Kala Musibah Menimpa kaum Muslim

0 157

Kiblatmuslimah.com – Banjir terjadi di Jabodetabek dan Banten. Bagaimana sikap kita sebagai Muslim?

 

Musibah kerap kali menimpa kehidupan anak manusia. Seperti bencana alam berupa gunung meletus, banjir bandang, gempa bumi, angin topan, tsunami dan masih banyak lagi. Termasuk sakit menahun, kemiskinan, kegagalan membina rumah tangga, PHK, kecelakaan, dan kematian.

 

Bagi seorang muslim, musibah adalah setali tiga uang dengan anugerah. Seperti kekayaan yang melimpah, kedudukan atau jabatan, kesehatan yang prima, panjang usia dan semisalnya. Musibah ataupun anugerah, semuanya adalah sunnatullah yang telah Allah takdirkan untuk menguji hamba-hamba-Nya.

 

Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai hamba-Nya maka Dia mengujinya terlebih dahulu walaupun dengan musibah. Secara kasat mata, musibah memang identik dengan kesengsaraan dan kepahitan. Namun percayalah, setelah si hamba mampu melewatinya niscaya kebahagiaan dan kenikmatan serta merta akan direguknya.

 

Ibarat seorang siswa yang sedang bersekolah dan ingin naik kelas, tentu harus melalui tes atau ujian terlebih dahulu. Begitulah kehidupan si hamba. Jika ingin naik derajat dan tinggi nilainya di sisi Allah ta’ala, harus melewati ujian-Nya. Lalu bagaimanakah sikap positif seorang muslim saat musibah menimpanya?

 

Pertama, jangan marah.

 

Sebagaimana Sabda Nabi,

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ :(( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki telah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). [1]

 

Ada sebuah atsar yang sangat bagus dari imam Hasan al-Bashri. Beliau pernah menyatakan, “Allah ta’ala akan melindungi hamba dari syaithan dan mengharamkan neraka, jika dapat menguasai empat hal yaitu sesiapa saja yang mampu menguasai keinginannya, kesenangannya, syahwatnya dan marahnya”. [2]

 

Alloh ta’ala berfirman,

 

{ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) }

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran: 133-134)

 

Ada kisah menarik terkait ayat tersebut. Ali bin Husain hendak menunaikan shalat, dipanggilnya seorang budak untuk membantunya menuangkan air wudhu. Saat membasuh wajah, kendi yang dipegang si budak terjatuh dan melukai wajah Ali. Rupanya budak itu kurang erat memegangnya. Memerah padam wajah Ali, ia pandangi budaknya itu. Wajah budak itu pun pias, pucat pasi. Belum sempat Ali melampiaskan kemarahannya, budak itu membaca ayat ke-134 surat Ali ‘Imran, “Dan orang-orang yang menahan amarah ….”

 

“Aku tahan amarahku,” ucap Ali dan wajahnya pun tidak memerah lagi.

“… dan memaafkan manusia …,” sambung budak itu. “Aku maafkan kesalahanmu,” sahut Ali dan wajahnya mulai berbinar. “… dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan,” budak itu menyelesaikan bacaannya. “Baiklah, mulai saat ini kamu bebas, merdeka, karena Allah ta’ala,” kata Ali dan wajahnya pun berseri-seri. [3]

 

Kedua, Sabar.

 

Sabar yaitu menahan nafsu dari ketergesa-gesaan, menahan lisan dari keluhan dan menahan anggota badan dari memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian (sebagai ungkapan kesedihan). [4]

 

Ketika musibah telah menimpa, maka sabar adalah sebuah keniscayaan. Sabar mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam, bahkan semua perkara Din ini berdiri di atasnya.

 

Sabar terhadap perintah Allah ta’ala dengan menjalankannya. Sabar terhadap larangan-Nya dengan menjauhinya. Sabar dalam menghadapi musibah yang dihadapi, dengan menerima dan tidak menyesalinya [5]

 

Allah ta’ala telah berfirman,

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

 

Dalam tafsir Jalalain di sebutkan,

 

{ وَبَشّرِ الصابرين } على البلاء بالجنة .

Maksudnya kabar gembira bagi orang yang sabar adalah surga atas bala’ yang menimpa mereka. Ya, orang-orang yang sabar ketika ujian dalam bentuk musibah akan mendapatkan jannah-Nya kelak.[6]

 

Lalu Allah ta’ala melanjutkan,

 

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

Artinya, “(yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-157)

 

Adapun di dunia sebagaimana ayat tersebut di atas, balasan bagi orang-orang yang sabar atas musibah yang menimpanya adalah akan mendapatkan berkah, rahmat dan petunjuk-Nya.

 

Ketiga, Ridha.

 

Ridha artinya berlapang dada atas ketetapan-Nya. Sabar terhadap musibah adalah kewajiban. Namun ridha terhadap musibah merupakan keutamaan tersendiri. [7]

 

Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha, ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barang siapa yang kesal atau benci niscaya ia mendapatkan murka-Nya.” (HR. At- Tirmidzi).

 

Alangkah eloknya pernyataan Abdullah bin Mas’ud terkait keridhaan walaupun tertimpa musibah sekalipun. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah ta’ala dengan keadilan dan ilmu-Nya telah memberikan musibah. Lalu menjadikan kesejahteraan dan kegembiraan pada orang yang bersikap yakin dan ridha. Sebaliknya, menjadikan kesusahan dan kesedihan pada orang yang bersikap ragu dan murka”.

 

Maha suci Allah yang telah berfirman,

 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (11)

Artinya, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Ath-Taghabun: 11).

 

Alqamah berkata, “Ayat ini terkait dengan musibah yang menimpa seseorang lalu memahami bahwa musibah itu datang dari Allah maka ia pun pasrah dan ridha.” [8]

 

Jadi, ridha adalah pintu Allah yang terbesar, surga dunia dan tempat istirahatnya para ahli ibadah. Demikianlah Abdul Wahid bin Zaid berpendapat.

 

Keempat, Syukur.

 

Inilah puncak keimanan seseorang. Walaupun yang diterima adalah musibah, dia akan tetap bersyukur.

 

Allah menegaskan,

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

Artinya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”(QS. Ibrahim: 7)

 

Orang yang layak diteladani saat ditimpa musibah adalah Syuraih. Dari Asy-Sya’bi diceritakan bahwa Syuraih pernah berkata, “Sesungguhnya aku telah ditimpa musibah. Namun aku malah memuji Allah atas musibah tersebut sebanyak empat kali. Pertama, aku memuji Allah karena musibah yang aku terima tidak lebih besar. Kedua, aku memuji Allah karena Dia telah memberiku rezeki berupa kesabaran untuk menerimanya. Ketiga, aku memuji Allah karena telah memberiku taufiq untuk kembali kepada-Nya dengan mengharapkan pahala yang dijanjikan. Keempat, aku memuji Allah karena tidak menjadikan musibah menimpa agamaku.” [9]

 

Demikian kiranya sikap seorang muslim ketika musibah menimpanya. Semoga Allah ta’ala menguatkan iman kita atas segala musibah yang diterima. Menjadikan musibah ini sebagai media tarbiyah/pendidikan sehingga menjadi insan beriman dalam arti yang sebenarnya. Kita dapat mengambil hikmah dari ujian berupa penderitaan ini. Aamiin, Ya Mujibas Sa’iliin.

 

Bisa jadi karena kemaksiatan dan kemungkaran di malam Tahun Baru, musibah ini terjadi. Sungguh jika Allah murka, maka adzab-Nya akan menimpa semuanya, tidak hanya para pelaku kemaksiatan saja.

 

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 25,

 

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antaramu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

 

Doa orang yang tertimpa musibah,

 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللَّهُمَّ أُجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا.

 

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali (di hari Kiamat). Ya Allah, berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku).” (HR. Muslim 2/632)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang tertimpa suatu musibah, kemudian ia mengucapkan ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun, Allahumma’jurnii fi mushiibati wa akhlif li khairan minha‘, kecuali Allah ta’ala akan memberinya pahala dari musibah tersebut dan pengganti dengan yang lebih baik daripada musibah itu.” (HR. Muslim, Sanad Shahih)

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.

Maraji’/Referensi:

  1.       Tazkiyatun nufus – Syaikh Ahmad Farid- Darul Qolam – Beirut – Libanon- tanpa tahun
  2.       Aina Nahnu min Akhlaq As-salaf – Syaikh Abdul ‘Aziz bin Naashir Al-Julayyil + Syaikh Bahaauddin bin Fatih al-‘Aqil – Daaruth Thaybah – Riyadh – 1414 / 1993 M.
  3.       Al-Wafie Fie Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah – Dr. Mushtofa al-Bugho + Syaikh Muhyiddin Mistuu – Maktabah Daarut Turots – Madinah  Munawwaroh – 1413 H.
  4.       Tafsir Jalalain – versi Maktabah Syamilah.
  5.       Majalah ar-Risalah No. 50 / Th. V Jumadil Tsaniyah – Rajab 1426 H / Agustus 2005 M
  6.      Situs Website Yayasan Islam Al Sofwa Lenteng Agung Jakarta di www.alsofwa.com

✍� Ditulis ketika Kebanjiran di Bekasi Jawa Barat, 1 Januari 2020 M

 

Al-Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal, S.Pd, M.Pd.I -Hafidzhahullah Ta’ala-

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Aktivis Pendidikan, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal)

*****

[1] Al-Wafi, hal 110. Azab

[2] Ibid, hal 112.

[3] Majalah ar-risalah, hal 8

[4] Tazkiyatun Nufus, hal 84

[5] Ibid, hal 87

[6] Tafsir jalalain, jilid I hal 161

[7] Tazkiyatun Nufus, hal 106

[8] Ibid, 107

[9] Aina Nahmu min Akhalaq as-salaf, hal 85

Leave A Reply

Your email address will not be published.