Kala Musibah Mendera

0 164

Kiblatmuslimah.com – Dunia adalah tempat manusia diuji. Allah akan memberikan ujian dan musibah kepada semua manusia. Tentunya Allah memiliki tujuan, kenapa manusia harus menjalankan musibah atau ujian ini. Agar Allah mengetahui bagaimana sikap hamba-hamba-Nya. Siapa sajakah yang sabar dan ridha atas ketetapan-Nya, begitu pula sebaliknya murka terhadap takdir-Nya.

Di masa pandemi ini, banyak sekali kita mendengar berita kematian. Mungkin sehari bisa sampai 3-5 berita kematian. Bahkan dalam beberapa waktu saja, beruntun kehilangan beberapa saudara. Orang-orang dekat telah pergi meninggalkan. Tentu dada terasa sesak jika mengalami hal itu. Lalu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi musibah ini?

Mungkin di antara kita ada yang diuji sakit, sampai diharuskan untuk isolasi mandiri. Ada gejala sakitnya ringan, berat atau sedang bahkan sampai dibawa ke rumah sakit. Semua itu merupakan bentuk ujian atau musibah yang harus dijalani. Bagaimana sikap dalam menerima ujian ini?

Saat manusia didera musibah atau ujian, tentunya berbeda-beda keadaan dan sikapnya. Ada yang lemah dan berputus asa. Ada yang sabar, ikhlas dan menahan diri dari putus asa. Bahkan ada pula yang bersyukur.

Ibnul Qayyim menuliskan bahwa dalam menghadapi musibah yang menerpa dan tidak ada daya untuk menolaknya; Seperti kematian orang yang dicintai, harta yang dicuri, sakit dan sebagainya. Dalam hal ini, seorang hamba akan menghadirkan 4 tingkatan keadaan.

  1. Keadaan lemah. Berkeluh kesah dengan hati, lisan atau anggota badan. Keluh kesahnya hati dengan perasaan marah dan kecewa kepada Allah. Lisan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor, merasa bahwa Allah telah mendzaliminya. Anggota badan menampar pipi, memukul kepala, menjambak rambut, atau merobek baju. Sikap orang yang tidak tahan ujian.

Tingkatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang berakal, minim agama dan perangainya. Mereka ini akan terhalang mendapat pahala, justru akan mendapatkan dosa. Dengan sikap ini, mengumpulkan 2 perkara. Musibah dalam agama dan dunia dengan datangnya perkara yang mendatangi. Semoga kita terhindar dari sikap seperti ini. Na‘uzubillah min dzalik.

  1. Tingkatan sabar. Bersabar dalam menghadapi musibah dengan menahan diri. Tidak membenci musibah, tidak pula menyukainya. Tidak suka musibah ini terjadi, namun bisa menahan diri dan tidak mengucapkan perkataan yang mengundang kemurkaan Allah. Tidak melakukan perbuatan yang membuat Allah marah. Di hatinya tidak ada ganjalan sama sekali. Bersabar atas musibah yang menimpa, tetapi tidak menyukainya.
  2. Tingkatan ridha. Ridha atas ketentuan Allah. Lapangnya dada dalam menghadapi musibah yang terjadi dan keridhaan yang sempurna. Seakan-akan dia tidak didera musibah.Tingkatan kedudukan ini lebih tinggi dari tingkatan sabar.
  3. Tingkatan syukur. Selalu bersyukur atas semua ketentuan Allah. Baik dia mendapatkan nikmat atau ujian dari Allah, hamba ini selalu bersyukur atas semua ketetapannya. Tingkatan ini adalah paling tinggi. Hamba yang berada di dalam tingkatan ini, mempersepsikan ujian sebagai nikmat, maka ia mensyukurinya.

Sebagaimana Rasulullah, ketika melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, berucap,

“Segala puji bagi Allah atas segala keadaan”.

Di antara 4 tingkatan di atas, di manakah letak tingkatan kita ketika terkena musibah atau ujian?

Dengan mempelajari 4 tingkatan di atas, semoga bisa membuat kita lebih baik dalam menerima sebuah ujian atau musibah. Sebagai seorang muslim, paling tidak kita berada di tingkatan kedua yaitu bersabar dalam menghadapi musibah. Jika berhasil, semoga bisa meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu ridha atas ketentuan Allah. Bahkan berada di tingkatan keempat yaitu syukur atas ketentuan Allah. Berlindung jangan sampai berada pada tingkatan pertama. Karena itu merupakan seburuk-buruk keadaan seorang hamba dalam menghadapi ujian atau musibah.

Jika seseorang dapat memosisikan diri pada tingkatan keempat, artinya ketundukan, kepasrahan dan ketawakalan; hamba tersebut berada di dalam posisi tertinggi. Dia akan mendapatkan pahala dan tempat terkhusus di sisi Rabb-Nya. Dia sudah pasrah, yakin dan ikhlas bahwa semua ujian atau musibah yang terjadi pada dirinya merupakan ketetapan terbaik untuknya. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba tersebut. Amin, amin, ya RabbalAlamin.

 

Oleh Fyrda Ummu Farhat

Sumber: Zhofir bin Hasan Alu Ka’ban. Panduan Tazkiyah sesuai Sunah. Sukoharjo: Al-Qowam.

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.