Jangan Lupa Jalan Pulang

0 334

Kiblatmuslimah.com – Di tengah hiruk pikuk dunia yang tidak ada habisnya, kerumunan manusia yang saling berlomba untuk mengumpulkan harta, meninggikan pangkat, dan hal duniawi sebagainya; Kita seolah disuruh untuk merenung dan bermuhasabah atas banyaknya kabar kematian orang-orang shalih yang silih berganti. Semoga kabar duka tidak hanya berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan manfaat bagi kita.

Kematian seseorang hari ini harusnya menjadi nasihat bagi kita bahwa hidup yang dijalani ada batas waktunya masing-masing. Sejatinya hanya menunggu giliran, hari ini ditinggalkan, kelak akan meninggalkan. Tidak bisa memilih dimana dan kapan akan mati. Namun bisa memilih dalam keadaan bagaimana akan mati.

Dalam status facebook DR.’Ajuz, dosen LIPIA Jakarta, beliau berkata,“Jangan menangisi apa yang sudah pergi, tapi tangisilah dirimu yang masih berada dalam dunia yang penuh kesusahan dan ujian.

Ya, hidup ini memang hanya ujian dan senda gurau belaka. Di dalamnya terdapat bermacam fitnah, syubhat yang menguji ketahanan kita dalam menaati perintah-Nya. Alangkah bahagianya jika dapat “pulang” ketika masih hidup. Menyadari bahwa gelar, harta, maupun perhiasan yang kita kumpulkan tidak membawa manfaat apapun untuk kehidupan abadi selanjutnya. Sebagaimana dalam hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih.” (HR. Muslim no. 1631)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pemahaman pada kita apabila seseorang meninggal, terputus segala amalnya. Ia tidak akan lagi bisa berbuat sesuatu, beramal baik yang dapat menambah nilai pahala, maupun beramal buruk yang dapat menambah beban dosa.

Namun demikian, orang yang sudah meninggal tetap bisa mendapat manfaat atas amal yang dilakukan oleh orang lain yang masih hidup. Hal tersebut tampak dalam hadits di atas. Anak shalih yang senantiasa berbuat kebaikan dan mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal maka amal baiknya menjadi manfaat. Di sini seorang muslimah memiliki tanggung jawab besar karena anak shalih tidak lahir melainkan dari ibu yang shalihah dan berilmu.

Demikian halnya dengan sedekah jariyah, misalnya wakaf dari seorang yang kini sudah meninggal. Selama wakafnya dipergunakan oleh orang-orang untuk melakukan ibadah dan berbuat kebaikan, yang meninggal mendapat pahala atas kemanfaatan yang berjalan.

Begitu pula dengan ilmu yang dimanfaatkan, misalnya seseorang yang kini sudah meninggal pernah mengajari saudaranya membaca Qur’an. Selama saudaranya membaca Qur’an dan mengajari orang lain pula, yang meninggal mendapat pahala atas ilmu yang dimanfaatkan itu.

Semoga dengan mengingat hakikat kehidupan bahwa dunia ini hanya tempat mencari bekal, membuat kita lebih bersemangat lagi dalam melazimi ketaatan dan menebar kebermanfaatan.

Nas’alullah assalaamah wal ’aafiyaah.

-Fatimah Az Zahra

Leave A Reply

Your email address will not be published.