tentunya, aku bahagia. Lalu aku kembali menjalani hari-hariku sebagai mahasiswi psikologi di kampus lain. Sampai suatu ketika, temanku mengirimi pesan bahwa ada pengumuman mahasiswa baru untuk semester depan (LIPIA membuka pendaftaran tiap semester). Entah bagaimana ceritanya, namaku tercatat di sana.

Ketika mendengar pengumuman itu, hatiku campur aduk tidak karuan. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Singkat cerita, orang tuaku menyuruh pindah, meskipun mereka tetap menyerahkan keputusan akhir padaku. Aku tahu bahwa sejak awal mereka menginginkanku untuk belajar agama lebih dalam. Seperti ketika belajar di psikologi, aku pun diwajibkan mengikuti mulazamah ilmu agama di luar kampus. Di situ, aku merasa benar-benar diuji atas dua pilihan yang sama-sama baik.

Aku merenung, mencoba mengesampingkan ego. Setelah melihat perjalananku -yang sepertinya mustahil bisa diterima-, aku merasa bahwa Allah benar-benar menginginkanku kebaikan. Ia tunjukkan jalan-Nya, bahkan ketika tidak memintanya. Setelah istikharah dan meminta pendapat kepada orang terdekat juga guru-guruku, akhirnya kuputuskan untuk pindah.

Dua semester telah berlalu dan sangat bersyukur bisa berada di sini. Aku menemukan banyak teman shalihah, bertemu guru-guru yang tak henti mendoakan kebaikan untuk para mahasiswanya. Baru menyadari bahwa mempelajari bahasa Arab adalah kunci jika kita ingin mempelajari din-Nya. Aku merasa bahwa di zaman yang penuh syubhat dan fitnah ini, Kampus Biru adalah suatu nikmat besar yang patut disyukuri. Wa lillahil hamd.

 

آسف يا الله

عن كل مرة ظننت فيها أنك إبتليتني

و كنت تنقذني من البلاء

-Fatimah Az Zahra,

Mahasiswi semester 3 qism I’dad Lughowy LIPIA Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.