Istri Setenang Malam (Bag. 1)

0 207

Kiblatmuslimah.com Al-Qur’an memang menyimpan mukjizat. Kalimat-kalimatnya semua mukjizat, bahkan kata-kata dan hurufnya.

Kita akan melihat cara Allah memberikan isyarat ringan tapi sangat dalam tentang peran seorang istri bagi suaminya. Istri setenang malam.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini sangat terkenal. Ayat ini dibaca berkali-kali dalam satu pertemuan akad nikah. Dari mulai pembawa acaranya, penghulu, sampai ustadz sang penyampai nasihat pernikahan. Kata sakinah, mawaddah dan rahmah juga sangat akrab saat bicara tentang keluarga. Kata-kata bahasa Arab itu seakan telah menjadi kata yang diindonesiakan. Ketiga kata itu memang ada dalam ayat di atas.

Menurut teks aslinya, ayat tersebut menyampaikan kepada suami tentang istri yang diciptakan dari diri sang suami sendiri. Mengingat Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, sebagaimana dalam hadits yang shahih. Istri harus bisa memberikan kepada suaminya; sakinah, mawaddah dan rahmah (ketenangan, cinta dan kasih sayang). Jika kita mencari dalam Al-Qur’an kata لِتَسْكُنُوا (agar kalian merasa tenang), maka kita akan menjumpai kata ini disebut 4 kali. Yang pertama adalah ayat tentang keluarga di atas. Dan yang 3 sisanya ayat-ayat berikut ini:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوافِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. Yunus: 67)

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوافِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang. Supaya kamu beristirahat pada malam itu dan mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS. Al-Qashash: 73)

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوافِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Allah yang menjadikan malam untuk kamu supaya beristirahat; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan tidak bersyukur. (QS. Ghafir: 61)

Allahu Akbar! Ternyata tiga ayat tersebut bicara tentang malam sebagai tempat istirahat dan ketenangan yang merupakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah untuk manusia.

 

Kata لِتَسْكُنُوا (agar kalian tenang) menjadi tema ayat-ayat di atas. Sekarang kita bisa mengatakan, seharusnya istri setenang malam bagi suaminya.

Setelah ini, silakan digali yang dalam. Bagaimana ketenangan malam bagi kita? Begitu seharusnya istri berperan bagi sang suami. Malam adalah saat lampu bumi dipadamkan. Tak lama lagi, lampu rumah-rumah pun akan segera mengikutinya.

Cahaya yang terang bersinar, berapi-api, menyala, terkadang membuat silau mata. Lalu dipadamkan karena waktu malam telah tiba. Agar semua bisa istirahat. Seorang istri harus ‘memadamkan’ jiwa, hati dan lisannya. Dari berapi-api, semangat yang menyala, menyilaukan, menjadi lisan dan jiwa yang teduh serta mengistirahatkan bagi suaminya. Rendahkan hati dan lisan. Pilihlah kalimat yang teduh dikirimkan dari hati yang tawadhu’, qona’ah dan ridha. Tempat merebahkan punggung. Istirahat dalam tidur yang tak tergantikan.

باسمك وضعت جنبي (dengan nama-Mu, aku rebahkan punggungku ini).

Begitu bunyi salah satu doa sebelum tidur kita. Istri harus mampu menjadi tempat suami merebahkan jiwanya. Saat lelah mendera dalam semua tugas mulia seorang suami.

Ketika seorang laki-laki perkasa menyandarkan kepalanya di tembok dengan mata terpejam, karena kepenatan. Saat itu sang istri harus menjadi tempat bersandar kepala berikut jiwa sang suami, berjumpa dalam peraduan mereka berdua.

Manakala seorang suami tak mampu mengangkat kepalanya karena ditundukkan oleh berbagai beban. Saat itu sang istri harus mampu menjadi penyegar, penyemangat hingga kepala itu tegak kembali.

bersambung …

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/istri-parenting-nabawiyah/66-istri-setenang-malam

Leave A Reply

Your email address will not be published.