Hubungan Antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah

0 166

Kiblatmuslimah.com – Silsilah keturunan Bani Hasyim bertemu dengan Bani Ummayah pada satu kakek yaitu Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Bani Abdu Manaf memiliki kedudukan terhormat di Makkah dan menjadi pemimpin mereka.  Tidak ada satupun klan Suku Quraisy yang menandinginya.

Kepemimpinan dan kepeloporan Bani Abdu Manaf di Makkah dimulai sejak masa kakek mereka, Qushay bin Kilab bin Murrah yang mampu menggeser kedudukan Bani Khuza’ah dalam memimpin Makkah dan mengendalikan segala sesuatunya di sana.

Dalam hal ini, Ibnu Ishaq berkata, ”Kemudian Qushay menguasai Ka’bah dan mengendalikan Makkah. Ia menghimpun seluruh kaumnya ke Makkah dari berbagai tempat tinggal yang berserakan. Ia berhasil membentuk kekuasaan bagi kaumnya sehingga mereka mengangkatnya sebagai pemimpin.”

Dengan demikian, Qushay keturunan Ka’ab bin Lu’ay pertama yang menduduki puncak kekuasaan di Makkah serta dipatuhi kaumnya. Ia pun berwenang atas al-hijabah (pemeliharaan Ka’bah), as-siqayah (penyediaan air minum bagi jamaa’ah haji), ar-rifadah (pengadaan konsumsi bagi jamaah haji), an-nadwah (pengelolaan lembaga permusyawaratan), dan al-liwa (pemeliharaan panji perang). Bisa dikatakan bahwa ia menguasai dan mengendalikan kota Makkah secara keseluruhan.

Ketika Qushay semakin berusia lanjut dan tulang-tulangnya semakin lemah, ia menyerahkan posisinya kepada Abdud Dar, putra sulungnya. Adapun Abdu Manaf (putranya yang lain) telah masyhur semasa ayahnya masih hidup. Semua sepakat akan pengangkatan Abdud Dar.

Sepeninggal Qushay, seluruh putra-putrinya memenuhi hak saudara tertua mereka demi menghormati wasiat ayahnya. Tidak ada yang lancang untuk merebutkannya. Adapun setelah wafatnya Abdud Dar dan juga Abdu Manaf, putra-putri Abdu Manaf bin Qushay (yakni Abdu Syams, Hasyim, Al-Muthalib, dan Naufal) bersepakat untuk merebut kekuasaan pengurusaan kota Makah dan Ka’bah yang dipegang putra-putri Abdud Dar, paman mereka.

Akibatnya, terjadilah konflik perebutan kekuasaan sehingga kaum Quraisy terpecah menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Satu kelompok condong ke putra-putri Abdud Dar beserta pendukungnya.

Kelompok kedua condong kepada putra-putri Abdu Manaf. Melihat perkembangan realita, kedudukan Bani Andu Manaf meningkat tengah kaumnya. Kelompok ini beranggapan bahwa dia berhak menguasai dan menangani pelayanan di Ka’bah dan Makkah.

Sebelum terjadi perpecahan, para cendekiawan dan tokoh utama di masa itu membuat rekonsiliasi antara keduanya. Inti dari realisasinya adalah pembagian  tugas-tugas dalam pelayanan Ka’bah dan Makkah.  Bani Abdi Manaf dipercaya untuk menyediakan air minum dan konsumsi. Sedangkan pemeliharaan panji perang dan pengelolaan lembaga permusyawaratan  tetap diserahkan kepada Bani Abdud Dar. Mereka mengemban amanah yang telah disepakati bersama.

Dari pemaparan di atas, kita ketahui  bahwa putra-putri Abdu Manaf secara keseluruhan, baik Bani Hasyim, Bani Abdu Syams, atau lainnya bersepakat untuk merebut kekuasaan pengelolaan Ka’bah dari tangan putra-putri paman mereka Abdud Dar.

Mereka tidak berbeda pendapat mengenai pembagian hasil yang diperoleh/disepakati. Menyerahkan kepada Hasim bin Abdu Manaf (saudara mereka), lantaran kehormatan dan kekayaannya. Hal ini menegaskan bahwa hubungan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah sebelum Islam merupakan hubungan persaudaraan yang kokoh dan saling melengkapi. Kedatangan Islam menyebabkan sebagian besar Bani Umayyah menentang beserta pembawanya, Muhammad SAW. Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada mereka, sehingga menjadi pendukung utamanya dan berpartisipasi dalam ekspansi dan penaklukan.

 

Oleh: Pramudya Zeen

Referensi: Abdussyafi Muhammad A.L. 2016. Khilafah Bani Umayyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.