Ikatan Cinta Bertali Iman

0 198

Kiblatmuslimah.com—Bukan hanya mengatur perilaku dan sikap, seorang muslim juga harus mengelola perasaannya. Mengarahkan dan menempatkan perasaan cinta dan benci yang dimilikinya dengan benar. Sebab, mencintai dan membenci karena Allah merupakan tanda kesempurnaan iman.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ

“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud)

 

Rasa cinta dan benci yang kita miliki, keduanya harus diikat karena Allah. Cinta yang tidak diikat dengan cinta karena Allah, tidak bermanfaat bahkan membawa kepada keburukan dan dosa. Mencintai lawan jenis misalnya, harus dibingkai dalam cinta karena Allah dalam sebuah ikatan pernikahan. Bukan karena syahwat dan memuaskan nafsu belaka.

 

Demikian pula mencintai putra-putri kita, orang tua, sanak saudara, teman dan tetangga. Jika karena Allah, maka akan berpahala dan membawa manfaat dunia dan akhirat bagi kita. Cinta yang kita ikat dengan cinta karena Allah, akan menjadi cinta yang lurus, cinta yang tulus.

 

Al-Wala’ wal Bara’

Rasa cinta dan benci yang ditempatkan dengan benar, akan berpengaruh terhadap wala’ dan bara kita sebagai muslim. Salah satu dari prinsip aqidah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Mencintai dan memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum Mukminin. Membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara’) dari mereka.

 

Wala’ artinya loyalitas dan kecintaan. Wala’ adalah kata mashdar dari fi’il waliya yang artinya dekat. Maksud wala’ di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai, membantu dan menolong atas musuh-musuh mereka.

 

Al-Bara’ artinya berlepas diri dan kebencian. Bara’ adalah mashdar dari bara’ah yang berarti memutus atau memotong. Maksudnya di sini ialah memutus ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak mencintai, membantu dan menolong mereka memusuhi kaum muslimin.

 

Al-Wala’ wal bara’ merupakan bagian dari tali ikatan iman yang paling kuat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas yang kuat karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani)

Simpelnya, wala’ artinya loyal, bara’ artinya berlepas diri. Loyal kepada kaum mukminin dan bara’ kepada kaum kafir. Allah mewajibkan kepada kita semua untuk loyal kepada kaum mukminin dan berlepas diri dari orang-orang kuffar dan musyrik.

 

Tanya Jawab al-Wala` wal-Bara` dengan Syaikh Bin Baz

Pertanyaan: Diharapkan kepada Syaikh untuk menjelaskan pengertian al-wala wal-bara`, untuk siapakah? Apakah boleh bersikap wala’ (loyal) kepada orang kafir?

 

Jawaban: Al-Wala` dan al-bara` maksudnya adalah mencintai orang-orang yang beriman dan loyal kepada mereka, membenci orang-orang kafir dan memusuhi, berlepas diri dan agama mereka. Inilah pengertian wala` dan bara`, seperti firman Allah SWT dalam surat al-Mumtahanah, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika  berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

 

Membenci dan memusuhi mereka bukan berarti engkau berbuat zalim atau melakukan tindakan melewati batas, apabila mereka bukan kafir harbi (musuh dalam perang). Namun, maksudnya adalah engkau membenci dan memusuhi mereka di dalam hatimu dan mereka bukan sahabatmu. Akan tetapi engkau tidak boleh menyakiti, mengganggu dan menzalimi mereka. Apabila mereka memberi ucapan maka jawablah. Memberi nasihat dan mengarahkan mereka kepada kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka. (QS. Al-‘Ankabut: 46)

 

Ahli kitab adalah Yahudi dan Nashrani, demikian pula selain mereka dari kaum kafir yang mendapat jaminan keamanan atas perjanjian atau jaminan. Akan tetapi, siapa yang berbuat zalim dari mereka, maka dibalas sesuai perbuatan zalimnya. Jika tidak demikian, maka yang disyariatkan bagi seorang mukmin adalah berdebat dengan cara yang paling baik. Berdasarkan firman Allah,“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)

 

Maka, ia (seorang muslim) tidak boleh melakukan tindakan melewati batas, berbuat zalim disertai kebencian dan memusuhi mereka karena Allah. Disyariatkan kepadanya mengajak kepada agama Allah, mengajar dan menunjukkan mereka kepada kebenaran. Semoga Allah memberi petunjuk kepada jalan kebenaran. Tidak ada larangan bersedekah dan berbuat baik kepada mereka, berdasarkan firman Allah, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

 

Berdasarkan riwayat dalam Shahihain, dari Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau menyuruh Asma` binti Abu Bakar agar melakukan silaturrahim kepada ibunya. Padahal dia kafir. Kisah ini saat perdamaian Hudaibiyah yang terjadi di antara nabi Muhammad ﷺ dan penduduk Makkah. [Syaikh bin Baz rahimahullahMajmu’ Fatawa wa Maqalah  Mutanawwi’ah (5/246-247)].

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.