Islamic Worldview, Buat Apa? (Urgensi – Islamic Worldview #2)

0 176

Sebanyak dan sedalam apa referensi yang kita kumpulan dan dapatkan, akan membentuk worldview/konsep sudut pandang kita terhadap fenomena lintas alam (rahim, dunia, barzakh, akhirat) yang nantinya akan memotivasi, menggerakkan sosial dan moral manusia, menggerakkan semua pikiran dan perilakunya.

Q: “Dari mana kita bisa tahu seseorang telah memiliki Islamic worldview?”.
A: “Bisa dari ucapannya, pemikirannya, tulisannya, sikapnya. Sudahkan sesuai dengan ajaran Islam ataukah belum.”

Q: “Apakah ada orang yang tulisannya begitu Islami, sikapnya begitu Islami tapi ternyata fikirannya masih belum benar?”
A: “Ada. Bukankah penganut faham mu’tazilah dahulu terkenal dengan kejujurannya? Bukankah khawarij paling fashih bacaan Qur’annya namun hikmah dan kandungan al-Qur’an tak sampai pada hati, pikiran, perasaan dan sikapnya? Terkadang bisa jadi seseoranh tulisannya begitu Islami, namun setiap tinggal 25 Desember ia datang membawa hadiah dengan ucapan selamat natal. Yang seperti itu masih banyak.”

Q: “Lantas bagaimana cara merubah agar seseorang memiliki Islamic worldview yang komprehensif?”
A: “Pertama, dirinya harus terbuka dahulu dengan ilmu, dengan kebenaran. Andai dia masih merasa paling benar, maka adalah suatu hal yang sulit untuk berubah dan menerima kebenaran dr orang lain. Kedua, Bersedia melakukan kajian dan diskusi yang mendalam. Al-Asy’ary bahkan selama 40 tahun menganut pemikiran mu’tazilah. Setelah ia diskusi panjang lebar dengan guru yang lain, barulah ia faham bahwa apa yang dianutnya selama ini salah, dan akhirnya beliaupun mendeklarasikan bahwa dirinya tak lagi berfaham seperti dulu dan beralih pada aliran Islam Sunni.”

Betapa pentingnya seseorang memiliki sudut pandang Islami sebagai motor penggerak kehidupannya di dunia, agak ia mampu memfungsikan diri sejalan dengan untuk apa ia diciptakan secara maksimal, sebagai hamba yang berserah secara total. (KAFFAH). Ada beberapa poin yang bisa menjelaskan urgensi memahami Islamic worldview menurut Sayyid Quthb:
Seorang Muslim harus mempunyai penafsiran yang komprehensif tentang wujud, yang menjadi dasar interaksinya dengan wujud itu.
Seorang muslim harus mengetahui hakikat kedudukan manusia dalam wujud kosmik ini dan tujuan eksistensi dirinya.
Dengan dua point di atas, akan jelas baginya tujuan perjalanan hidupnya dan jalan mana yang dapat menyampaikannya kepada tujuan tersebut
Pemahaman seorang muslim terhadap karakteristik tashawwur Islami (Islamic worldview) akan menjaminnya untuk menjadi unsur yang baik dalam bangunan umat yang bercorak khusus, mandiri, dan unik sehingga menjadi unsur yang mampu memimpin dan menyelamatkan umat manusia dari kesesatan.
Ringkasan Ngopi (Ngobrol Pemikiran Islam). Sabtu, 19 Oktober 2019. Pembicara: Ust. Dr. Muhammad Isa Anshory. M.P.I

Leave A Reply

Your email address will not be published.