Frasa Agama Hilang, Negeri Makin Sekuler

0 163

Oleh: Ika Mawarningtyas, S.Pd.

(Analis Muslimah Voice)

 

Kiblatmuslimah.com – Publik kembali dibuat heboh. Pasalnya, frasa agama dalam draf Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 hilang. Hal tersebut langsung menuai kritik dari berbagai kalangan, terutama dari umat Islam.

 

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan dalam laman web Muhammadiyah (7/3/2021), “Merupakan bentuk melawan konstitusi, sebab merunut pada hirarki hukum, produk turunan kebijakan seperti Peta Jalan Pendidikan tidak boleh menyelisihi peraturan di atasnya, yaitu Peraturan Pemerintah, UU Sisdiknas, UUD 1945 dan puncaknya adalah Pancasila.”

 

Banyaknya kritikan dan kecaman kepada Kemendikbud Nadiem Makarim langsung ditanggapi. “Kemendikbud menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas masukan dan atensi berbagai kalangan bahwa kata ‘agama’ perlu ditulis secara eksplisit untuk memperkuat tujuan Peta Jalan tersebut. Jadi, kami akan pastikan bahwa kata ini akan termuat pada revisi Peta Jalan Pendidikan selanjutnya,” ujar Nadiem lewat akun Instagram @nadiemmakarim  (10/3/2021).

 

Sungguh ironis, jika negeri yang katanya berketuhanan yang Maha Esa menghapus frasa agama. Seharusnya pemerintah memikirkan cara mencetak generasi yang memiliki kepribadian unggul, bukan malah mengotak-atik frasa agama. Bukankah potret generasi sekarang sudah cukup menyedihkan?

 

Jika kita membuka sosial media, baik Instagram, Facebook, Twitter, dan lain-lain, banyak unggahan remaja saat ini yang tidak berfaidah, bahkan cenderung bermaksiat. Mulai dari goyang-goyang ala Tiktok yang mengeksploitasi aurat mereka, hingga unggahan-unggahan konten hiburan yang tidak mendidik.

 

Lihat saja para remaja yang kelewat gandrung kepada artis Korea. Tak hanya mengagumi, tapi mereka ikuti. Mengapa ini tidak diperhatikan oleh pemerintah, terutama Kemendikbud? Belum lagi para remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas hingga terancam virus LGBT.

 

Justru pemerintah seharusnya menguatkan akidah peserta didik dengan menambah porsi kajian agama di sekolah. Dengan kuatnya akidah peserta didik, akan membantu pengontrolan diri saat melakukan segala aktivitas.

 

Anehnya, di sistem yang semakin sekuler radikal ini, peserta didik yang terlihat taat dan suka menghadiri kajian tak luput dari stigma radikal ataupun ekstrim. Nah, bagaimana mungkin akan terlahir generasi beriman dan bertakwa, jika sistemnya tak mendukung untuk taat?

 

Oleh karena itu, umat Islam menagih janji Nadiem untuk memasukkan kembali frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional dan komitmennya dalam mencetak generasi unggul.

 

Sungguh, tidak mungkin tercipta generasi unggul jika pendidikan di negeri ini tidak menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai pondasi pendidikan. Jangan sampai paham sekuler radikal semakin merusak generasi bangsa. Akan dibawa ke mana negeri ini jika generasinya rusak

Leave A Reply

Your email address will not be published.