Islamofobia: Ketakutan yang Sengaja Diciptakan

0 93

Kiblatmuslimah.com – “Either you are with us or you are with the terrorists.” (George W. Bush)

Pernyataan Bush saat mendeklarasikan Perang Melawan Teroris, menjadi bukti bahwa “pemerintah Barat” membutuhkan dukungan publik. Memungkinkan pemerintah untuk bebas melakukan tindakan apapun. Polarisasi antara “bersama kami” dengan “bersama teroris”, seolah membuat publik tak punya pilihan lain.

Selanjutnya, dalam bagian proyek melawan teror tersebut, mereka menciptakan kondisi sosial politik yang diskriminatif bagi muslim. Misalnya, penduduk non-warga AS dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim diminta untuk melakukan registrasi khusus. Termasuk wawancara, sidik jari dan pemotretan.

Travellers muslim yang masuk ke AS terus “dipilih secara acak” untuk pemeriksaan keamanan ekstra di bandara. Muslim yang berada di pesawat, yang tampak dari  penampilan dan bahasa mereka, akan dicurigai dan dikondisikan membuat penumpang lain tidak nyaman. Bahkan, masjid-masjid dan kelompok agama disusupi agen dari penegak hukum AS (Islamophobia: Fuelling the Cycle of Violence, Saleena Saleem).

Praktik-praktik diskriminatif yang dilakukan pemerintah, mendorong lingkungan dan publik berpikir bahwa membatasi kebebasan umat Islam adalah pilihan yang rasional dan bahkan diperbolehkan. Hal inilah yang menjadi dasar munculnya Islamofobia.

Ketika seorang menjadi muslim, berarti ia layak untuk mendapatkan pengawasan dan sasaran kecurigaan. Demikian makna sebenarnya Islamofobia. Bukan fobia yang sebenarnya, melainkan gerakan sistematis dan struktural terkait sentimen antimuslim.

Fobia menurut kamus Merriam-Webster, adalah ketakutan yang berlebihan. Biasanya tidak dapat dijelaskan dan tidak masuk akal. Ditujukan kepada objek, sekumpulan objek, atau situasi tertentu. Mungkin sulit bagi orang yang menderita untuk bisa menentukan atau mengkomunikasikan sumber ketakutan ini, tapi realitanya ketakutan itu memang ada.

Adapun ketika dirangkaikan dengan Islam, sejumlah periset dan kelompok kebijakan Barat menemui sebuah titik temu dalam pendefinisiannya; “Rasa takut, kebencian, dan permusuhan yang berlebihan terhadap Islam dan muslim yang diabadikan melalui stereotip negatif yang mengakibatkan bias, diskriminasi, dan marginalisasi serta pengucilan umat Islam dari kehidupan sosial, politik dan kewarganegaraan.”

Islamofobia bukanlah “fobia”. Ia tak lebih dari sekedar prasangka bahwa Muslim adalah penyebab kekerasan dan kriminal. Muslim dapat ditahan tanpa tuduhan, bebas diperlakukan sesuka mereka dan dilanggar hak-haknya. Kasus-kasus serangan fisik dan verbal terhadap muslimah, menjadi bukti bahwa objek kekerasan tersebut adalah identitas kemuslimahannya.

Fobia terhadap Islam akan menghasilkan serangkaian siklus kekerasan dan kebencian terhadap ”Muslimness” (terkait dengan Muslim). Agar terus hidup, industri islamofobia hadir memenuhi ketersediaan pasar.

Industri Islamofobia adalah sekumpulan industri jutaan dollar para penjual ketakutan, jaringan pendana, organisasi yang mendukung dan mengabadikan fanatisme, kebencian, rasisme, dan memproduksi iklim ketakutan. Mereka bersatu padu, bekerja untuk meyakinkan dunia bahwa muslim adalah entitas yang berbahaya. Blogger, politisi rasis, para pemimpin agama fundamentalis, para pakar di media, tokoh-tokoh zionis bekerja sama dalam sebuah industri kebencian: Industri Islamofobia. (The Islamophobia industry: How the right manufactures fear of Muslims, Nathan Lean & John Esposito)

Islamofobia bersifat struktural dan sistematis. Ia adalah cara berpikir yang hari ini secara formal menginformasikan cara lembaga publik, media mainstream, dan pemerintah memperlakukan umat Islam. Islamofobia hendaknya kita pahami sebagai kesalahan penerapan keadilan yang struktural dan disengaja, alat untuk memanipulasi publik, melegitimasi kekerasan dan tindakan ilegal. Bukan sekedar bias ketakutan yang secara alami berkembang, melainkan dengan sengaja diciptakan.

 

 

*Viyanti Kastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.