Kaset yang Diputar

0 88

  • Kaset yang Diputar

 

Kiblatmuslimah.com – Ramadhan adalah bulan paling istimewa di antara 12 bulan yang ada. Kenapa? Ya, karena bulan Ramadhan adalah fase perubahan. Merubah ulat menjadi kepompong.

Siapa sih yang gak geli kalau lihat ulat? Kalau kita dekat-dekat dengannya pasti bikin seluruh tubuh gatal-gatal. Sebagian ulat yang lain justru dibasmi sama tukang kebun karena mereka adalah hama. Memakan daun dan merusak tanaman. Bagi banyak orang, ulat adalah binatang pengganggu. Bentuknya tidak cantik dan tidak banyak membawa manfaat bagi manusia. Kecuali ulat sutra.

Dengan berbagai penilaian yang buruk, sang ulat tidak pernah menyerah. Ada suatu masa, dia merubah dirinya menjadi kepompong. Fase pembentukan dan perubahan. Sang ulat berpuasa selama masa yang dibutuhkan. Dia menempa dirinya setiap hari sambil terus bertasbih kepada Penciptanya. Dia sangat menyadari bahwa fase ini harus dilaluinya untuk mendapatkan bentuk yang terbaik dan lebih sempurna.

Setelah penuh puasanya dikerjakan, dengan perlahan dia berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Iya, butuh perjuangan. Jangan pernah kalian berpikir untuk membantunya. Karena usaha-usaha itu dia butuhkan untuk menguji kemampuannya, seberapa kuat dia ingin menjadi sempurna. Tugasmu hanya menyemangatinya.

Ulat yang dulu dibenci banyak orang, lihatlah kini menjadi seekor kupu-kupu! Sayapnya gagah. Warnanya membias bola mata. Setiap orang memujinya. Manusia lupa bahwa dia adalah ulat yang dulu tidak disukainya.

 

Nah, kita ini sama seperti ulat-ulat itu. Banyak keburukan.

Kepompong Ramadhan, fase kala manusia bisa menempa diri mereka untuk menjadi hamba yang lebih taat kepada Penciptanya dan menjadi bermanfaat untuk sesamanya.

Yang biasanya jarang baca Al-Qur’an, jadi rajin sekali membacanya. Bahkan semangat menambah hafalannya. Yang tadinya pelit, jadi suka memberi. Yang tadinya bakhil, menjadi dermawan. Yang semula jauh dari Allah, jadi semangat beri’tikaf, taqarrub kepada Allah.

Tapi kadang, rutinitas selama bulan Ramadhan itu hanya seperti kaset diputar. Ketika musiknya selesai, kaset itu akan dilepas. Ketika ingin mendengarnya lagi, kembali kita memasangnya.

Ketika Ramadhan datang, kita semangat sekali melakukan amalan-amalan yang jarang sekali dilakukan setiap harinya. Tetapi begitu Ramadhan usai, selesai juga amalan-amalan tersebut untuk dikerjakan. Padahal mengerjakannya di luar Ramadhan tetaplah penting, meskipun mengerjakannya di bulan Ramadhan juga tidak kalah penting.

Sudah sempurnakah kita menjadi kupu-kupu? Lihatlah diri kita sendiri setelah Ramadhan usai! Setelah keluar dari kepompong Ramadhan. Apakah semakin taat ataukah malah amalan-amalan kita kembali cacat?

Semoga Allah senantiasa berkenan menjadikan hati kita untuk selalu cinta kepada kebaikan dan amal shalih. Sampai jumpa di Ramadhan berikutnya.

Mita J.S.

Leave A Reply

Your email address will not be published.