Islam di Tengah Pertarungan Tradisi

0 173

Kiblatmuslimah.com – Berawal dari Darwin yang mengarahkan bahwa semua hal mengalami perubahan, alam sebagai sang peubah. Dilanjutkan Sigmund Freud yang mengatakan bahwa penggerak utama aktivitas manusia yaitu adanya sifat ke’hewanan’an yang bermakna seks. Lanjut lagi imperialisme yang mengungkapkan bahwa penggerak manusia bukanlah agama, pikiran ataupun perasaan, akan tetapi lingkungan.

Lingkungan sebagai penyedia makanan, akan membentuk dan menuntut manusia bergerak untuk bertahan hidup. Semuanya bertindak atas asas ekonomi. Walau katanya, lingkungan yang membentuk pola pikir ekonomi berujung pada revolusi industri. Pengaruh lingkungan yang membentuk worldview.

Pola pikir ekonomi yang membudakkan manusia menjadi pekerja. Tindakan amoral mereka untuk melepas “lelah” kerja, dianggap biasa. Hiburan malam dengan segala kleniknya membuat nilai agama dan tradisi terkikis. Bahkan hilang tertinggal di desa, bersama keluarga yang ditinggalkannya demi mengadu nasib. “Islam di Tengah Pertarungan Tradisi” karya Muhammad Quthb, cukup membuat dahi berkerut.

Imperialisme menyebutkan bahwa poros manusia bergerak (pembentukan worldview) adalah lingkungan. Berarti, dunia yang “memandang manusia”, sehingga tertuntut untuk berubah.

Namun faktanya, Islam tak seperti itu. Worldview Islami tak dibentuk oleh dunia. Dunia hanya menyuguhkan realita yang manusia perhatikan, simpulkan lalu sikapi. Bukan semata dikontrol oleh dunia. Hanya menilai fenomenanya dalam kacamata Islam, tak sekadar hukum alam.

Jadi, interpretasi dari fenomena (yang menggunakan akal) ditambah bimbingan wahyu Allah, mendasari manusia beraktivitas. Manusia yang seharusnya memandang (mengontrol) dunia sebagai khalifah, bukan sebaliknya. Allahu a’lam.

 

Sumber: Muhammad Quthb, Islam di Tengah Pertarungan Tradisi.

Oleh: A. Madjid

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.