Kado untuk Kakak

0 37

Kiblatmuslimah.com – Terlihat sedari tadi Salwa menarik-narik selimut sang adik yang baru genap 7 hari lahir. Dia tidak peduli seberapa banyak mata memandang. Bahkan baginya semakin banyak yang menyaksikan ulahnya, semakin aktif dia mencari cara untuk mengganggu kenyamanan tidur sang adik.

Ibunya sesekali mengibas tangan mungil Salwa yang hanya terpaut usia 2 tahun dengan adiknya, agar tidak selalu menarik selimut adik. Namun, semakin sang ibu melarang, Salwa semakin membabi buta.

Dilarang menarik selimut, Salwa berganti ulah menarik kaos tangan adik. Sebentar berganti lagi menarik topi adik.

“Salwa, bermain dulu di luar, ya…. Ini masih banyak tamu. Malu dong kalau kakak nakal sama adik,” pinta sang ibu.

Bukan malah menuruti, Salwa pindah ke tempat bedak adik diletakkan. Kemudian menghambur-hamburkan ke seluruh tubuhnya, juga ke lantai dan semua benda yang ada di sekitarnya.

Alhasil, sang ibu mulai membentak Salwa. Sejurus kemudian Salwa menangis meraung-raung.

Mungkin kejadian seperti tadi sering ditemui, saat anak kita mulai kedatangan seorang adik baru. Dalam bahasa Jawa diistilahkan dengan ‘jemarinen’, artinya adalah bentuk tingkah laku yang berubah drastis setelah memiliki adik baru, cenderung buruk, tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. Tak ayal membuat orang lain yang melihat menjadi marah atau teruji kesabarannya.

Sebenarnya bentuk perilaku seperti Salwa tadi adalah akibat perasaan shifted posisi. Artinya, perasaan bahwa posisinya tergantikan orang lain. Sebagai akibatnya muncul kecemburuan dan perasaan tidak diperhatikan.

‘Kenakalan’ yang Salwa perlihatkan (dan sengaja ia tunjukkan) kepada ibunya, juga kepada para tamu yang tengah menengok kelahiran adik, adalah bentuk mencari perhatian dan keinginan diakui eksistensinya. Bukan sebuah perilaku yang dimaklumi, karena sebenarnya bisa diatasi sedini mungkin.

Sebelum adik lahir, biasanya ibu sudah mulai menyiapkan keperluan untuk sang adik (membeli popok, baju bayi, bedak bayi, keperluan mandinya, dan sebagainya). Jangan sekali-kali kita sembunyikan semua ini di depan kakaknya, tetapi libatkan dia. Katakan bahwa kita akan kedatangan seorang adik lucu yang akan menemani kakak. Biarkan kakak merasakan tendangan adik dengan mendekatkan ujung tangannya di perut ibu. Bersering untuk menasihati kakak agar kita sama-sama menjaga adik dan menyayanginya. Mengajarinya hal-hal yang baik, karena adik lebih kecil dan lebih lemah daripada kakak.

Hal ini akan menyiapkan psikologis sang kakak hingga nanti saat adik lahir. Sang kakak tahu yang semestinya dia lakukan. Akan lebih mendewasakan mentalnya dan ini akan berimbas pada sikapnya terhadap orang lain.

Yang perlu diperhatikan ibu adalah tetap menyayangi kakak dan tidak ‘menganaktirikannya’. Kehadiran adik adalah suatu hal yang membutuhkan proses adaptasi baginya. Jika ditambah dengan perlakuan orang lain yang kurang adil, tentu akan memperberat jiwanya.

Jika nanti akan banyak kado untuk sang adik, buatkan pula kado untuk sang kakak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَهَادُوْاتَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no.1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya)

Untuk para tamu, hendaklah tidak melulu kado buat adik dan ibu. Tetapi memberikan kado khusus buat sang kakak, apa salahnya?

 

📝Yasmin al Asyfaqo (25112018)

Leave A Reply

Your email address will not be published.