Istri Setenang Malam (Bag. 2)

0 152

Kiblatmuslimah.com – Malam adalah waktu yang tak mungkin digantikan oleh siang. Begitulah seorang istri. Menjadi seseorang di dalam kehidupan suami yang tidak tergantikan oleh siapapun. Tidak kakak dan adiknya, tidak orang tuanya apalagi hanya temannya. Mungkin suami bisa menumpahkan unek-unek jiwanya kepada kerabat atau teman akrabnya. Tetapi istri adalah tempat menumpahkan curahan yang paling tepat.

Malam adalah waktu istimewa yang tidak dimiliki oleh siang. Sepertiga malam adalah waktu yang langsung dihadiri Allah dengan rahmat, keberkahan, pengabulan doa, dan ampunan. Begitulah istri, sangat istimewa. Mungkin tidak secerdas orang lain dalam bertukar pikiran. Mungkin tidak sehebat teman dalam merencanakan. Tapi dalam diri istri ada keberkahan dan rahmat bagi suami. Keberkahan dan rahmat jauh lebih mahal dari sekadar kecerdasan otak. Dan itu hanya dari istri.

Malam adalah musim semi bagi orang beriman. Apalagi jika musim dingin dan waktu malam berjalan lebih lama. Meski telah tidur dalam waktu yang  sangat cukup, namun masih tersisa banyak waktu untuk seorang muslim bermunajat kepada Penciptanya. Tempat mengadu, berkeluh kesah dan berdoa. Istri pun harus menjadi musim semi bagi suami. Berbunga-bunga, indah, sejuk, menyegarkan, dan menyenangkan. Tempat seorang pujangga mengukir kalimatnya lebih indah di antara semilir angin yang memainkan dedaunan.

Istri yang menjadi penampungan bagi semua keluhan dan keluh kesah suami. Sesuatu yang harus disyukuri, jika istri menjadi tempat berkeluh kesah suami. Bukan justru merasa keberatan. Karena itu artinya sang istri telah menjadi malam yang tenang bagi suami. Mempercayakan semua tumpahan jiwanya yang tidak pernah dia percayakan kepada siapapun di muka bumi ini.

Air mata seorang laki-laki bisa meleleh di pangkuan istrinya. Menangis bak anak kecil, padahal di luar sana ia bak singa sang raja. Menyampaikan rapuhnya diri dan jiwa, padahal di siang hari ia adalah orang paling kokoh yang dikenal orang. Semua itu bisa terjadi, saat istri menjadi musim semi bagi suaminya.

Malam tempat keindahan tiada tara. Gemerlap bintang di langit dan cahaya bulan memang tidak sekuat sinar matahari di siang hari. Justru di sini bedanya. Tetap bercahaya tetapi tanpa rasa panas membakar dan tidak menyilaukan. Siapapun akan senang berlama-lama menatap langit dengan kerlap-kerlip bintang dan senyum bulan purnama. Lisan ini akan bertasbih dan memuji-Nya, sebagai iringan yang membuat semuanya semakin syahdu.

Istri bak bintang dan rembulan. Indah untuk dipandang. Tak pernah bosan, bahkan tak kuasa mata suami untuk mengalihkan pandangan pada  yang lain. Cahaya istri begitu bersinar tapi tidak membakar. Sungguh  indah. “Alhamdulillah ya Robb, Kau kirimkan dia dalam hidupku”, desah lisan suami.

Malam, sepanjang apapun pasti akan berlalu. Tapi berlalunya malam untuk menyambut pagi yang penuh berkah. Langit mengawali hari dengan cahaya tipis nan  indah. Pagi yang menghembuskan nafasnya, mengirimkan sepoi angin yang sejuk. Pagi mengawali semangat untuk bertarung di siang hari.

Istri pun demikian. Kebersamaan suami di samping istri, membuat tenang dan semangat. Istri yang memerankan fungsi malam dengan baik, akan menjadi cahaya pagi yang berkah bagi suami. Malam akan terus memerankan dirinya. Istri akan terus meniru malam untuk mendampingi suaminya. Agar esok pagi sang suami bisa mengucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku setelah mematikanku.”

Mungkin masih banyak hak malam yang tidak dipenuhi oleh tulisan ini. Tetapi yakinlah bahwa malam adalah nikmat dan anugerah sangat besar, sehingga harus selalu bersyukur. Sebagaimana istri adalah anugerah yang besar di dunia ini bagi suami.

 

Sumber:

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/istri-parenting-nabawiyah/66-istri-setenang-malam

Leave A Reply

Your email address will not be published.