Hikmah Tersembunyi di Balik Ibadah Haji dan Qurban

0 195

kiblatmuslimah.com – Pada bulan Dzulhijjah yang penuh keagungan, setidaknya ada dua ibadah yang menjadi ritual umat Islam, haji dan qurban. Di antara ibadah haji dan ibadah qurban juga ada keterkaitan kisah sejarah yang diabadikan di dalam Al-Qur’an. Yaitu kisahnya nabi Ibrahim, istri beliau Hajar dan anaknya yang bernama nabi Ismail. Di dalam kisah inilah kita bisa mengambil hikmah yang tersembunyi di dalam ibadah haji dan qurban.

Haji menurut bahasa ialah berkunjung, karena dalam ibadah ini seorang muslim mengunjungi dua masjid agung nan mulia, Masjid al-Haram (baitullah, tempat beradanya ka’bah) di Makkah dan Masjid an-Nabawiy di Madinah. Dalam Al-Quran terdapat surat khusus yang membahas prosesi ibadah haji, seperti ihram, tawaf, sa’i, wuquf di Arafah, dan mencukur rambut. Surat itu ialah surat al-Hajj (surat ke-22 dalam Al-Quran).

Hikmah Ibadah Haji

Di dalam ibadah haji terdapat rangkaian ibadah yaitu sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), lempar jumrah, wukuf di Arafah, thawaf, tahalul, minum air zam-zam dan lain-lain.

Di rangkaian ibadah haji ini kita bisa mengambil hikmah.

  1. Ikhlas ketika merasakan kelelahan dan kesusahan ketika berhaji.

Ibadah haji merupakan ibadah klasik. Ibadah haji merupakan hasil dari simbolisasi perjalanan kisah Hajar dan nabi Ismail. Contohnya seperti sa’i (lari-lari kecil dari Shafa dan Marwah).

Sa`i  ini merupakan simbolisasi ketika ibu Hajar mencari mata air ketika nabi Ismail menangis kehausan di padang pasir. Karena bingung, ibu Hajar lari bolak-balik dari Shafa ke Marwah sebanyak 7 kali.

Ketika sa’i inilah kita diharapkan ikut merasakan betapa lelah dan kebingungannya ibu Hajar mencari mata air untuk nabi Ismail, anaknya. Pada saat itu, ibu Hajar ditinggal bersama anaknya nabi Ismail sendirian di padang pasir.

  1. Bertambahnya Iman kepada Allah Ta’alla.

Ketika ibu Hajar bertanya kepada suaminya, nabi Ibrahim, “Wahai suamiku, teganya kau meninggalkan istri dan anakmu di padang pasir yang kering ini…”. Nabi ibrahim tidak menjawab akan tetapi wajahnya diliputi perasaan sedih. Ibu hajar pun berkata lagi, “Apakah ini merupakan perintah Allah?” Dengan tegas Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”. Mendengar jawaban itu, ibu hajar langsung tenang. Karena beliau yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Itulah iman yang dimiliki oleh ibu hajar.

Dengan kisah ini, kita bisa mengambil ibrah dan ikut menghayati betapa yakinnya ibu Hajar atas ketentuan Allah. Pastinya kisah ini bisa menambah iman kita kepada Allah ketika kita beribadah haji.

  1. Bersyukur atas nikmat Allah.

Karena keyakinan ibu Hajar, akhirnya beliau menemukan mata air tersebut. Allah menakdirkan mata air tersebut berada tepat di bawah kaki nabi Ismail ketika beliau menangis kehausan. Ibu Hajar sangat bersyukur sekali menemukan mata air tersebut. Yaitu mata air zam-zam yang dapat diminum oleh jama’ah haji sampai sekarang.

Sama seperti ibadah haji. Ketika sudah merasa kelelahan karena melaksanakan semua rukun haji, jama’ah haji menutup rangkaian ibadah dengan meminum air zam-zam. Pastinya jama’ah haji sangat bersyukur karena sudah berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.

  1. Meninggalkan segala kemewahan.

Sejak para tamu Allah meninggalkan tanah air menuju Makkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya.

Di sana tak ada lagi perbedaan golongan, pangkat, suku ataupun status sosial. Yang ada hanyalah pertunjukan secara komunal dan kebersamaan. Yang memegang peranan dalam pertunjukan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang di antara mereka dipandang sama.

Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah ibadah hajinya. Rasulullah menegaskan dalam sabdanya, “Haji adalah wuquf di Arafah”. (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Hal ini sama dirasakan oleh ibu Hajar ketika ditinggal suaminya. Tidak ada bekal atau harta yang dibawa.

  1. Ikhlas meninggalkan keluarga.

Nabi Ibrahim sangat berat meninggalkan istri dan anaknya. Tapi karena ini perintah Allah maka harus ikhlas. Sebagaimana para jama’ah haji ketika meninggalkan keluarganya pastilah berat.

Tatkala di antara kita mengantarkan sanak, saudara, handai taulan untuk berangkat haji, seakan-akan mereka akan meninggalkan kita selamanya. Isak tangis dan haru pun mewarnai kepergiannya. Kita pun serasa tidak merelakan kepergiannya. Bahkan, seorang anak yang masih berusia delapan tahun, ketika ia akan ditinggalkan sang ibu pergi haji, sang anak pun menangis tak henti-hentinya.

Apa maksudnya? Ini menandakan betapa rasa ikhlas kita sedang diuji. Ikhlaskah kita ketika ditinggalkan orang-orang tercinta untuk berhaji? Dan seberapa besar pula rasa cinta para calon jama’ah haji terhadap Allah, sehingga mereka ikhlas meninggalkan orang-orang tercinta? Ingat, tiada kata cinta tanpa pengorbanan penuh keikhlasan. Sebagaimana nabi Ibrahim mengorbankan perasaanya ketika meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang kering.

Setelah kita mengetahui tentang hikmah ibadah haji, sekarang kita tengok hikmah ibadah qurban.

Apa saja hikmah pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah qurban? Kami sarikan lima pelajaran yang moga bermanfaat bagi kita sekalian.

  1. Belajar untuk ikhlas

Dari ibadah qurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan, itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun dari keikhlasan dalam berqurban. Allah Ta’ala berfirman,

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Sebagaimana hal ini bisa kita ambil pelajaran dari kisahnya nabi Ibrahim dan anaknya nabi Ismail.

Ketika nabi Ismail menginjak dewasa, nabi Ibrahim bermimpi bahwa beliau menyembelih putranya, nabi Ismail. Mimpi seorang nabi adalah wahyu Allah, maka perintah dalam mimpi itu harus dilaksanakan. Nabi Ibrahim selalu memikirkan mimpi tersebut. Mimpi harus membunuh anaknya sendiri, setelah sekian lama beliau berpisah.

Sebagai seorang ayah yang dikaruniai seorang putra yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan; seorang putra yang telah mencapai usia yang sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah; seorang putra yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyambung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangan si ayah sendiri.

Sebagai anak, nabi Ismail bersabar atas perintah Allah. Nabi Ismail mempersilahkan untuk disembelih ayahnya. Karena ketakwaan dan keikhlasan keduanya, Allah menumpulkan pisau dan menggantikan qurbannya dengan seekor domba.

Dari kisah di atas kita bisa mengambil contoh keikhlasan dan kesabaran dalam berqurban.

  1. Belajar untuk mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam berqurban ada aturan atau ketentuan yang mesti dipenuhi. Misalnya, mesti dihindari cacat yang membuat tidak sah (buta sebelah, sakit yang jelas, pincang, atau sangat kurus) dan cacat yang dikatakan makruh (seperti sobeknya telinga, keringnya air susu, ekor yang terputus).

Umur hewan qurban harus masuk dalam kriteria yaitu hewan musinnah, untuk kambing minimal 1 tahun dan sapi minimal dua tahun. Waktu penyembelihan pun harus sesuai tuntunan dilakukan setelah shalat Idul Adha, tidak boleh sebelumnya. Kemudian dalam penyaluran hasil qurban, jangan sampai ada maksud untuk mencari keuntungan seperti dengan menjual kulit atau memberi upah pada tukang jagal dari sebagian hasil qurban. Jika ketentuan di atas dilanggar, hewan yang disembelih tidaklah disebut qurban, namun disebut daging biasa.

Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih qurban seperti qurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala qurban. Barangsiapa yang berqurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai qurban.”

  1. Belajar untuk sedekah harta

Dalam ibadah qurban, kita diperintahkan untuk belajar bersedekah. Karena saat itu, hartalah yang banyak diqurbankan. Apakah benar kita mampu mengorbankannya? Padahal watak manusia sangat cinta sekali pada harta.

Ingatlah, harta semakin dikeluarkan dalam jalan kebaikan dan ketaatan akan semakin berkah. Sehingga jangan pelit untuk bersedekah karena tidak pernah kita temui pada orang yang berqurban dan berhaji yang mengorbankan jutaan hartanya jadi bangkrut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Infaqkanlah hartamu! Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugrah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugrah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029)

  1. Belajar untuk meninggalkan larangan

Dalam ibadah qurban ada larangan bagi shahibul qurban yang mesti ia jalankan ketika telah masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan qurban miliknya disembelih. Walaupun hikmah dari larangan ini tidak dinashkan atau tidak disebutkan dalam dalil, namun tetap mesti dijalankan karena sifat seorang muslim adalah sami’na wa atha’na, yaitu patuh dan taat.

Dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah (maksudnya telah memasuki 1 Dzulhijjah, -pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no. 1977).

  1. Belajar untuk rajin berdzikir

Dalam ibadah qurban diwajibkan membaca bismillah dan disunnahkan untuk bertakbir saat menyembelih qurban.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban (pada Idul Adha) dengan dua kambing yang gemuk. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu beliau membaca bismillah dan bertakbir, kemudian beliau menyembelih keduanya dengan tangannya.”

Sejak sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kita pun sudah diperintahkan untuk banyak bertakbir. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (QS. Al Hajj: 28).

Ayyam ma’lumaat’ menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan Al Bashri, ‘Atha’, Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah dan An Nakha’i, termasuk pula pendapat Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau). Lihat perkataan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathaif Al Ma’arif, hal. 462 dan 471.

Demikian hikmah dari ibadah haji dan qurban. Semoga bisa diambil manfaatnya untuk kita semua.

 

(Firdausy AA)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.