Istri Memborong Pahala

0 419

Kiblatmuslimah.com – Sayyidatina Asma’ binti Yazid Anshari radhiyallahu ‘anha adalah seorang shahabiyah. Suatu ketika ia mendatangi baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku kukorbankan untukmu. Aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh engkau utusan Allah Subhaanahu wa ta’ala bagi kaum laki-laki dan juga wanita. Untuk itu, kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dan kepadamu. Kami kaum wanita, selalu tinggal di dalam rumah, dibatasi oleh hijab-hijab, dan sibuk berkhidmat kepada suami.”

“Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki dapat melakukan amalan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat Jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama, mereka dapat berjihad di jalan Allah Subhaanahu wa ta’ala. Jika mereka sedang mengerjakan haji, umrah atau jihad, kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka, dan memelihara anak-anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?” lanjutnya.

Begitu mendengar perkataan ini, beliau berpaling kepada para shahabatnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik dari pada pertanyaan wanita ini?” Para shahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan bertanya seperti itu.”

Kemudian beliau berpaling kembali kepada Sayyidatina Asma’ Radiyallahu ‘anha dan bersabda, “Dengarkanlah, dan perhatikanlah dengan seksama, kemudian sampaikanlah kepada para wanita muslimah yang mengirimmu ke sini! Apabila istri selalu berbuat baik kepada suaminya, dan membahagiakannya, maka kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan yang diamalkan oleh suami kalian.” Mendengar jawaban baginda Nabi Shallallahu ‘alaihiwasallam itu, Sayyidatina Asma’ radhiyallahu ‘anha sangat gembira. Kemudian ia segera kembali. (dari kitab Usudul Ghabah)

Kisah di atas menjelaskan bahwa, walaupun seorang istri berdiam diri di rumah, mereka bisa memborong pahala dengan berbuat baik kepada suami dan berusaha membahagiakanya. Berusaha sabar apabila di tinggal, qona’ah dengan pemberianya dan selalu menyenangkan jika di pandang. Ketika istri mendukung suami untuk berdakwah atau berjihad dan istri ridha ditinggal suami untuk berdakwah. Senantiasa menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkannya secara ikhlas. Maka insyaallah istri akan mendapatkan pahala yang didapatkan oleh suami.

Jika suami sedang belajar di rumah, maka berusaha agar tidak “mengganggu” suami dan menjaga anak-anak agar mereka tidak menyibukkan ayahnya. Ridha jika suami sering keluar untuk keperluan ilmu dan dakwah. Walaupun terkadang merasa berat. Apalagi yang dirasakan oleh ibu-ibu hamil yang mengalami kepayahan karena kehamilannya. Belum lagi saat itu anak-anaknya masih kecil-kecil. Dan tentunya sangatlah repot.

Jika kita mengalami kondisi seperti ini, maka bersabarlah saudariku! Sesungguhnya Allah memilihmu untuk menjadi wanita istimewa jika kalian bersabar. Bisa jadi saat itu Allah telah menguji kalian untuk mengetahui seberapa besarkah pengorbanan kalian untuk Dien ini. Ingatlah wahai saudariku! Saat ini sama saja kita telah berlomba-lomba untuk memborong banyak pahala dengan kesabaran. Seorang istri akan mendapatkan pahala yang sama seperti pahala yang di dapatkan suami karena pengorbanannya.

Janganlah terlalu sering sekali protes jika suami sering meninggalkan rumah! Jika ada perasaan seperti itu, segeralah tepis dan kembali mengingat bahwa ini adalah pengorbanan untuk mencari ridhaNya. Dengan mengingat ini, Insyaallah akan lebih berlapang dada dan lebih menerima kondisi kalian.

Di sisi lain seorang suami pun harus peka atau memberikan perhatian kepada keluarganya. Jangan sampai karena sibuk berdakwah menjadi jauh dari anak dan istrinya. Jangan sampai anak menjadi korban, tanpa memberikan perhatian kepada mereka. Mungkin seorang suami bisa memberikan waktu khusus untuk keluarganya. Agar hubungan antara suami, istri dan anak menjadi erat dan bisa menyamakan tujuan hidup yaitu untuk mencari ridha Allah Ta’alla.

Ketika seorang istri menyelesaikan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, menyetlika, mengurus anak dan segala kesibukan di rumah. Bisa mendatangkan pahala jika diniatkan untuk ibadah. Walaupun terkadang pernah berpikir merasa jenuh hanya di rumah berdiam diri, sedangkan para suami bisa shalat berjama’ah, berjihad, berdakwah dan bisa melakukan amalan-amalan yang berpahala besar. Maka selalu ingatlah bahwa para istri bisa memborong pahala dan mendapatkan pahala seperti mereka jika mereka berbuat baik, taat kepada suami dan ridha jika suami pergi berdakwah atau berjihad.

Maka dari itu berbahagialah saudariku, untuk menyambut pahala besar…!

Berbanggalah saudariku, jika suami kalian sebagai aktivis dakwah yang rela menghabiskan waktunya demi AgamaNya….!

Berbaggalah saudariku, jika suami kalian sebagai Mujahidin yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kejayaan Islam…!

Maka berbanggalah saudariku, karena kalian orang-orang terpilih sebagai pendamping mereka…!

Dan hendaklah kita senantiasa berdoa! Semoga kita bisa menjadi wanita shalihah yang taat kepada suami dan dimudahkan untuk selalu berbuat baik kepada mereka. Dan Allah menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Rabbana hablana min azwajina Qurrota A’yun waj’alna lil mutaqina imama. Rabbana athina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Amiin ya Rabbal ‘Alamin. (firdausy AA)

Leave A Reply

Your email address will not be published.