Gadis Cilik Berkarakter Al Qur’an

0 87

Kiblatmuslimah.com – Seorang teman yang tergabung dalam satu komunitas parenting mengisahkan kisah kegigihan anaknya dalam menghafal Al Qur’an. Kisah ini begitu menyentuh hati saya. Betapa tidak, seorang anak berusia 9 tahun begitu kuat hatinya tertancap pada Al Qur’an.

Inilah kisah Naila, saya menjulukinya gadis cilik berkarakter Al Qur’an.

Hari pertama di sekolah baru membuat Naila sedih. Pelajaran tahfizh yang setiap hari mengisi hari-harinya, dengan muroja’ah (mengulang) dan setoran ziyadah (tambahan) 3 ayat per hari. Kini semua itu tak dapat lagi ia nikmati. Naila yang kerap kali bangga dengan nilai hafalannya yang selalu mumtaz (sempurna). Kini bersedih hati.

Sekolah barunya, meski ada pelajaran tahfizh namun hanya 2x pertemuan dalam seminggu. Karena target tahfidz di sekolah itu hanya 3 juz selama jenjang sekolah dasar 6 tahun. Padahal hafalan Naila di kelas 3 sekolah dasar sekarang ini sudah memasuki 11 juz. Sangat jauh dari yang nantinya akan ia dapat dari sekolah barunya.

Naila memang harus pindah dari sekolahnya yang lama, mengikuti orang tuanya yang kini harus mengurus kakeknya yang hidup sendiri setelah neneknya wafat. Namun rupanya sekolah lamanya yang merupakan sekolah tahfidz telah membekas kuat dalam hatinya.

Pakde dan omnya turut pula menasihati. Walaupun menurut ibu Naila, nasihatnya itu lebih kepada intimidasi. Naila dianggap tidak mematuhi perintah orang tua. Mereka bilang Naila tidak bersyukur. Sekolah tahfidznya yang dulu itu dipandang sebelah mata oleh pakde dan om Naila. Karena di sekolah itu tidak diajarkan pelajaran umum kecuali hanya 4 mata pelajaran saja yang akan diujikan di UN (Ujian Nasional).

Orang tua Naila ikut pula disalahkan, “Kasihan anak seusia itu diharuskan menghafal, sampai-sampai si anak kurus kering,” begitu kata mereka. Keluarga ibu Naila memang tidak setuju dengan pilihan Naila yang ingin sekolah tahfidz. Mereka beranggapan orang tua Naila terlalu memaksakan anak, padahal orang tuanya sendiri bukanlah seorang hafidz dan hafidzah.

Naila hanya diam mendengar kata-kata pedas yang dilontarkan oleh pakde dan omnya. Tekadnya tetap bulat, meski ditentang oleh pakde dan omnya sedemikian rupa. Ia hanya berujar lirih, “Besok Naila ga mau sekolah kalau ga di sekolah yang lama”. Dengan berlinang air mata, Naila berkata hati-hati pada ibunya.

“Ibu, aku mau sekolah di sekolahku yang dulu lagi. Aku ga mau di sekolah baru. Aku nanti tidur di pondok saja sama ustadzah ga papa. Ibu di sini merawat mbah kakung, kasihan mbah kakung masih sakit. Boleh ya, Bu? Aku kangen sekolahku. Aku kangen teman-temanku. Aku kangen ustadz dan ustadzahku. Aku kangen mabit (menginap) bareng mereka. Aku masih ingin tasmi‘ 5 juz sekali duduk. Boleh ya, Bu?” Naila berucap lirih. Tanpa rengekan. Tanpa teriakan. Hanya matanya yang basah.

Akhirnya Naila kembali ke sekolahnya yang dulu. Orang tuanya menghubungi pondok pesantren tahfizh untuk Naila menginap sepulang sekolah. Karena memang, sebenarnya sekolah Naila yang lama itu bukanlah pondok pesantren. Alhamdulillah disetujui. Padahal yang mondok di sana, semuanya adalah mahasantri. Hanya Naila yang masih SD.

Naila senang bukan kepalang bisa kembali ke sekolahnya lagi. Dengan riang ia menyiapkan segala keperluannya. Naila pamit ke sekolah barunya, alhamdulillah kepala sekolah bisa mengerti dan mengembalikan uang masuk sekolahnya. Naila juga pamit pada kakeknya. Kakeknya terlihat sedih, tapi akhirnya dengan berat hati beliau mengizinkan. Naila diantar ayahnya ke pondok dan langsung masuk sekolah. Sorenya, orang tua Naila mendapat kabar dari ustadzah bahwa setoran ziyadah Naila mumtaz hari itu. Sebuah pembuktian bahwa keinginannya sangatlah kuat untuk menghafal.

Naila juga sempat menginap di rumah beberapa temannya, sebelum di pondok. Karena saat itu di pondok sedang berlangsung dauroh tahfidz nasional 50 hari. Ketua yayasan khawatir kalau kehadiran Naila akan mengganggu kesibukan ustadzah yang sedang mengurus dauroh. Naila boleh ke pondok setelah dauroh selesai. Tapi ustadzah justru sangat menantikan kehadiran Naila. Ustadzah tidak merasa keberatan karena menurut ustadzah, Naila adalah anak yang mandiri. Berkat argumentasi ustadzah kepada ketua yayasan, Naila pun akhirnya bisa diterima di pondok tanpa menunggu dauroh selesai.

Ghiroh menghafal Al Qur’an sudah tertanam kuat dalam hati Naila. Ia rela walaupun harus berpisah jauh dari orang tuanya, harus terlebih dahulu berpindah-pindah menginap demi di sekolah tahfizh pilihannya.

Usianya masih 9 tahun, memilih mondok karena kecintaannya pada Al Qur’an. MasyaAllah, gerimis hati ini dibuatnya.

Teman-teman yang mendengar kisah itupun turut terharu. Sebagian ada yang bertanya pada ibu Naila, cara mendidik Naila hingga bisa cinta menghafal seperti itu. Jawaban ibu Naila sungguh menyentak hatiku, “Saya orang awam, baca Al Qur’an masih sekedarnya. Tapi saya ga mau jadi orang tua yang jarkoni, bisanya cuma ngajarin tapi ga mau nglakoni. Jadi saya ikut menghafal, meski susah sekali tapi saya terus mencoba. Supaya anak-anak melihat orang tuanya pun senang menghafal”.

Ya Rabb, sekali lagi saya merasa telah dijewer oleh Naila dan ibunya. Betapa sering saya lalai. Betapa sering saya patah semangat ketika menghafal. Betapa banyak waktu terbuang sia-sia tanpa satu ayatpun dapat dihafal. Bagaimana mungkin cita-cita ingin memiliki anak-anak yang cinta Al Qur’an akan terwujud, kalau orang tuanya saja jauh dari Al Qur’an?

Terima kasih Naila. Terima kasih ibu Naila. Semoga ghirohnya menular pada saya dan orang tua lainnya. Hingga nanti semakin banyak bermunculan Naila-Naila berkarakter Al Qur’an.

 

Zahwah abida

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.