Guru bagi Suaminya

0 127

Kiblatmuslimah.com – Kisah yang akan kita ambil hikmahnya adalah Fathimah binti Al-Munzir. Menurut seorang alim bernama Al-Ajali, Fathimah adalah seorang wanita tabi’in mulia yang belajar kepada para shahabiyah. Beliau berasal dari Madinah.

 

Fathimah adalah perawi hadits tentang hijrah yang sangat terkenal itu. Hadits-hadits yang diriwayatkannya dapat diterima dan terdapat di kitab Shahih, Sunan, dan Musnad.

 

Namun, yang mengherankan adalah beliau menjadi guru bagi suaminya sendiri. Siapakah suami beliau? Apakah orang biasa sehingga belajar kepada istrinya?

 

Imam Dzahabi berkata bahwa suaminya adalah seorang imam dalam keilmuan. Hadits-hadits yang diriwayatkan juga dapat diterima. Bahkan mendapat gelar Syaikhul Islam.

 

Menurut Muhammad bin Sa’ad, suaminya adalah perawi yang baik riwayatnya, hadits-haditsnya dapat dijadikan dalil, dan telah meriwayatkan banyak sekali hadits.

 

Ulama lain sepakat bahwa suaminya adalah seorang alim dan imam dalam ilmu hadits dan periwayatannya. Beliau telah meriwayatkan lebih dari empat ratus (400) hadits. Sebagian besar hadits itu diriwayatkan dari istrinya yang merupakan tokoh besar di kalangan wanita tabi’in.

 

Suami Fathimah adalah Hisyam bin Urwah bin Zubair bin Al-Awwam. Berasal dari Bani Asad, lahir pada tahun 61 Hijriah dan hidup di Madinah. Beliau termasuk pemuka tabi’in.

 

Sedangkan Fathimah adalah putri pamannya sendiri, Al-Munzir bin Az-Zubair bin Al-Awwam Al-Asadiyah Al-Qursiyah.

 

Keduanya merupakan cucu shahabat mulia Zubair bin Awwam dan Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhum.

 

Hisyam bin Urwah mengakui kehebatan istrinya dalam ilmu periwayatan hadits. Memang dari segi umur, Fathimah lebih tua dari Hisyam. Hisyam pernah berkata, ”Fatimah binti Al-Munzir lebih tua dariku tiga belas tahun.” Fathimah dilahirkan pada tahun 48 Hijriah.

 

Dari pernikahan keduanya, terlahir Urwah dan Muhammad bin Hisyam. Mereka berdua termasuk manusia terbaik di zamannya.

 

Jika dilihat dari hadits-hadits yang diriwayatkannya, dapat disimpulkan bahwa Fathimah hanya meriwayatkan hadits dari sesama wanita.

 

Tumbuh dewasa dalam asuhan nenek dari ayahnya, Asma’ binti Abu Bakar yang mempunyai gelar Dzatun Nithaqain. Darinya, Fathimah banyak menghafal hadits. Waktu itu umurnya hingga dua puluh lima (25) tahun, sehingga banyak hadits yang didengarkan.

 

Fathimah meriwayatkan tentang Asma’ dan kisah hidupnya dalam kitab Ath-Thabaqat karangan Ibnu Sa’ad. Fathimah menjelaskan bahwa pada zaman Sa’id bin Al-Ash, Asma’ membeli sebilah khanjar (senjata tajam semacam pisau) untuk berjaga jika ada pencuri masuk rumah. Memang pada waktu itu, pencuri sedang merajalela di Madinah. Beliau meletakkan senjata itu di bawah bantalnya.

 

Beliau sempat bertemu dengan Ibunda Ummu Salamah ketika masih berusia empat belas tahun. Umur tersebut sangat cocok untuk menghafal. Apalagi sejak kecil, sudah terkenal dengan kejeniusan, kecerdasan, dan kekuatannya dalam menghafal.

 

Ummu Salamah sangat dekat dengan Asma’ binti Abu Bakar. Mereka tinggal di rumah yang sama di Madinah. Karena itu, Fathimah juga menjadi dekat dan banyak belajar darinya. Bisa dikatakan, keilmuan Fathimah berasal dari dua orang shahabiyah mulia ini.

 

Selain itu, Fathimah juga meriwayatkan hadits dari Amrah binti Abdurrahman Al-Anshariyah yang merupakan murid langsung dari Ibunda Aisyah dan hidup dalam bimbingannya. Sering disebut sebagai orang yang paling banyak mengambil ilmu Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha.

 

Dari sumber ilmu yang semuanya wanita, Fathimah binti Al-Munzir meriwayatkan hadits. Sehingga mendapat tempat yang terhormat di kalangan para ulama hadits. Pujian demi pujian yang tulus ikhlas berdatangan. Ibnu Hibban pun menempatkan namanya dalam kitab Ats-Tsiqat.

 

Orang yang paling banyak meriwayatkan dari Fathimah binti Al-Mundzir adalah suaminya sendiri, Hisyam bin Urwah. Kemudian Muhammad bin Suwaqah dan Muhammad bin Ismail bin Yasar.

 

Demikian kisah Fathimah binti Al-Munzir. Di ujung pembahasan ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa pendidikan dalam masyarakat Islam memiliki peran yang sangat penting. Pendidikan adalah sebuah seruan kepada manusia dan jalan dalam kehidupan.

 

Oleh karena itu, pendidikan harus mendapatkan perhatian yang cukup dari semua orang. Terutama yang telah dipilih Allah sebagai orang tua ataupun pendidik untuk mengemban amanah ilmu-Nya.

 

Sumber: Ahmad Khalil Jum’ah. 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi’in. Jakarta Timur: Al-I’tishom Cahaya Umat.

 

[Peni Nh]

Leave A Reply

Your email address will not be published.